Ciuman Tama semakin lama semakin dalam, dan sentuhannya terasa panas membakar hasrat Rhea yang larut dalam buainya. “Hhhh … Rhe, hentikan.” Tama menegur, menangkap kedua tangan Rhea yang berusaha melepaskan celana Tama. Pandangan gadis itu berkabut, pikirannya penuh oleh luka dari penghianatan. Entah sejak kapan kenangan masa itu merasuk paksa dalam pikirannya. “Kenapa?” Napas Rhea terengah, menatap Tama penuh gairah. Sekarang dia tahu bagaimana rasanya larut dalam hasrat sesat. Hanin sering kali meracuninya, tapi sejauh ini Rhea bertahan karena tidak mungkin melakukannya dengan sembarang pria, tapi kali ini dia punya kekasih. Dia menahan hasratnya bahkan saat mantan kekasihnya meminta pun dia tak dia berikan. Tapi kali ini, lain. “Kau akan menyesal,” kata Tama masih memegangi tan

