Sinar matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden raksasa di ruang kerja Steven, menusuk tepat ke arah matanya yang terpejam. Steven Michael Gilbert mengerang kecil, merasakan denyut yang menyakitkan di pelipisnya seolah ada palu yang menghantam otaknya secara berulang. Dia mengerjapkan matanya, menyadari dirinya masih mengenakan kemeja semalam yang kini sudah kusut masai, meringkuk di atas sofa kulit ruang kerjanya yang beraroma alkohol. Dia mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam tangan perak yang masih melingkar di sana. Jarum jam menunjuk ke angka tujuh pagi. Seketika, memori malam tadi menghantamnya seperti ombak pasang. Dia teringat Yara yang masuk ke ruangannya, dia teringat bagaimana dia memegang dagu wanita itu, dan puncaknya, sebuah kilasan saat dia mencium bib

