Jauh di ujung timur Tanah Jawa, di tengah lebatnya Alas Purwo, di sebuah hamparan luas yang diapit perbukitan, berdiri sebuah bangunan besar yang cukup megah, dilengkapi dengan pendopo yang lapang, sehingga mirip sebuah pusat kadipaten. Bedanya, letak bangunan ini cukup tersembunyi, dibalik pepohonan dan lembah, sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk tempat ini. Selain itu, bangunan ini mempunyai gapura besar yang dijaga pria-pria besar berpakaian hitam yang bersenjatakan tombak dan pedang-pedang besar.
Tempat ini adalah Padepokan Tapak Seta*n, yang sebenarnya sudah berdiri selama puluhan tahun lampau. Dikuasai turun-temurun, dan sekarang pedepokan itu dihuni oleh beberapa tokoh dedengkot dunia persilatan. Yang paling berpengaruh di sana adalah Raja Telapak Iblis, seorang pria kekar dan besar dengan rambut kelabu keperakan, berjubah merah, dan berparas angker. Ia dipercaya menjadi ketua Padepokan Tapak Set*an, karena kedalaman ilmunya yang sangat mumpuni. Ia dikenal dengan Pukulan Telapak Iblis yang berbahaya dan luar biasa mematikan. Nyaris tak ada seorang pendekar pun yang bisa menangkis serangan berbahaya ini. Pukulan ini akan bergerak secepat kilat, mencengkeram seluruh tubuh, dan merontokkan seluruh tulang, serta melelehkan daging.
Huru-hara mengenai perebutan Kitab Wasiat Iblis di belahan lain Tanah Jawa cukup menggelitik hatinya. Saat ini, Raja Telapak Iblis tengah minum-minum ditemani dua orang karibnya, yakni Cakar Baja dan Cakar Besi. Kedua pendekar aliran hitam ini sama-sama dikenal karena senjata rahasianya yang berupa cakar-cakar yang mampu merobek-robek tubuh lawannya. Keduanya lebih dikenal sebagai Sepasang Cakar Hantu. Di sebut Cakar Hantu, karena kemunculan mereka berdua tak dapat diduga dan diam-diam, sehingga sulit untuk diwaspadai. Sudah lama mereka mengabdikan diri pada Raja Telapak Iblis, menumpang ketenaran dan mendapat perlindungan.
Sementara di pelukan Raja Telapak Iblis, juga terlihat seorang gadis muda yang berkulit putih, dengan tubuh yang sintal, hanya berbalut kemben warna hitam. Rambutnya yang tersanggul tak rapi, terselin bungan kamboja berwarna merah muda, menambah keelokan parasnya. Berkali-kali, Raja Telapak Iblis menciumi kening gadis itu dengan penuh naf*su.
Raja Telapak Iblis mengambil sebuah kendi tanah liat yang berisi arak, kemudian menyumpalkan ke mulutnya hingga tumpah membasahi baju. Matanya memerah bak saga, disertai paras yang tampak gusar.
“Jadi si Pendekar Tanpa Nama itu sudah menemui ajalnya? Itu berita bagus. Berkurang satu kekhawatiran kita. Maka kita akan segera menebar ketakutan di seluruh pelosok Tanah Jawa ini, sehingga banyak orang yang akan menjadi pengikut kita. Raja-raja yang berkuasa akan takluk, dan menyetorkan segala rupa upeti kepada kita. Mimpi untuk menjadikan Tanah Jawa ini sebagai dinasti baru akan segera terwujud!”
Raja Telapak Iblis berkata sambil menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang berwarna perak. Ucapan Raja Telapak Setan segera disetujui oleh Cakar Baja dan Cakar Besi. Kedua pria kekar dan berewokan itu terkekeh-kekeh sambil menuang isi kendi ke dalam gelas-gelas bambunya.
“Tapi aku tetap risau, Ketua!” ucap Cakar Besi kemudian.
“Hmm, apa gerangan yang merisaukanmu?” tanya Telapak Iblis sambil membelalakan mata.
“Kitab Wasiat Iblis itu sampai saat ini masih raib entah kemana. Desas-desus mengatakan bahwa kitab itu dibawa oleh seorang bocah yang tak dikenal dari Kampung Ringin Sewu. Aku khawatir, kitab itu akan dikuasai oleh orang-orang golongan putih yang akan membalikkan keadaan kita!”
Mendengar ucapan Cakar Besi, Telapak Setan hanya manggut-manggut seraya berkata,” Kalian tak perlu risau akan hal itu. Menurut pesan yang disampaikan oleh Jalak Hitam, Arya Balawa tengah memburu keberadaan bocah itu. Dan kita sudah pasti yakin, Arya Balawa tak mungkin gagal menghadapi seorang bocah ingusan!”
“Tapi Ketua ... kita tidak boleh senang dulu. Kabarnya Gerombolan Jalak Lembah Hantu telah dibuat kocar-kacir oleh munculnya seorang pendekar wanita berselendang merah. Aku menduga, komplotan mereka tak akan tinggal diam. Ki Lodaya memmpunyai beberapa murid yang sangat mumpuni. Pasti mereka juga berusaha mengamankan keberadaan kitab itu,” sambung Cakar Baja.
“Seorang wanita? Itu perkara gampang! Menaklukkan wanita adalah keahlianku. Jadi serahkan saja semua kepadaku! Kalau perlu aku akan temui wanita itu. Menghadapi wanita tak perlu kekerasan, harus lembut dan penuh pehatian. Bukan begitu Rarasati?”
Raja Telapak Iblis menoleh ke arah gadis yang ada di pelukannya sembari mengerlingkan mata. Si gadis yang bernama Rarasati hanya tersenyum nakal, sambil mencubit pipi Raja Telapak Iblis. Usia Rarasati terbilang masih belia. Sejak belasa tahun ia sudah dirayu oleh Raja Telapak Iblis untuk diboyong ke padepokan. Kini, Rarasati tumbuh menjadi wanita muda yang sangat menawan, pujaan hati Raja Telapak Iblis di kala senggang.
Sementara dari dalam ruangan dalam, tiba-tiba muncul seorang perempuan anggun yang berpakaian bak seorang ratu, dengan busana kebesaran yang kemilau berwarna biru tua, dan perhiasan-perhiasan yang bergelantungan di sekujur tubuh. Selain itu, di kepalanya juga dihiasi mahkota berkilau. Parasnya terlihat cantik, tetapi menyimpan kelicikan yang tersembunyi. Usianya masih sangat muda, mungkin belasan tahun, tetapi karena ia terbiasa bergaul dengan lingkungan yang keras, ia terlihat lebih dewasa daru umur aslinya.
“Aku cemburu, wahai Ayahanda!”
Gadis muda bermahkota itu tiba-tiba bermuka masam, seperti merajuk. Ia duduk di samping Raja Telapak Setan, seraya menggamit lengan pendekar sakti itu.
“Kau cemburu pada Rarasati, Mahalini?. Hmm, sungguh Rarasati bukanlah bandinganmu, putriku. Kau adalah wanita terhormat yang aku sayangi. Tak ada seorang pun yang dapat menggantikanmu,” ucap Raja Telapak Iblis.
Namun, gadis bermahkota yang dipanggil dengan nama Mahalini itu masih terlihat merajuk. Raja Telapak Setan segera merengkuh Mahalini ke dalam pelukannya, seraya berbisik pada Rarasati,”Kau ke belakang saja, Rarasati!”
Rarasati, si gadis belia itu, hanya menganggukan kepala dengan takzim. Dibanding dengan Mahalini, jelas dia memang bukan apa-apa. Secara derajat mungkin berbeda jauh. Ia tak berani membantah sepatah kata pun ucapan yang keluar dari mulut Raja Telapak Setan. Ia beringsut mundur, berjalan dengan takut-takut, menuju ke dalam pendopo agung, walau sebenarnya hatinya merasa sakit mendapat perlakuan itu.
