Vian memiringkan kepalanya sedikit. Sia-sia saja mengejar Rivaille, ternyata mereka sedang bermesraan di atas batang pohon. Kepalanya bertambah stres melihat dua makhluk itu. “Ck! Kau tidak perlu membawanya tiba-tiba seperti itu, bodo*. Berengsek.” Vian langsung memaki seperti biasa. Rivaille juga sudah belajar untuk tidak terganggu dengan kedatangan Vian. Ia cukup melirik saja sebelum membawa Tiffa kembali menjauh, masuk ke dalam hutan. “Astaga… Dasar monster siala*!” Teriakan Vian membuat Tiffa terkekeh penuh kemenangan. Ia cukup puas membuatnya emosi malam ini. Ia lantas menggelayut di dalam pelukan Rivaille. Ia menggantungkan kedua tangannya di leher kekar itu. Sesekali ia mencium pipi Rivaille. “Vian sudah kembali ke villa. Kita bisa berhenti.” Rivaille patuh dan berhenti ber

