* * * * * * * * * Part 91 * * * * * * * * * “Iya, iya, gue tau kok. Maaf, ya?“ Coba itung deh, gue ngomong maaf udah berapa kali? Gue longgarin pelukan gue, d a n natep dia sekali lagi. Tapi gak tau kenapa ini mata selalu berakhir di bibir Vale. Gue gak bisa buat mengabaikan bibir y a n g c u m a beberapa centi depan gue ini. Kalo gue... Cup. Tuhkan, sekarang bibir gue udah nempel dibibir Vale. d a n gue bisa liat betapa shock nya cewek itu. Matanya melotot, d a n tangannya coba buat ngedorong gue. Tapi apa daya, napsu gue udah diujung. Plis, dikiiit lagi Val. Gue lumat bibir dia dengan ganas. Perlu lo semua tau, ini pertama kalinya gue nyium Vale lama banget begini. Biasanya c u m a sekilas. Ah, gila, Vale abis makan apa sih bisa manis banget gini? d a n kemudian gue

