Bab 10 Sosok Penarik Pedati

1510 Kata
Derasnya air hujan yang turun dari langit tak menyurutkan langkah Panji Panuluh. Dalam pelukan malam dan rinai hujan yang terus mengguyur, laki-laki kecil itu terus melangkah tergesa menyusur jalan setapak yang membelah kampung yang sepi. Tak ada sosok manusia yang bersua, bahkan binatang malam pun enggan menampakkan diri.Hanya suara kodok yang bernyanyi riang, menyambut guyuran air dari angkasa. Hari hujan begini, lebih nyaman digunakan untuk berdiam di dalam kediaman masing-masing. Panji Panuluh sebenarnya merasakan beku yang luar biasa di sekujur tubuh. Ia merasakan aliran darahnya yang seolah melambat. Tulang-tulangnya terasa mati rasa. Belum lagi, deru angin bercampur air yang menampar-nampar mukanya. Yang ia khawatirkan saat ini adalah buntalan berisi kitab yang ia bawa. Mungkin air akan meluluh-lantakkan bagian terpenting dari isi kitab ini. “Sepertinya aku harus berteduh,” gumamnya dalam hati. Ia berhenti sejenak di ujung jalan setapak. Tak ada rumah di sekitar situ, hanya deretan pohon yang berjajar tak teratur, dan terlihat menyeramkan. Semua tampak menghitam, tak ada nyala lampu minyak atau apa pun yang bisa digunakan sebagai penerangan. Ia berharap agar menemukan tempat sementara untuk sekedar mengeringkan bajunya. Belum lagi ia menemukan tempat layak untuk berteduh, sayup-sayup ia melihat sesosok manusia berjalan di kejauhan. Panji Panuluh tak dapat melihat jelas rupa sosok manusia itu, karena ia mengenakan capil lebar, sehingga sebagian mukanya tertutup. Sosok bercapil itu berjalan tertatih di bawah derasnya hujan dengan menarik sebuah pedati kayu. Panji Panuluh bertanya dalam hati, siapa gerangan malam-malam begini, berjalan di bawah deras hujan sambil menarik pedati? Panji Panuluh tak mau mengambil risiko. Ia beringsut ke sebuah semak yang rimbun yang terletak di bawah naungan pohon beringin besar di sisi jalan setapak, menunggu sosok itu lewat. Langkah sosok bercapil lebar itu terseok saat melewati jalan setapak. Suara derit roda pedati itu menjerit-jerit, membuat perasaan menjadi kecut. Di dalam pedati itu seperti ada sesuatu yang sedang ditutupi dengan kain. Panji tak dapat memastikan apa yang ada di balik selubung kain yang menutupi pedati. Tiba-tiba, sosok itu menghentikan langkahnya. Parasnya terlihat bingung dan gugup. Ia membuka selubung kain yang menutup pedati, seraya berkata,” Sabarlah dulu. Kita aka sampai di Kotaraja esok hari.” Kotaraja? Panji Panuluh berpikir bahwa Kotaraja yang dimaksud sosok itu masih sangat jauh, tidak mungkin ditempuh dalam waktu sehari perjalanan. Panji semakin penasaran dengan apa atau siapa yang berada dalam pedati. Blaar! Tiba-tiba alam terang-benderang terlecut kilat. Dalam gelapnya malam, Panji dapat melihat sosok perempuan sedang duduk lemah di atas pedati. Tidak jelas terlihat kondisi perempuan itu. Yang jelas, Panji dapat melihat rambutnya tergerai panjang, riap-riapan, tanpa penghias kepala. Mungkinkah perempuan ini sedang sakit? Panji Panuluh tidak dapat melihat dengan jelas wajah si perempuan. Paras pria yang menarik pedati juga tak begitu terlihat, namun dari gerak-geriknya tergambar kegelisahan yang teramat sangat. Tubuhnya yang gempal, terbalut pakaian serba hitam,  terlihat basah oleh air hujan. Sesaat ia berdiri mematung menatap sosok perempuan yang berada di dalam pedati. Tak lama ia terlihat panik saat perempuan di dalam pedati diam tak bergerak. “Surtini ... Surtini! Jangan mati! Jangan