Restoran hotel berbintang itu dipenuhi cahaya siang yang jatuh dari jendela besar. Tirai tipis berwarna krem membiarkan sinar matahari masuk, menciptakan suasana hangat meski udara dipenuhi ketegangan yang tidak kasat mata. Tama duduk di kursi kulit yang menghadap pintu masuk. Jasnya hitam rapi, dasinya masih terikat sempurna. Sesekali dia menatap jam tangannya. Tatapannya dingin, tanpa senyum, seolah tengah bersiap menghadapi sebuah negosiasi penting, padahal pertemuan ini lebih pribadi daripada sekadar urusan bisnis. Tak lama, Valeria muncul. Wanita itu melangkah anggun dengan gaun pastel yang mencolok, seakan ingin menunjukkan dirinya masih menjadi pusat perhatian. Senyumnya dibuat-buat ketika tiba di hadapan Tama. “Tama,” sapanya sambil menarik kursi. “Aku senang akhirnya kau bersed