Acara minum arak itu segera berakhir, karena Mahalini akan belajar memanah dan berkuda. Raja Telapak Iblis akan mengantar putrinya menemui Ki Renggo Bergowo, seorang pendekar sakti ahli memanah dan berkuda. Ki Renggo Bergowo diketahui menetap tak jauh dari Alas Purwo, di sebuah lembah yang sunyi dan tersembunyi di balik bukit. Raja Tapak Setan ingin agar Mahalini kelak menjadi seorang pendekar wanita yang disegani, sehingga akan tampil berjaya di Pagelaran Adu Tanding yang digelar setiap purnama kesepuluh.
Sejak usia lima tahun, tangan lentik Mahalini sudah terbiasa menarik busur panah, ikut sang ayahanda berburu rusa di hutan, atau kadangkala berlatih bermain pedang. Namun, bagaimanapun Mahalini tetaplah seorang gadis manja yang lembut. Sejak kecil, ia hanya mengenal sang Ayah, tak sekali pun ia bertemu dengan ibunya. Pernah suatu ketika Mahalini menanyakan hal itu pada ayahnya, tetapi sang ayah memilih untuk merahasiakan hal itu pada Mahalini.
“Kelak aku akan menceritakan semua sejarah keluarga kita padamu. Bukan sekarang!”
Ayah dan anak perempuannya itu berjalan menyusur hutan lebat, menerobos belukar dan akar-akar sulur yang membelit. Suara kicau burung dan teriakan binatang hutan terdengar sahut-menyahut di kejauhan. Sinar matahari seolah tak sampai ke dasar hutan karena rapatnya pepohonan.
“Mengapa aku tidak diizinkan keluar dari hutan ini, Ayah?” tanya Mahalini tiba-tiba.
Raja Telapak Setan menggeleng seraya berkata,”Ini bukan saat yang tepat, Mahalini. Nanti akan tiba masamu untuk menguasai dunia. Kau masih terlalu ingusan menghadapi kejamnya dunia. Hutan ini adalah rumah teraman bagimu. Kau tak perlu khawatir. Semua yang kau butuhkan ada di sini. Tak perlu kau risaukan akan hal itu!”
Mahalini tak berani bertanya lebih lanjut. Hutan yang mereka susuri semakin lebat dan gelap, bahkan terlihat nyaris tak pernah terjamah manusia. Dalam hati, Mahalini sebenarnya ingin berpetualang mengarungi dunia di luar sana. Sayangnya, sang ayah melarang keras untuk keluar dari hutan. Ia hanya bersabar menunggu saat yang tepat.
Jleb!
“Ayah awas!” pekik Mahalini tertahan.
Tiba-tiba sekelebat anak panah melesat, menancap di sebuah batang pohon besar, hampir saja mengenai Raja Telapak Iblis. Sontak pendekar itu bersikap waspada, dan mengisyaratkan agar Mahalini tetap tenang dan diam. Sepasang matanya melirik ke kiri dan kanan. Instingnya mengatakan bahwa ada seseorang berada tak cukup jauh dari tempat mereka berada. Lingkungan hutan telah mengasah naluri Raja Telapak Setan menjadi lebih peka terhadap perubahan di sekitarnya.
Mahalini merasa tegang. Ia juga bersiap dengan busurnya, kalau-kalau ada serangan mendadak dari arah yang tak diduga-duga. Nalurinya juga mengatakan kalau ada seseorang yang sedang mengintai, atau bahkan sedang mengancam keselamatan mereka. Suasana mencekam, mereka menunggu apa yang selanjutnya akan berlaku.
Tiba-tiba, mereka merasakan udara yang berdesir, disertai suara gemerisik dedaunan yang terdengar semakin mendekat. Sorot mata Raja Telapak Setan segera beralih ke aras suara gemerisik daun, sembari menyiapkan pukulan telak di telapak tangannya. Sementara tangan yang sebelah lagi menarik tubuh Mahalini di belakangnya, agar anak gadisnya itu terlindungi. Namun, suara gemerisik itu seolah menghilang bersama deru angin. Ia tak melihat siapa pun di sana!
***