mati dulu!” Sontak pria itu memegangi tubuh perempuan yang terkulai lemas di dalam pedati. Panji merasa iba. Bagaimanapun, ia adalah seorang manusia yang masih mempunyai perasaan. Wanita dalam pedati itu terlihat menderita. Namun, ia juga bingung, karena ia hanya seorang bocah kecil. Apa yang bisa dilakukan bocah kecil seperti dirinya? Bahkan gumpalan raga yang membalut dirinya kini pun terasa remuk. Tulangnya seolah terlepas dari persendian. Kakinya terasa sangat penat, bercampur dengan perihnya lambung tiada terkira.  Pria bercapil itu melolong di tengah guyuran hujan di ujung kampung, tetapi tak seorang pun yang datang menolong. Apalah artinya lolongan seorang pria di malam buta seperti ini dibanding nyawa yang dipertaruhkan? Suara pria itu hilang tergerus suara geluduk yang sambung-menyambung di ujung langit. Ia memeluk tubuh si perempuan dengan penuh ratapan. Rasa iba mengaduk-aduk perasaan Panji. Bocah kecil itu pernah merasakan bagaimana kehilangan seseorang yang dicintai dalam hidupnya. Bayangan  Nyi Rumbini, biyung yang sangat dicintainya perlahan mulai menari di pelupuk mata. Ia harus keluar untuk menolong pria itu. Tidak mungkin ia berdiam diri di kondisi seperti ini. “Paman!” Pada akhirnya, Panji menampakkan diri dari balik semak. Pria itu seolah tak menggubris kehadiran Panji. Ia masih meratapi perempuan yang sedang dalam pelukannya. Kini Panji dapat melihat sosok perempuan yang masih muda itu, tampak pucat, diam tak bergerak, entah masih bernyawa atau tidak. Bibir wanita itu tampak memutih karena kedinginan, matanya terpejam. “Aku ... aku akan carikan bantuan untuk Paman! Tak jauh dari sini ada rumah kepala kampung. Saya ... saya akan meminta bantuan,” ucap Panji takut-takut. Pria itu mendongakkan kepala sambil menggeleng. Ia menatap kosong ke arah Panji sambil bergumam,”Terlambat! Semua telah terlambat. Surtini sudah mati. Istriku sudah mati. Alam memang tidak adil. Nyawa istriku telah direnggut. Ini sungguh tidak adil!” Untuk sesaat, Panji merasa bingung harus berbuat apa. Ia hanya bisa berdiri menatap pria yang memeluk istrinya dengan penuh rasa iba. Sebenarnya ia ingin menolong, dengan memanggil siapa saja yang bisa ia temui di kampung itu, tetapi ia urung melakukan itu. “Wabah penyakit j*****m itu telah merenggut nyawa Surtini! Kini biarlah aku menyusulmu, Surtini. Sudah tak berguna lagi hidupku tanpa dirimu!” Tiba-tiba pria bercapil itu mengeluarkan sebilah pedang yang berkilauan dari balik bajunya. Rahangnya bergemertak menahan segala kesedihan. Ia angkat pedang itu tinggi-tinggi sambil berkata lantang,”Wahai alam! Terimalah kematian kami! Terimalah persembahan kami dan hentikan wabah terkutuk ini! Darahku akan membasahi tanah jiwaku akan kupersembahkan buatmu! Hapuslah penderitaan berkepanjangan ini!” “Jangan Paman! Jangan lakukan itu!” Panji mulai panik. Sontak Panji segera mencegah apa yang hendak dilakukan pria itu. Ia bergerak mendekatinya, sambil memegang tangan si pria yang siap menancapkan pedang ke dadanya. “Aku Wirapati! Tak takut mati! Pergi kamu bocah kecil! Tak perlu kau hiraukan aku!” Mata pria bertubuh gempal itu menatap tajam ke arah Panji. Tatapan kesedihan itu seolah berubah menjadi tatapan penuh amarah, menyala berkilat-kilat berwarna merah. Panji mundur beberapa langkah. Ia menyadari bahwa pria yang sedang berada di hadapannya itu bukanlah pria biasa. Panji dapat merasakan  kekuatan tenaga dalam yang menyelubungi tubuh pria itu. Ia juga sadar bahwa semua yang