Rhea mengganti bajunya lebih dulu sebelum masak makan malam. Dia mengenakan pakaian santai dengan celana pendek selutut, kaos oblong polos berwarna abu-abu. Tama yang semula duduk di sofa dekat jendela itu menoleh, terpesona dengan kecantikan natural gadis itu. Rambutnya juga diikat asal. “Mau aku bantu?” tawar Tama sambil menghampiri Rhea yang bersiap di dapur. “Tidak perlu. Kau duduk saja menonton,” tolak Rhea. “Mana bisa begitu? Aku gampang bosan, Rhe.” Rhea menatapnya, menghela napas. “Kau bisa masak, kan?” Tama mengangguk. “Kalau begitu, kau buat satu menu, aku akan buat satu menu. Bagaimana?” Sesaat pria itu terdiam. “Oke. Boleh. Tapi kenapa sedikit?” Rhea mengangguk. Dia bergeser di pintu lemari pendingin. Ada banyak bahan masakan di sana, masih utuh, lengkap. “Aku seda

