Kumbara masih terdiam seribu bahasa sembari berdiri di depan Arya Balawa yang duduk diam di atas batu. Telah jelas apa yang dikatakan Arya Balawa mengenai rencana busuk yang harus ia jalani. Sejujurnya ia masih sangat bimbang, apakah dia harus menjalankan rencana itu atau tidak? Di sisi lain ia berhutang budi pada Arya Balawa karena pendekar itu sering melindungi dari bahaya ketika ia masih kanak-kanak. Sedang di sisi lainnya, ia telah menganggap Raja Telapak Iblis sebagai orang tua sendiri, karena sejak kecil ia diasuh dan dididik, serta mendapat perlakuan sama dengan Mahalini. “Kutegaskan sekali lagi. Kau bisa melaksanakan itu kan?” tanya Arya Balawa. Kumbara tak berani menjawab, hanya mewakili jawaban dengan anggukan lemah. Arya Balawa tahu, kalau Kumbara saat ini sedang merasa ragu-r

