110 | Pemuda Gagah

1913 Kata

"Macet banget, ya, Lin?" "Papi nunggu, ya? Lama, ya, Aylin?" Akhirnya, mereka tiba. Aylin dan Baja. Papi Jaya langsung menyongsong putrinya. Aylin cium tangan. "Harusnya sudah sampai satu jam lalu," kata papi. Itu benar, sih. "Macet tadi, Pi." Baja menyahuti. Cium tangan juga. Terpaksa berbohong, tetapi bukannya soal macet memang nyata? "Yuk, masuk, yuk! Cucu Nenek pasti pasti capek, nih, lima jam lebih di jalan. Masuk, Lin, Ja!" ucap Nek Santi. Semula di teras, kini satu per satu memasuki rumah hijau sage. Funfact-nya, ternyata rumah di Banyuliang hampir seragaman warna cat tahun ini. Aylin sendiri kaget waktu mulai memasuki kawasan rumah penduduk Banyuliang. "Lho, kok, hijau sage semua?" katanya, sampai membuka jendela. Memastikan penglihatannya tidak salah, memang benar ada ba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN