Aku pikir setelah diskusi itu selesai aku dan Mas Prabu akan kembali pulang ke rumah. Namun, nyatanya tidak. Dia membawaku ke sebuah ruangan di kantor ini. Ruangannya cukup besar, kayanya ini ruangan khusus dia.
Baru saja aku masuk aroma khas tubuh Mas Prabu tercium dengan jelas. Aku mengamati ruangan ini lebih detail, sama seperti kamarnya, ruangan ini juga di d******i oleh warna abu-abu.
"Luv, sini," Mas Prabu menarik tanganku kemudian sebelah tangannya membuka knop pintu ruangan lain, ruangan yang berada di dalam ruangan ini.
"Kamar istirahat saya di kantor," ucapnya lagi.
Wah, keren banget.
Tempat kerja, tapi tersedia kamar tidur juga.
"Ayo masuk," aku masuk ke kamar itu dan Mas Prabu mengunci pintunya. Aku enggak menghiraukan itu, aku memilih untuk duduk di ranjang karena penasaran ingin merasakannya. Rasanya empuk juga, sama seperti ranjang di rumah.
"Suka warna abu-abu banget ya?" ucapku sambil menyapu pandang ke berbagai sudut, "di rumah, kamarnya d******i abu-abu, ruang kerja di rumah, ruang kerja di kantor, kamar di kantor pun warna abu-abu. Bahkan sampai pernikahan kita juga ikut abu-abu."
"Kok malah bawa-bawa pernikahan kita," Mas Prabu menarikku ke tengah ranjang lantas dia menjatuhkan kepalanya di pangkuanku. Menjadikan kedua kakiku sebagai bantalannya.
"Pijat kepala saya, Luv. Saya pusing."
Aku berdecak sebal. "Manja banget sih."
Pria itu melirik ke arahku kesal. "Nanti kalau saya manja ke perempuan lain, kamu marah enggak?"
Aku memilih tidak menjawab dengan suara, tetapi tanganku langsung bergerak di atas kepalanya. Mengusap-usap dengan penuh tenaga.
"Brutal banget sih kamu. Sakit kepala saya."
"Apanya yang brutal?"
"Pijatnya jangan brutal."
Aku bergumam sebentar sebelum akhirnya kembali bersuara. "Aku mau tanya, maksa ini tanyanya. Pokoknya harus dijawab ya," ucapku berusaha mengalihkan topik.
"Tanya apa?" tanyanya dengan mata terpejam.
"Perempuan lain pernah masuk ke kamar ini enggak? Misalnya mantan pacar Mas."
"Menurut kamu, pernah enggak?" jawabannya memutarbalikkan pertanyaanku.
"Ya enggak tahu, makanya aku tanya."
Hembusan napas berat terdengar dari mulutnya. "Mengurusi pekerjaan aja sudah pusing. Emosi terus. Tarik urat terus. Waktu saya dihabiskan untuk bekerja dan hari libur pun terkadang saya harus ke kampung."
Usapan tanganku di kepalanya berhenti. "Jadi enggak pernah?" tanyaku memperjelas.
Matanya terbuka dan kami saling berpandangan. "Enggak."
Aku mengangguk-angguk, dari nada bicaranya meyakinkan sih. Tanganku kembali mengusap kepalanya, "Jangan marah-marah terus, Mas. Tadi karyawan yang lain pada takut. Aku juga ikut takut."
"Ya harus marah-marahlah. Kalau enggak dimarahin, mereka enggak pintar-pintar. Bodoh terus. Harus ditegasin biar cepat pintar," ucapnya dengan nada bicara yang lebih tinggi.
Aku hanya bergumam.
Beberapa detik setelahnya, Mas Prabu terlelap di pangkuanku, sedangkan aku terus memperhatikan wajahnya.
Dia kalau lagi tidur, lucu. Wajahnya damai. Dengan iseng aku menyentuh kedua alisnya yang berwarna hitam pekat, alis ini menambah kesan seram dari wajahnya. Tanganku turun menyentuh hidungnya yang mancung.
Kalau aku punya anak, pasti hidung anak aku mancung. Soalnya Bapaknya mancung.
Eh, ya ampun. Kenapa jadi membayangkan anak. Kan enggak mungkin juga. Niat aku menikah sama dia hanya sampai dapat gelar sarjana setelah itu kami bercerai.
Tanganku yang iseng kembali menyentuh bagian dari wajahnya. Kali ini aku menyentuh bibirnya yang tipis dan berwarna pink. Padahal bibirnya indah loh, tapi sering kali kata-kata menyakitkan keluar dari bibir tipis ini.
"Luvita," aku buru-buru menjauhkan tanganku dari bibirnya, "nanti kalau kamu tidur, gantian saya yang sentuh-sentuh wajah kamu."
"Enggak kok, aku enggak sentuh-sentuh," ucapku membela.
"Kok malu padahal sudah tertangkap basah?"
Ya malu lah. Masa pakai ditanya.
"Tenang aja. Sentuh-sentuh mah enggak apa-apa. Saya kan juga suami kamu."
"Iya. Tidur lagi ya," ucapku lalu mengusap-usap kelopak matanya.
Mending dia tidur aja dah, kalau bangun ribet. Kayanya hobinya cuma dua yaitu ngomel dan ngegodain aku.
"Luvita," dia berbicara dengan mata yang tertutup, "jangan nyentuh-nyentuh pria lain ya. Sentuh saya aja."
Dih, apaan.
Pengen banget aku sentuh kayanya.
Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a.
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Terdiri dari:
Full E-book (Lengkap)
Part Ke-1 sampai Part Ke-55 (Ending)
Total 55 Part ; 215 Halaman
Hanya dengan Rp46.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu.
Cara Pembelian:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Get A Cruel Husband? _ TheDarkNight_)
3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp46.000.
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)