Di tengah-tengah pikiran kalutnya itu, Rivaille merasakan aura keberadaan Vian di depan rumahnya. Tidak biasanya Vian mau berkunjung, terlebih tidak ada Tiffa. Sudah pasti ada yang ingin dibicarakan olehnya. Rivaille pun bangun dari posisi tidurnya dan keluar dari kamar. Sempat membuka kulkas lebih dulu untuk mengambil makanan dan membawa satu untuk Vian juga. “Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanyanya sambil membuka pintu. Ia melihat Vian duduk di tepi dermaga kecil sambil melamun. “Banyak hal. Kau ada waktu?” Vian menoleh dan menerima makanan dari Rivaille. “Bicaralah,” Vian menghela nafasnya sejenak. Ekspresinya tidak menjengkelkan seperti biasa, malah Rivaille menangkap Vian sedang tidak punya haluan saat ini. Rivaille pun duduk di pagar kayu pembatas teras rumah dengan

