Sore itu sungguh melelahkan, namun semangat dari seluruh siswa masih terpancar dengan jelas. Acara yang diadakan sehubungan dengan dies natalis sekolah menjadi salah satu ajang kompetisi antar kelas, hal ini menimbulkan dampak positif untuk seluruh siswa. Karena siswa menjadi kompak, sportif, dan menjadi salah satu sarana hiburan untuk siswa dalam hal positif diantara rutinitas belajar mengajar.
Suara teriakkan dari suporter disela-sela pertandingan, telah menghiasi suasana sore itu. Menang atau kalah adalah suatu hal yang biasa terjadi di setiap pertandingan. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat perayaan dies natalis sekolah. Tak terkecuali Rakha dan teman satu kelasnya yang memenangkan pertandingan di babak penyisihan, untuk melaju ke pertandingan selanjutnya. Rasa bahagia terpancar di wajah Rakha, karena ia telah berusaha memberikan yang terbaik untuk kelasnya. Dia berhasil mencetak gol untuk kemenangan kelasnya. Semangat yang dirasakan Rakha juga disebabkan adanya Luna yang menonton jalannya pertandingan sore itu.
Rakha berniat mengantar Luna pulang ke rumahnya. Namun niat itu harus pupus sebelum Rakha sempat untuk bertanya pada Luna. Karena Prima telah terlebih dahulu menawarkan tumpangan pada Luna. Dalam hati Luna yang terdalam sesungguhnya menginginkan Rakha yang mengantar pulang sore itu, namun karena Prima sudah lebih dahulu menawarkan diri untuk mengantarnya, maka Luna merasa tidak enak hati jika harus menolaknya, sebab Prima juga teman satu klub sepak bola dengan Luna.
Malam semakin dingin karena mendung telah menyelimuti langit malam ini. Tak terasa rintikkan gerimis pun mulai turun membasahi bumi. Seolah menggambarkan suasana hati Rakha. Ia memikirkan si gadis manis yang sore itu diantar oleh Prima. Kemudian Rakha mengingat apa yang pernah Juna ceritakan pada Rakha tentang Prima yang juga mempunyai perhatian lebih pada Luna.
Rakha yang berbaring di atas tempat tidurnya seolah resah dengan perasaannya. Ia menatap jam dinding yang terus berdetak seakan menggambarkan kegelisahan dalam hatinya. Ia memandang Handphone yang tergeletak di sampingnya. Rasanya ingin sekali menghubungi Luna, namun ia tak bisa. Tatapan Rakha beralih memandang gitar yang tergantung di sudut dinding kamarnya. Rakha mengambil gitar kesayangannya, untuk membunuh keresahan dihatinya, ia luapkan melalui lagu yang ia nyanyikan sambil bermain gitar.
Tak lama setelah Rakha memainkan gitarnya, terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu kamar Rakha.
“Rakha, buka pintunya, Nak!” Ibu Rakha mengetuk pintu kamar, karena Ibunya tahu bahwa ketika Rakha merasa galau maka ia akan memainkan gitarnya, atau ketika ia akan ikut pentas seni.
Seketika Rakha menghentikan jarinya memetik senar gitar. Ia membukakan pintu kamarnya.
“Iya Bu, silakan masuk!”
“Kamu main gitar sedang galau atau mau ikut pensi?”
“Oh Rakha hanya mau ikut pensi di acara dies natalis sekolah, Bu.”
“Oh, syukurlah, kalau kamu ada masalah apapun, cerita sama Ibu ya! Tapi itu jika kamu ingin cerita.”
“Terima kasih, Bu.” Rakha tersenyum pada Ibunya.
“Ya sudah, Ibu mau istirahat dulu.”
Malam semakin larut, namun Rakha masih termenung. Ia berdiri di dekat jendela kamarnya sambil menatap hujan yang turun dimalam itu. Rakha berpikir tentang perasaannya. Perasaan yang berbeda untuk Luna.
“Apa mungkin ini yang namanya jatuh cinta? Rasanya sulit melupakan Luna.”
Rakha mencoba mengartikan perasaannya terhadap Luna. Karena ia bingung tentang perasaan itu sambil mengingat saat Rakha bersama Luna.
“Sungguh berat menahan rindu, memang benar kata Dilan, hehehe.... Rakha ... Rakha, memikirkan apa sih kamu?” Tiba-tiba Rakha tertawa mengingat kata-kata yang viral di film Dilan. Karena ternyata menurut Rakha menahan rindu itu memang berat.
