Saat tiba di lorong kampus kecepatan langkahku mendadak pelan dan senyumanku langsung terukir saat mataku berpapasan dengan teman-teman.
"Pagi, Luvita."
"Pagi, Lin."
"Halo, Luv"
"Halo, Brim."
"Hai, Hai."
"Hai," balasku untuk kesekian kalinya.
Ya, beginilah pergaulan di kampus. Baru saja melewati lorong pertama sudah banyak yang mengenalku. Maklum, temanku dimana-mana, tersebar hampir disetiap fakultas.
Tanganku seketika melayang diudara saat mataku berpapasan dengan Andro. "Dro!" pria itu tersenyum kecil lantas dia berjalan mendekatiku, "langsung ke ruang Pak Bale aja ya?"
"Iya." Dia merangkul pundakku lantas kami bersama-sama menuju ruangan Pak Bale. Begitu sampai di sana, kami berdua dipersilahkan untuk duduk kemudian obrolan pun dimulai.
Jadi begini, semalam aku dan Andro dihubungi oleh Pak Bale untuk datang ke ruangannya. Pak Bale ini adalah dosen pembimbing akademikku jadi aku pikir pertemuan kami hari ini akan membahas tentang urusan perkuliahan. Namun, ternyata aku salah. Pak Bale mengajak aku dan Andro untuk terlibat dalam penelitiannya.
"Pengambilan data diadakan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung. Nanti kita turun ke lapangan. Enggak lama, kira-kira sepuluh hari."
Sebenarnya ini kesempatan emas banget, dari sekian banyak mahasiswa aku dipilih oleh Pak Bale untuk menjadi anggota tim penelitiannya. Kalau saja aku belum terikat pernikahan dengan Mas Prabu, pasti aku akan menyetujuinya tanpa pikir panjang. Namun jika keadaannya sudah begini, mau tidak mau aku harus meminta izin kepada Om-om galak itu. Kalau tidak, sudah dapat dipastikan aku akan mendapatkan sorot mata tajam dan kata-kata kasarnya.
Andro menyikut lenganku. "Gimana, wey? Gas enggak?" bisiknya pelan.
"Untuk akomodasinya nanti dibiayai. Kalian hanya perlu ikut saja."
Aku mengubah posisi dudukku menjadi lebih tegak. "Begini, Pak. Boleh enggak kalau aku berikan kabarnya nanti malam?" aku tersenyum getir, "aku perlu izin orang tua, Pak."
"Lah, aneh. Waktu itu dua minggu jalan-jalan ke Bali tanpa izin orang tua bisa," bisik Andro lagi.
Aku diam saja, memilih tidak menggubris ucapan Andro.
"Iya, boleh. Nanti japri saya ya."
Aku mengangguk kemudian setelah itu aku dan Andro keluar dari ruangannya. "Gue ke gedung B dulu ya? Mau ketemu kawan."
"Oke," ucapku lantas kami berdua berjalan ke arah yang berbeda.
Sekarang masih jam dua siang, malas banget kalau harus pulang. Jadi, aku memilih untuk berkumpul di sekretariat himpunan fakultasku. Begitu aku masuk ke sekre ada sekitar tujuh orang di sana, lima pria dan dua perempuan. "Padahal lagi liburan semester, kok masih pada betah sih kumpul di sini?" tanyaku sambil menyalami mereka satu per satu.
"Walaupun punya kosan, tempat ternyaman tetap di sekre sih," ucap Bang Beben, salah satu kakak tingkatku.
Aku mengangguk lantas menjatuhkan tubuhku di atas sofa kemudian detik selanjutnya aku sibuk mengobrol ngalor-ngidul dengan mereka. Enggak tahu kenapa, tapi aku hobi banget mengobrol. Mungkin karena hobiku ini makanya aku punya teman di mana-mana.
"Ya, namanya juga Luvita. Perempuan paling friendly. Diputusin sama Bara kayanya enggak berpengaruh apa-apa. Bentar lagi teman cowoknya juga dijadiin pacar. Selama ini kan banyak yang suka sama dia, tapi cuma dia jadiin teman," ucap Bang Rivan.
"Benar. Dimulai dari adik tingkat, teman seangkatan, kakak tingkat, sampai dosen muda pun kepincut sama Luvita," timpal kakak tingkatku yang lain.
Aku tersenyum kecil. Mereka enggak tahu aja sampai Om-om galak di kampungku kepincut sama aku. Parahnya lagi aku sampai dijadikan istri.
Obrolan pun terus berlanjut. Saking asyiknya aku sampai enggak sadar bahwa sudah jam tujuh malam. Aku sebenarnya masih enggak mau pulang, tetapi Mas Prabu sudah mengirimkan aku pesan singkat. Katanya lima belas menit lagi dia sampai di kampusku. "Dih, mau balik lu?" Bang Rivan menatapku yang sedang memasukkan barang-barang ke dalam tas, "mau gue antar balik enggak?"
Aku menggeleng. "Ga usah."
"Balik sama siapa?"
"Grab car," aku langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu, "udah ya gue balik." Tanpa menunggu respons dari mereka aku langsung bergegas pergi keluar. Takut banget ditanya-tanya dan aku lebih takut lagi keceplosan bahwa aku dijemput oleh suami.
Begitu sampai di parkiran mobil, aku melihat Mas Prabu sudah bersedekap d**a. "Kok lama banget ketemu dosen pembimbing? Bimbingan di mana? Di ruangannya atau di apartemennya?"
Kan, mulutnya emang kasar banget.
Aku terdiam lantas masuk ke dalam mobil dan diikuti olehnya. "Jawab, Luvita," ucapnya saat kami sudah berada di dalam mobil.
"Tadi sebentar doang. Terus aku kumpul di sekre." Dia bergumam kemudian mengendarai mobil ini keluar dari area parkiran.
Ditengah perjalanan, tiba-tiba ponselku berdering. Ada sebuah notifikasi dari sana. Saat aku mengecek, ada pesan dari temanku di-grup w******p.
Namanya Anak Muda
Bg Beben Himakim'18
Luv, drivernya ganteng
Serius driver apa sugar daddy lu?
Teruntuk yang mau baca cepat, aku udah publish satu buku full di k********a.
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)
Terdiri dari:
Full E-book (Lengkap)
Part Ke-1 sampai Part Ke-55 (Ending)
Total 55 Part ; 215 Halaman
Hanya dengan Rp46.000 kalian bisa akses semua itu, tanpa menunggu.
Cara Pembelian:
1. Masuk ke aplikasi k********a bisa melalui web atau aplikasi.
2. Cari nama kreator (TheDarkNight_) dan cari judul karya (Full _ Ebook _ Get A Cruel Husband? _ TheDarkNight_)
3. Setelah ketemu, scroll ke bawah sampai menemukan harga jual karya tersebut. Harganya Rp46.000.
4. Ubah harga jika kamu ingin memberi apresiasi lebih.
Pilih metode pembayaran: GoPay, OVO, Shopeepay, Indomart, Alfamart, atau transfer bank.
5. Ikuti petunjuk pembayaran (lihat bagian-bagian yang menerangkan pembayaran dengan Gopay, OVO, Virtual Account BNI, dan Pembayaran QR).
6. Kembali ke laman k********a dan ke karya tadi. Pastikan kamu sudah login, ya. Kalau transaksi sudah berhasil, Karya yang sebelumnya bertuliskan "terkunci" akan ganti jadi "terbuka".
Jika ada pertanyaan boleh chat admin aku 085810258853
Pembelian juga dapat melalui WA (085810258853)