158~DS

1619 Kata

Elo menyesap kopi pahitnya yang masih mengepul dengan perlahan, lalu meletakkannya kembali di atas meja. Pandangannya tertuju pada Bintang yang duduk di seberangnya. Dua pria itu bertemu di kafe, hanya untuk satu alasan, yakni membahas Sinar. “Bima sudah cerita semuanya, termasuk kejadian di rumah sakit waktu itu.” Elo menghela panjang dan kesal sekaligus. “Andai waktu itu aku tetap balik sama Sinar, mungkin semua ini nggak bakal kejadian. Ck! Nyesal aku, Mas!” “Aku tau, aku yang salah.” Bintang mengembuskan napas berat. “Jelas salah!” todong Elo semakin kesal. “Kenapa juga sampai bawa-bawa hak asuh Aya? Repot, kan, jadinya?” “Aku nggak pernah bermaksud mau ambil hak asuh Aya,” ujar Bintang. “Itu semua … kamu nggak jadi aku, El.” Elo mengendik cuek. “Kita sudah nggak bisa ngapa-ngapai

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN