[SOPHIA] . Kami tidak berlama-lama di restoran siap saji itu. Hagia langsung mengajakku pergi meski dia belum mau menjawab jelas saat kutanya kemana. "Surprise," ucapnya sambil memamerkan deretan gigi putih bersih di balik seringainya. Selama perjalanan aku diam saja, menikmati hangatnya tangan Hagia yang sengaja diletakkan di atas pangkuanku. Tanpa malu, aku menggenggam tangannya erat, menjalarkn hangat ke seluruh tubuhku. Hagia sempat menoleh sekilas dan memberikan senyumnya. Untuk saat ini, aku merasa cukup terpuaskan, entah nanti, ketika kami sudah berjauhan. Bagaimanapun juga, siap tidak siap, perpisahan kami sudah di depan mata. Aku tidak bisa lagi mengelak, berkelit, atau menghindari kenyataan. Keputusan Hagia sudah bulat dan tidak mudah mengubahnya. Dia sudah berusaha membuat

