Sial!!

682 Kata
"Terus kamu mau minta apa?" tanya Anggi. "Jadi aku mau minta tolong nih, bisa nggak minta nomor teleponnya Bian? Aku malu kalau bicara langsung bisa-bisa aku pingsan." Anggi tertawa, "Ya ampun jadi itu toh tenang saja semuanya beres sepulang sekolah nomornya bakal ada." Kira mengangguk. Dia jadi tak sabar untuk mengobrol dengan Bian yah walaupun nanti tak intens tapi dengan senang hati Kira akan menyimpan nomor telepon Bian. Kira jadi ingat bagaimana ya memulai percakapan dengan Bian nanti? *** Sesuai akan ucapan Anggi, Kira akhirnya mendapatkan nomor Bian. Usai makan malam Kira duduk lama di meja belajar berkutat apa sapaan yang bagus untuk pemuda incarannya itu. Kira pun sadar tidak akan gunanya jika terus berpikir. Segera ia mengesampingkan pemikirannya dan membuka aplikasi chat. Jantung berdegup kencang, pipi merona ketika mengetik "selamat malam" untuk Bian lalu menekan kirim. Buru-buru Kira melempar ponselnya ke atas ranjang dan pergi keluar dari kamar berkumpul bersama ayah, ibunya yang sibuk menonton tv. Perilaku tidak biasa dari Kira terbaca oleh sang ibu. "Kamu kenapa?" tanya ibunya bingung. "Nggak kok bu, Ibu lagi nonton apa?" Kira balik bertanya seraya duduk di samping orang tuanya. "Biasalah nonton sinetron kesukaan ibu. Lagi seru ini si Ani mau balas dendam sama ibu mertuanya, emang sifat ibu mertuanya tuh buruk banget untung aja Ani tuh bukan cewek menye-menye," komentar sang ibu terbawa suasana. Kira sama sekali tidak mendengar. Dia fokus pada pintu kamarnya sambil berhitung di dalam hati. 3 menit, 5 menit sampai 8 menit, Kira tidak bisa menunggu lebih lama. Langkah Kira terburu-buru masuk ke dalam kamar lagi. Diambilnya ponsel, menekan tombol on. Kira langsung terpaku pada balasan Bian di tengah layar. "Selamat malam juga, ini siapa?" Kira mengetik lagi, "Ini Kirana," Bian membalas cepat, "Oh ternyata Kirana, dapat dari mana nomorku? Perutmu udah nggak sakit lagi, kan?" "Udah nggak sakit kok, dari tadi juga masih bisa konsentrasi belajar soal nomor telepon aku dapat dari Anggi, nggak masalah, kan?" tulis Kira melalui aplikasi chat. "Nggak papa, cuma penasaran aja pantas dari tadi Anggi minta nomor teleponku rupanya kamu yang minta toh! Padahal kamu boleh loh minta sama aku. Kenapa nggak berani? Suka ya sama aku?" canda Bian. Wajah Kira langsung memerah diiringi dengan tawa kecil. Seandainya Bian tahu perasaan Kira, "Ah bisa aja emang dari tadi nggak sempat perutku lagi sakit sih," "Lain kali kalau butuh sesuatu bilang saja aku bakal bantu kok." Bian membalas lagi. "Iya pasti makasih ya." Untuk sesaat Kira dan Bian tidak memiliki percakapan lagi. Kira menganggap Bian pasti sedang mengerjakan PR. Biasa anak rajin. Kira lantas menaruh ponselnya kali ini dia letakkan di atas meja dan pergi menuju ruang keluarga. Sedikit sedih tapi tak kecewa. "Kamu kenapa sih?" tanya Ibunya begitu Kira kembali ke sampingnya. "Nggak papa," sahut Kira singkat dengan muka yang kusut. "Apa soal tugas?" "Aku udah bilang sama ibu, nggak ada apa-apa kok." Kira bersikukuh membantah. "Ah ibu tahu pasti ini soal cowok, kan?" Ibu menerka lagi. "Hah? Kirana punya cowok?" timpal sang ayah kini ikut nimbrung dengan percakapan Kira bersama ibunya. "Nggak usah pacaran dulu, sekolah nanti kalau lulus baru punya pacar," lanjutnya menegur. "Ihh, ibu yang salah ngomong kok! siapa bilang aku lagi dekat sama cowok?" kata Kira dengan kesal. "Terus kenapa emosi? Ibu cuma ngomong doang kok koar-koar," sahut ibunya santai. "Pokoknya nggak boleh pacaran! Awas saja kalau kamu pacaran, Ayah nggak bakal belikan kamu laptop bulan depan." Ayah menegur sekali lagi sampai mengancam juga. Kira mendecak kesal dan kembali ke kamarnya. Suasana hati yang berbunga-bunga menjadi suram seketika sebab obrolan yang tidak begitu penting. Suara notifikasi masuk mendadak menjadi pusat perhatian Kira. Dia lalu duduk di kursi dekat meja seraya memeriksa ponsel. Rupanya Bian mengirim pesan singkat kepada Kira lagi. Tidak sabar Kira membuka aplikasi chat. Senyuman menghiasi bibir mungil miliknya ketika membaca satu per satu kata yang ditulis oleh Bian. "Kira, ada sesuatu yang pengen aku bicarain tapi jangan kasih tahu ya sama siapa-siapa, sebenarnya aku tuh suka sama Anggi." Senyuman Kira langsung menghilang. Degup jantung yang bergemuruh sebab rasa senang berganti menjadi hujaman rasa sakit serta sesak. Sial! Ternyata pemuda yang ia sukai jatuh hati kepada sahabatnya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN