PROLOG - Evaria Dona

1205 Kata
Pemeran utama bukan siapa yang paling banyak disorot kamera, tapi siapa yang bisa menguasai panggung Diawal memulai karirnya sebagai model hingga akhirnya mendapat peran pertamanya di film, Evaria Dona kesulitan menjaga matanya tetap terbuka di depan blitz kamera. Wajahnya akan terlihat sangat jelek karena mengernyit menahan silau. Sekarang Eva sudah terbiasa, ia bisa mempertahankan ekspresi cantiknya dengan percaya diri. Di depannya ada puluhan kamera wartawan, ditambah kamera fans yang berlomba-lomba mendapatkan potret terbaik seorang Evaria Dona. Eva bediri memegang sebuah piala yang digadang-gadang berlapis emas murni. “Eva menyangka tidak bisa masuk nominasi dan bahkan menang sebagai aktris terbaik tahun ini meskipun tidak jadi pemeran utama di film terakhirmu?” Tanya salah satu wartawan. Eva tersenyum elegan, ia memandang piala di tangannya sesaat sebelum menjawab. “Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik disetiap proyek yang saya kerjakan, sekecil apa pun peran yang saya mainkan untuk mendapatkan hasil terbaik juga. Jujur sebenarnya saya tidak menyangka hasil terbaik itu akan berupa piala ini. Saya berterima kasih kepada semua pihak yang banyak membantu saya sehingga saya bisa memainkan karakter saya dengan baik.” “Mengenai Adelina Hara yang mana tokoh utama dalam film Jendela tidak masuk satu pun nominasi, bagaimana pendapat kamu?” “Mungkin pertanyaan itu lebih tepat ditanyakan ke dewan juri, penilaian semua ada di tangan mereka. Saya yakin Hara juga melakukan yang terbaik, dia masih sangat muda dan berbakat.” "Apa ada komentar untuk orang-orang di luar yang menganggap kemenanganmu tidak adil?" "Mereka baru bisa menganggap itu tidak adil, jika keputusan ada di tangan saya, manajer, dan teman-teman terdekat saya. Saya tidak bilang saya lebih baik dari Hara, tapi saya ingin kita semua menghargai penilaian dewan juri. Jika masih ada yang merasa saya tidak layak, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Kita semua memiliki hak untuk mendukung atau membenci orang dengan alasan kita sendiri." “Ada rumor kedekatan kamu dengan sutradara Rizal Chandra, apa itu benar?” “Ya, kami memang dekat.” Jawaban Eva memancing kehebohan para wartawan yang ingin tahu lebih. “Mas Rizal orang pertama yang melihat bakat saya dan sekaligus orang pertama yang mempercayai saya memerankan salah satu karakternya di film debut saya. Saya selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang berjasa dalam hidup saya.” Eva melanjutkan dengan jawaban bijaksana. Ia sangat paham ke mana sebenarnya pertanyaan itu ingin diarahkan. Masih wartawan yang sama melanjutkan pertanyaannya atau lebih tepatnya disebut pernyataan. “Ada sumber yang mengatakan pernah melihat kalian liburan berdua di Bali.” Eva menatap langsung pada wartawan perempuan muda yang ia ketahui dari salah satu infotainment stasiun TV swasta. Wajahnya sudah tidak asing lagi karena terlalu sering bertemu. "Saya ingat di kesempatan lain Anda juga menanyakan pertanyaan sama, dan jawaban saya juga masih sama. Tugas Anda yang mencari tahu rumor itu benar atau salah, karena saya tidak akan menjawab pertanyaan apa pun yang bersumber dari katanya.” Eva menekankan kata terakhirnya. Eva mengakhiri wawancara dengan senyum termanis yang bisa ia berikan, ia sudah terlalu malas dan lelah memasang topeng ramah. Oleh manager yang setia mendampinginya dari sudut tak terlihat, Eva diarahkan masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu. Eva menghempaskan punggungnya di jok dengan kasar begitu mobil mulai melaju meninggalkan gedung pertunjukan. Ia sudah tidak peduli gaunnya akan kusut atau rambutnya berantakan. “Aku nggak mau lihat wartawan itu lagi.” “Siapa?” Tanya Prita, managernya, yang duduk di kursi depan. “Oh... Yang nanya soal Rizal itu?” “Mbak nggak bisa bikin dia dipecat atau mati gitu?” “Hus!” Mbak Prita memperingatkan. “Tidak seharusnya kamu terancam sama orang seperti itu. Dia bukan sainganmu.” Eva tahu itu. Wartawan