baru saja dilihatnya adalah perangkap belaka. Dan kini. ia telah masuk ke dalam perangkap dengan mudah! “Pa-Paman .... “ bisik Panji. Wuut! Tiba-tiba, gerakan tangan pria itu secepat kilat mencengkeram leher Panji dengan erat, sehingga bocah itu seolah kehilangan napasnya. Ia berusaha meronta, tetapi cekikan pria itu terasa begitu kuat. Perlahan tubuh Panji terangkat ke udara. Dalam waktu bersamaan, tiba-tiba perempuan muda yang terbaring lemah di atas pedati juga mulai membuka mata, seraya tersenyum sinis. Ia bangkit, melangkah mendekat. “Ucapkan selamat tinggal, Bocah! Mungkin malam ini adalah malam terakhirmu melihat dunia. Kami akan segera menghabisimu. Kami tahu kau tengah membawa sesuatu yang berharga di balik buntalan itu. Harusnya kau tidak berjalan sendirian di belantara yang kejam ini. Kebodohan akan membinasakanmu malam ini!” ucap perempuan dari dalam pedati. Perempuan itu tersenyum, menampakkan parasnya yang bengis. Ia menarik buntalan yang dibawa Panji dengan gerakan cepat, sehingga buntalan itu kini beralih ke tangan perempuan. Segera diperiksanya isi buntalan, tetapi ia hanya mendapati botol minuman dan sedikit bekal makanan. Paras perempuan itu berubah penuh amarah. Matanya yang bulat melebar, seolah hendak meloncat dari kelopaknya. “Heh! Di mana kau simpan kitab itu! Di mana!” gertak si perempuan. Panji hanya menggeleng, sementara cekikan tangan si pria terasa makin kuat mencengkeram leher. Ia tak bisa bersuara, ataupun menggerakan lidah. Ia hanya bisa terdiam melihat kemarahan si perempuan yang mulai tersulut. “Coba kau periksa di balik bajunya, Kalagendis!” Perintah pria gempal bercapil lebar itu. Panji Panuluh kini menyadari bahwa yang ia hadapi sekarang ini adalah Kalageni dan Kalagendis, begundal-begundal tengik yang sering menimbulkan kekacauan di kampung-kampung. Kemarin, Kalasoka, salah satu pentolan begundal itu ditemukan tewas dalam karung dalam keadaan kepala hancur. Kini, tersisa dua pentolan lain yang tak kalah bengis. Rupanya hal ini yang ditakutkan warga kampung, bahwa kedua komplotan ini akan kembali berbuat onar. Kalagendis segera memeriksa sekujur tubuh Panji, tetapi ia tak menemukan apa pun di sana. Perempuan itu semakin gusar. Ia merutuk sejadi-jadinya. Matanya menatap tajam ke arah Panji sembari menunjuk. “Bunuh saja bocah tak berguna ini! Kitab itu tidak ada padanya, entah di mana!” pekik Kalagendis. “Pasti dia telah menyembunyikan di suatu tempat! Katakan atau kubunuh kau perlahan atau kau tunjukkan di mana kau menyembunyikan kitab itu!” ancam Kalageni sambil memperkuat cengkeramannya. Panji merasakan urat lehernya seolah putus karena kuatnya cengkeraman itu. Mata Kalageni memancar menyilaukan seolah api yang siap menghanguskan tubuhnya. Panji merasakan tubuhnya seperti meleleh. Tatapan Kalageni begitu menyilaukan, sehingga Panji harus memejamkan mata. “Sebentar lagi kau akan mampu*s!” gumam Kalageni sambil menyeringai. Panji merasa pasrah. Kalaupun ia harus mati malam itu, paling tidak kitab tidak jatuh ke tangan mereka. Ia merasakan panas di sekujur tubuhnya, tetapi bahkan untuk meronta pun ia tidak bisa. Andai ia menguasai ilmu pertahanan diri sejak awal, tentu paling tidak ia bisa berusaha melawan. Namun, kini ia hanya bisa pasrah menunggu ajal. Blaaar! Seiring dengan kilat yang menyambar di angkasa, tiba-tiba pedati meledak berkeping-keping ketika selarik sinar berwarna biru menghantam! ***            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN