Kalageni masih tersungkur tepat di hadapan Brojoseno, setelah takluk menghadapi Mahesa Wulung. Hal ini tentu membuat Brojoseno merasa sangat murka, karena pendekar yang digadang-gadang bisa melindungi dirinya, justru menjadi pesakitan yang memalukan. Kini matanya beralih ke Bagas Jayanata yang masih berdiri dengan perasaan gelisah. Bagaimana tidak? Kalageni yang ia anggap sebagai gurunya saja seolah tak berdaya menghadapi Mahesa Wulung, apalagi dirinya. “Kau tunggu apa lagi? Serang manusia bertopeng itu!” perintah Brojoseno. Bagas Jayanata agak ragu-ragu untuk menyerang, tetapi kemudian ia genapkan semua nyalinya untuk merangsak maju dengan kipas-kipas yang melesat tajam menukik ke arah Mahesa Wulung. Namun, tentu saja pendekar bertopeng itu tak gentar. Ia bisa meliukkan tubuhnya, menghi