itu menganggu karena dia terlihat begitu berambisi menghancurkan Eva lewat skandal berita. Mobil yang melaju mulus tiba-tiba direm mendadak, beruntung Eva memakai sabuk pengaman. Prita meneriaki Lala, asisten pribadi Eva yang menyetir dengan sembrono itu. “Mobil depan berhenti mendadak.” Lala bela diri. Eva menyadari pialanya menggelinding jatuh ke dekat kakinya. Eva hanya membiarkannya dan memanginya dengan tatapan lelah. Dalam ruang sempit minim pencahayaan, benda itu seolah memancarkan sinar. Waktu sudah membawanya sejauh ini. Hari yang panjang, Eva tidak ingat apa saja yang sudah ia lakukan kemarin. Memikirkan tentang besok selalu membuat Eva resah, apa itu sesuatu yang sanggup ia hadapi? Apa Eva bisa melewatinya sebagai pemenang seperti hari ini? “Wah, hashtag TeamEva jadi tranding di Twitter.” Seru Prita, “Mengalahkan AFI2020 itu sendiri.” Prita mengulurkan ponselnya ingin menunjukkan pada Eva, sayangnya Eva sama sekali tak tertarik untuk melirik. Prita menarik lagi tangannya. “Kenapa? Karena bukan piala pertama kamu, kamu nggak bangga?” Dua tahun lalu Eva membawa pulang piala yang sama, piala pertamanya sebagai aktris terbaik versi AFI. Level ajang penghargaan Anugerah Film Indonesia disebut-sebut paling tinggi dari ajang penghargaan lain. Nominator dan pemenang dipilih langsung oleh belasan juri kredibel dan memiliki nama besar di dunia perfilman. Maka tak heran jika setiap tahunnya selalu muncul nama-nama mengejutkan. Yang terpopuler atau terlaris tak lantas menjadi yang terbaik. Salah satu nama mengejutkan yang muncul ialah nama Evaria Dona. Jendela merupakan satu-satunya film Eva yang rilis di periode tahun itu, di situ pun Eva tidak memerankan pemeran utama, melainkan artis pendukung. Hal itu belum pernah terjadi sebelumnya lantaran ada kategori sendiri untuk aktor-aktor pendukung, maka tak heran jika banyak orang yang memberi kritik pedas. Publik terpecah menjadi dua kubu yaitu tim Adelia Hara, dan Tim Evaria Dona. “Apa menurut mereka aku nggak layak menang?” Tanya Eva terdengar tidak sungguh-sungguh ingin tahu. “Tidak, sebaliknya. Mereka bilang kamu pantas. Nih, aku bacakan, ya.” Eva memalingkan kepala menatap ke luar jendela, mendengarkan komentar teratas yang disukai terbanyak oleh netizen. “Suka tidak suka, kita harus akui kualitas akting Evaria makin dewasa. Jelas dia bukan anak kemarin sore lagi yang wajahnya harus dibuat sangat jelek agar bisa keluar air mata.” “Kenapa Eva yang jadi aktris terbaik dan bukan si pemeran utama? Buat yang sudah menonton Jendela pasti bisa menilai. Karakter Jane yang dimainkan Eva sangat kuat dan menjadi bagian penting dalam alur cerita. Kalau nggak ada Jane, film Jendela cuma akan jadi kisah klise cewek miskin yang kebetulan cantik, berjuang meraih mimpinya. Menurutku, pemeran utama Jendela sebenarnya adalah Jane, tapi kita semua tahu tidak banyak yang ingin melihat tokoh antagonis dijadikan pemeran utama." “Evaria sangat jeli memilih naskah, hampir semua film yang dia bintangi meledak. Entah karena dia memang jeli atau karena faktor X yang cuma dimiliki Evaria.” “Evaria Dona aktris terbaik 2020.” Tidak buruk. Eva memejamkan mata, setidaknya malam ini ia mungkin akan mimpi indah. ----- ^_^----- Halo, semoga masih ada pembaca aku yang lama yang mampir, khususnya buat yang dulu kenal aku lewat Mika. Semoga masih mau dukung aku. Ini cerita pertama aku setelah bertahun-tahun 'nyerah' nulis. Padahal aku dapat banyak antensi dan komentar positif tentang Mika diluar kekurangan penulisan di sana sini, tapi nggak tahu kenapa aku mulai kehilangan kepercayaan diri buat posting cerita baru. Akhirnya aku putusin untuk memulai dari awal kayak aku memulai Mika, yaitu aku cuma nulis apa yang mau aku baca. Jadi kalau tulisan aku nggak nyaman dibaca karena nanti akan banyak hal-hal yang nggak sesuai realita, bisa ditinggalkan saja. Aku tulis cerita ini bukan untuk edukasi, tapi lebih ke hiburan fiksi. Dan demi kepuasan aku sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN