44. Sedikit Terasa

1177 Kata

Rhea menempelkan wajahnya di d**a Tama, mendengar degup jantungnya yang keras dan tidak beraturan. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan pria itu, sesuatu yang berat. Namun genggaman dan pelukan Tama seolah berkata, biarkan aku kuat lewat dirimu dulu, jangan tanyakan sekarang. Malam itu akhirnya mereka tertidur berpelukan di kasur kamar Rhea, lampu kota masih menyoroti jendela apartemen. Rhea lebih dulu terlelap, napasnya teratur di d**a Tama, sementara pria itu justru sulit memejamkan mata. Matanya menatap kosong ke langit-langit, pikirannya dipenuhi pertarungan panjang yang baru saja dia jalani. Valeria, ancaman perusahaan, dan bayangan masa lalu yang sewaktu-waktu bisa muncul kembali. Tama mengusap rambut Rhea perlahan, bibirnya menempel sebentar di puncak kepalanya. “Kalau semua

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN