Bodoh!
Apa yang ku lakukan?
Seketika pertanyaan itu muncul dalam benaknya. Dia benar-benar sangat gugup saat ini. Beruntungnya, ponsel milik Naara berbunyi saat itu.
"Maaf, bisa tolong lepas? Aku mau ngangkat telpon," pinta Naara.
"O-Oh iya," ucap Gino dengan terbatas-bata.
Naara nampak tertegun saat melihat ponselnya. Kemudian ia menutup panggilan dan kembali menatap Gino dengan senyumannya.
"K-Kenapa gak diangkat?" tanya Gino kemudian.
"Ah, itu. Gak ada namanya, jadi aku gak berani ngangkat," ujarnya kepada Gino.
Mendengar jawaban itu pun Gino mengangguk mengerti. Dia tidak berani menatap Naara terlalu lama. Sehingga secara spontan ia mengalihkan pandangan ke bawah, entah apa yang ditatap.
"Oh iya, ada yang mau diomongin? Kayaknya penting," tanya Naara penasaran.
Sontak Gino terkejut dengan pertanyaan itu, dia bahkan tidak tahu akan mengatakan apa. Kini dia menjadi gugup karena tidak tahu harus berkata apa pada orang yang ia sukai semenjak kelas satu SMA itu.
Sampai dia memikirkan sesuatu yang muncul tiba-tiba dalam otaknya. Apa yang ia fikirkan membuatnya tertegun selama beberapa saat.
Haruskah aku menyatakan perasaanku sekarang?
Itu lah yang muncul dalam benaknya. Membuatnya terus mencoba mencari jawaban antara ya atau tidak. Dia ragu untuk menyatakan perasaannya pada gadis di depannya.
Sampai hatinya merasa sudah cukup berani, meskipun hanya memiliki sedikit keberanian dalam hatinya. Gino memberanikan diri menatap mata gadis di depannya itu.
"A-"
"Naa!"
Mulut Gino yang sudah terbuka, tiba-tiba harus kembali tertutup. Ketika seseorang dari belakang berteriak kencang. Gino yang merasa detik sebelumnya adalah kesempatan emas. Kini merasa detik ini tiada artinya lagi.
"Apa?" tanya Naara dengan kedua tangan yang memegang pinggangnya melihat temannya itu.
"Naa na na..." senandung gadis berkuncir kuda itu.
"Apa teriak-teriak?" tanya Naara yang heran.
Dia menghentikan langkahnya dan melirik Naara dengan tatapan sinis nya, "Ih apaan, orang lagi nyanyi juga!"
"Kurang aja!" kesal Naara yang hendak memukul pundak gadis itu.
"Gak kena!"
"Eh, sini kamu!"
Gadis yang mengejeknya tadi langsung berlari kencang dengan tawa yang mengiringi. Naara menggelengkan kepalanya melihat kelakuan temannya itu. Tetapi, dia juga terlihat menyunggingkan bibirnya saat itu juga.
Membuat Gino yang berada di dekatnya tidak dapat mengendalikan detak jantungnya. Sampai Naara menolehkan kepalanya menatap ke arah Gino. Seperti ada cahaya yang menyinari Naara, saat Gino memandangnya. Memang itu terlihat sedikit berlebihan, tetapi apa yang ditangkap oleh retinanya seolah sangat berbeda.
Gino tertegun menatap Naara yang menatapnya sambil tersenyum seperti itu. Senyuman yang belum menghilang saat ia melihat kelakuan temannya. Seolah senyuman itu menghentikan waktu.
"Gino?"
Tentu saja, hanya Gino yang merasa bahwa waktu seolah-olah berhenti. Sampai ia tidak mendengar Naara yang sedari tadi memanggilnya.
"Gino Putra Ananda?"
"Eh, iya apa?" tanya Gino berusaha tetap tenang, meskipun perasaannya tidak demikian.
"Bener kan itu nama panjang mu?" tanya Naara sembari tersenyum.
Seperti menunggu proses mengunduh dengan sinyal yang lemah. Gino terdiam beberapa saat, hingga ia baru paham tentang apa yang dikatakan.
"Ah, iya. Itu nama panjang ku," ujar Gino.
Naara terkekeh melihat Gino, sontak saja Gino semakin tidak dapat menahan rasa malunya. Tawa itu juga membuatnya tidak dapat mengatur detak jantungnya yang terus berdetak kencang.
"Kamu lucu juga," ucap Naara sembari terkekeh.
Gino hanya dapat tersenyum ragu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kini dia merasa sangat malu. Dia terus mengatai bahwa dirinya bodoh dalam benaknya.
"Oh iya, tadi mau ngomong apa?" tanya Naara yang menghentikan tawa kecilnya.
Gino pun menjadi tidak memiliki keberanian yang sama seperti sebelumnya. Keberanian itu kembali lenyap saat ia menatap wajah orang yang disukainya.
"Ng-Nggak penting, nanti aja. Aku udah telat buat pulang ke rumah. A-Aku duluan ya," ucap Gino sambil melenggang pergi.
Naara yang bingung hanya bisa menatap punggung Gino yang semakin menjauh. Sementara itu, Gino terus mengumpat kepada dirinya sendiri di dalam benaknya. Perasaannya begitu campur aduk, tetapi dia juga merasa sedikit senang. Karena ia bisa berbicara dengannya walaupun sebentar.
Waktu singkat itu begitu menyenangkan hatinya. Tetapi, ia juga merasa malu saat itu juga. Dia juga kesal karena waktu yang terlalu singkat. Mungkin saat ini, ia tidak dapat membedakan akan senang atau tidak.
***
Gino berjalan dengan santai menuju rumah yang berjarak tidak jauh. Hanya sekitar beberapa blok rumah lagi untuk dapat mencapai rumahnya. Kejadian beberapa waktu yang lalu, membuatnya tidak dapat berhenti memutar ulang setiap kejadian akan percakapan singkat dengan Naara.
Naara adalah cinta pertamanya, dia masih belum bisa menyatakan maupun melupakannya. Hingga kini, ia hanya bisa berharap dapat diberi kesempatan dapat berbicara lebih banyak dengannya.
"Gino!"
Seseorang terdengar memanggil namanya, Gino yang merasa terpanggil menolehkan kepalanya. Seorang gadis dengan seragam sama sepertinya melambaikan tangan ke arahnya. Gino pun menghentikan langkahnya, menunggu gadis yang ia kenal datang menghampiri.
"Gaby," ucap Gino memanggil nama temannya itu.
Gaby Artasyah atau yang akrab disapa Gaby itu adalah tetangga Gino. Atau lebih tepatnya temannya sejak kecil. Mereka berdua tumbuh bersama daerah ini, sampai saat ini.
Gaby berumur satu tahun lebih tua dari Gino. Dia berumur tujuh belas tahun, sedangkan Gino berumur enam belas tahun. Gaby seperti seorang kakak bagi Gino, karena ia yang sering mengingatkannya ketika dirinya melupakan akan sesuatu sebelum pergi ke sekolah atau pun ke suatu tempat, ketika Gaby melihatnya hendak pergi ke luar rumah.
Gaby juga sering memarahinya jika dirinya membuat suatu kesalahan. Terkadang Gino merasa kesal dengan sikapnya itu. Namun, begitulah Gaby dan dia tidak dapat memintanya untuk mengubah sikapnya yang sudah seperti kakak baginya.
Namun, Gaby tidak pernah ingin dipanggil seperti itu. Selain itu, mereka berdua telah lama berteman. Sehingga panggilan itu terasa aneh di telinga mereka.
"Gaby, tumben pulangnya agak cepet," ucap Gino.
"Kamu yang pulangnya telat kali," ucap Gaby sambil menunjukkan waktu pada ponselnya.
"Apa iya?" ucap Gino yang mengerenyitkan dahinya.
"Lihat nih hpnya," ucap Gaby sembari menunjukkan ponsel miliknya.
Gino memicingkan matanya melihat waktu yang tertera pada ponsel milik Gaby, "Oh iya, aku harus pulang cepet-cepet," ucap Gino sambil berjalan pergi meninggalkan Gaby.
"Dasar, padahal rumahnya tinggal beberapa blok lagi," ucap Gaby sembari menggelengkan kepalanya.
"Eh, tungguin!" seru Gaby sembari berlari kecil mengejarnya.
***
Gino terheran dengan adanya sepatu wanita berhak tinggi yang ada di depan rumahnya. Pintu nampak terbuka lebar, membuatnya semakin penasaran dengan siapa yang ada di dalam rumahnya. Terdengar suara tawa di dalam sana.
Dia melangkahkan kakinya berjalan secara perlahan. Hingga ia menemukan Ayahnya yang duduk di sofa, dia terlihat sibuk mengobrol dengan seseorang.
"Gino, akhirnya kamu pulang juga," ucap sang Ayah yang melihat kedatangannya.
"Iya, Yah," sahut Gino sembari tersenyum ke arahnya.
Gino melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Sampai pandangannya tertuju pada sosok wanita yang terlihat seumuran dengan sang Ayah. Wanita itu nampak tersenyum ke arahnya. Melihat senyuman yang terukir oleh wanita itu, Gino pun membalasnya dengan senyumannya.
"Pas banget, sini duduk dulu," ucap Ayahnya sembari menepuk sofa mengisyaratkan Gino untuk duduk bersamanya.
"Tapi, aku belum ganti," ucap Gino.
"Sudah, duduk dulu. Ayah mau ambilin minum, kamu duduk dulu ya," ucap Ayahnya sembari bangkit dari duduknya dan meninggalkan keduanya di ruang tamu.
Setelah Ayahnya pergi semakin menjauh, kini Gino hanya berdua dengan wanita yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Gino sama sekali tidak tahu apa yang harus ia bicarakan dengan wanita itu.
Gino pun melepas sepatunya, kemudian berjalan ke arah rak sepatu yang tidak jauh darinya. Setelah menaruh sepatu yang ia kenakan.
Dengan senyumannya, Gino berjalan ke sofa. Kemudian dia duduk dengan tas ransel yang masih melekat pada punggungnya. Gino merasa canggung dengan semua ini.
Dia bahkan tidak tahu siapa wanita di depan matamu itu. Gino hanya bisa tersenyum setiap kali ia menatap wanita itu. Berharap dapat mengusir rasa canggung nya terhadap wanita yang sedang duduk di depannya.
Kemudian, wanita itu mengatur posisi duduknya. Dia terlihat sedikit lebih mendekat ke arah Gino yang duduk di depannya, dengan meja kayu yang memisahkan keduanya.
"Kamu sering berangkat sekolah?" tanya wanita itu membuka pembicaraan.
"A-Apa, oh iya tentu tante," ucap Gino menjawab dengan terbatas-bata.
"Nilainya bagus?" tanyanya lagi.
"L-Lumayan," jawab Gino.
Gino bahkan tidak bisa mengatakan bahwa nilainya bagus. Karena dia tidak terlalu suka belajar dan hanya mendapat nilai yang pas di KKM.
"Ayah kamu tinggal sendiri sama kamu?" tanya wanita itu lagi.
"I-Iya," jawab singkat Gino sembari tersenyum ragu.
"Oh ya? Gak merasa kesepian gitu pas Ayah kamu lagi kerja?" tanyanya lagi.
Seolah wanita itu tidak pernah habis pertanyaannya. Gino semakin tidak nyaman dengan hal ini. Pertanyaan demi pertanyaan tentang keluarganya terus dilontarkan. Membuat Gino semakin ingin pergi karena merasa tidak nyaman.
Gino hanya menjawab antara ya atau tidak dengan senyumannya ragunya. Berharap ini semua akan segera berakhir.
Hingga pada akhirnya sang Ayah tiba dengan membawa minuman dan makanan ringan yang tersaji di piring yang ia bawa menggunakan nampan. Gino dapat menghela nafasnya lega kali ini. Dengan rasa gembira yang menyeruak, Gino tersenyum melihat kehadiran sang Ayah.
"Aduh, lama ya?" tanya Ayahnya sembari menaruh minuman dan makanan ringan di atas meja.
"Lama banget," batin Gino.
Setelah menaruh semuanya di atas meja, Ayahnya duduk tepat di sampingnya. Melihat sang Ayah yang sudah ada di sini. Membuatnya merasa lega dan berniat untuk beranjak pergi dari ruang tamu.
"Ayah, aku ke kamar ya," ucap Gino yang bangkit dari duduknya.
"Tante," ucap Gino yang tersenyum ke arah wanita itu.
Namun, belum sempat ia melangkahkan kakinya. Tangannya langsung dicekal oleh sang Ayah. Sontak saja Gino terkejut, kemudian menatap sang Ayah yang duduk sofa di dekatnya.
"Jangan pergi dulu," perintahnya.
Awalnya Gino ingin menolak, tetapi tatapannya begitu serius. Hal itu membuatnya menuruti permintaan sang Ayah. Kemudian ia kembali duduk di sofa, tepat di samping sang Ayah. Entah apa yang akan dibicarakan, Gino hanya berharap dia dapat segera pergi ke kamarnya.