Perasaan gelisah pun tengah menyelimuti hati Luna. Ia sedang mengingat saat-saat bersama Rakha, Luna menyadari bahwa ia menyimpan rindu untuk Rakha. Tapi ia tak ingin terhanyut terlalu dalam dengan perasaannya. Agar Luna melupakan kegelisahannya, ia mencoba belajar untuk tak memikirkan Rakha.
“Kenapa perasaanku jadi seperti ini? Seharusnya aku fokus sekolah saja, menganggap semua teman adalah sama. Tapi... Enggak bisa.” Luna termenung sambil duduk di depan meja belajarnya. Ia menatap hujan yang turun dari balik jendela.
“Kenapa harus Rakha? Aaarrrgghhh... Perasaan seperti ini yang selama ini aku hindari agar bisa fokus dalam belajar, namun nyatanya tetap meracuni pikiranku.” Luna merasa gundah, ia berusaha menepis rasa itu, tapi tetap tak bisa.
Luna mempunyai prinsip tidak akan pacaran selama masih SMA, ia pun selalu menghindar jika ada teman lelaki yang mencoba mendekatinya. Tapi entah mengapa ketika Rakha memberi perhatian dan mencoba mendekatinya, Luna seperti memberi harapan. Begitu pun dengan Rakha, baru kali ini ia tidak gugup ketika dekat dengan teman perempuan, Rakha merasa nyaman berteman dengan Luna. Ia pun merasa kagum padanya. Sebenarnya apa yang dirasakan Luna dan Rakha adalah cinta monyet masa puber.
Hujan malam tadi, menyisakan kabut yang turun menyelimuti pagi ini. Dingin dan sepi seperti hati Luna pagi ini. Luna berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Sesampainya di depan gerbang, Luna merasa sangat kedinginan karena kabut begitu tebal, akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke dalam rumah dan mengambil jaketnya. Baru saja ia berbalik untuk membuka gerbang rumahnya, tiba-tiba ada suara motor dan berhenti di depan rumah Luna. Ia merasa mengenal suara motor itu, sebelum ia berbalik untuk melihat siapa yang datang, tiba-tiba seseorang itu memanggilnya.
“Luna.”
Luna mengenal suara itu, kemudian ia menoleh ke belakang, benar saja ternyata itu Rakha.
“Rakha?” Luna kaget karena Rakha tiba-tiba berada di depan rumahnya.
“Maaf, pagi-pagi sudah mengagetkan kamu.”
“Iya Rakha, enggak apa-apa, tapi ada perlu apa sampai kamu datang menemui aku se pagi ini?”
“Oh, itu, enggak ada apa-apa, cuma mau ngajak berangkat ke sekolah bareng.”
“Oh ceritanya menyamper nih? hehehe... Baiklah, tapi aku mau ambil jaket dulu ya.”
“Oke.”
Luna masuk ke rumah untuk mengambil jaketnya. Kemudian mereka berangkat ke sekolah bersama. Sesampainya di sekolah, di saat yang bersamaan Vina juga baru sampai di halaman sekolah. Karena Vina melihat Luna dan Rakha berangkat bersama, maka Vina menghampiri mereka di tempat parkir.
“Wah... Kalian kok bisa bareng?” Vina mencurigai sesuatu sambil tersenyum seolah senyumnya itu meledek mereka.
“Vina, apaan sih? Ya kita enggak janjian kok, cuma kebetulan saja.” Luna berusaha mengelak.
“Sengaja Vin, aku yang nyamper, yuk aku duluan ke kelas ya.” Rakha justru jujur dengan semua itu, ia berbicara sambil tertawa dan berlalu dari pandangan.
“Ciyeee...Luna cinlok ya?” Vina berusaha membuat Luna mengaku dengan perasaannya, Vina curiga kalau Luna dan Rakha memang ada sesuatu yang lebih dari sekedar teman.
“Sudah ayo kita masuk kelas, jangan bahas cinta-cinta deh.” Luna berusaha menutupi perasaannya.
Luna tidak mau jika cinta monyet bisa mengacaukan pikiran disaat belajar. Sehingga Luna masih menutup hatinya, walau perasaan yang dirasa sangat menyiksa, tetap Luna tak bisa jujur pada hatinya. Ketika perasaan itu datang maka jadikanlah penyemangat, jangan biarkan perasaan itu mengganggumu dan membuatmu terpuruk.
Sore ini kelas 2 IPA 1 akan melangsungkan pertandingan futsal putri dan basket putra. Luna dan kawan-kawan satu kelas sangat antusias. Mereka optimis akan memenangkan pertandingan. Namun Luna sedikit gugup dan merasa cemas, karena Rakha akan menonton pertandingan itu. Luna berusaha fokus, tapi apakah Luna akan berhasil memberikan performa yang terbaik?