Walau ciuman itu singkat, tapi basah, dalam dan nyaris menghabiskan napas Rhea. Mereka terengah saat Tama melepaskan pagutannya dan menjauh. Lampu merah lalu lintas sudah berubah, dan Tama segera menjalankan mobilnya sambil mengatur napas. Dia bahkan terkekeh tapi Rhea mendelik padanya dengan napas yang terengah. “Sialan.” Rhea mendesis. Dia menarik tisu dari atas dasbor mobil, melap bibirnya dengen gerakan pelan. Tama tertawa kecil. Dia fokus mengemudi. “Manis. Stroberi,” katanya begitu jalanan aman tanpa kendala. “Harus banget ya lakuin itu di dalam mobil, Tam? Kalo ada yang liat, gimana? Dasar gila. Gak sabaran jadi orang,” sungat Rhea masih melap bibirnya. Tama masih tertawa. “Nggak tahan, Rhe. Kau terlalu menggoda untuk aku biarkan,” katanya santai. “Sialan.” Rhea masih mengum

