23. Tamu

1178 Kata

Dinda hanya menatap kepergian putra sulungnya itu dalam diam. Dia tahu, ada yang disembunyikan Davin. Soal bagaimana putranya itu betah single, pasti ada alasan. Dinda tidak pernah menuntut Davin untuk menikah, sesiapnya saja, dan dia yakin sang putra pasti paham akan hal itu. Dia memilih menunggu, barangkali putranya mau terbuka akan rahasia yang dia simpan sendirian. Tapi nyatanya, bertahun-tahun berlalu tidak kunjung juga sang putra bercerita. Malah sibuk dengan pekerjaannya. “Mami bengong?” Rheana menyapa sang ibu yang tampak melamun di meja makan. Wanita itu menoleh lantas tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, kok,” sahutnya. “Kenapa udah bangun?” Dinda bertanya pada putrinya, sedikit heran. “Nggak bisa tidur,” jawab Rhea sambil berjalan ke arah dapur untuk membuat minuman. Dia sudah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN