Kanaya memilih tidur lagi setelah sholat subuh. Semalam dia begadang habis maraton nonton drama korea Vincenzo. Drama yang dibintangi Song Joong Ki ini sudah lama ingin ditonton oleh Kanaya, hanya saja sejak minggu lalu dia masih sibuk ujian tengah semester. Jadi baru bisa nonton maraton di weekend ini.
Kanaya bangun setelah jam menunjukkan pukul 8.00. Dia tak lekas bangkit dari tempat tidurnya karena masih sibuk memainkan ponselnya, mengecek sosial media. Bisa di bilang Kanaya cukup update di sosial media. Apalagi jika menyangkut update berita BTS. Pasti dia update sekali.
Kanaya hari ini berencana latihan berjalan tanpa tongkat. Dia harus segera terlepas dari tongkat itu. Sudah sebulan lebih Kanaya menggunakan tongkat. Dia sudah tidak tahan ingin berjalan normal lagi.
"Nay, nay, Kanaya" terdenger suara kak icha sambil mengetuk pintu kamar Kanaya.
Kanaya segera berajak dari tempat tidurnya.
"Iya kak" jawab Kanaya setelah membuka pintu kamarnya.
"Kakak dan kak Jaya ada acara piknik kantor di Batu. Kayaknya bakal nginep, tapi besok siang uda disini kok. Kamu gapapa di rumah sendiri?" jelas kak icha.
"Iya gapapa. Khan ada mbak siti, kak. Aman kok" mengangkat jempol tangannya pada kak icha.
"Ok kakak tinggal ya. Daa..." kak icha melambaikan tangannya dan segera berangkat.
Rumah jadi sepi ngak ada Rama Rumi yang biasanya berisik banget. Entah rebutan mainan, berlarian, maen air, dan banyak kelakuan unpexted yang dilakukan ponakanya itu. Kanaya lumayan sering menjadi korban kejailan dua ponakannya itu. Lipcream milik Kanaya pernah di buat melukis diding oleh Rumi. Dan kabel earphone Kanaya pernah di gunting oleh Rama. Sungguh Kanaya harus extra sabar pada dua ponakannya yang sedang explore itu.
Setelah mandi Kanaya sarapan di ruang tengah sembari menonton acara travelling selebritis di televisi. Kebetulan acara tersebut sedang meliput tempat wisata di daerah Kulonprogo, Yogyakarta.
"Emm pengen deh kesana" gumam Kanaya sendiri sambil mengunyah nasi goreng buatan mbak siti.
"Ntar kalo aku uda sembuh aku mau jalan-jalan pokoknya" berbicara pada dirinya sendiri.
Setelah sarapan Kanaya latihan berjalan di carpot rumahnya. Berdiri sambil meraba dinding rumah, Kanaya sedikit demi sedikit berjalan. Kanaya kadang masih merasakan sedikit nyilu pada kakinya ketika berjalan. Tapi Kanaya harus memaksa kakinya agar terbiasa untuk berjalan lagi. Kanaya juga mencoba berjalan tanpa berpegangan pada dinding. Dia berjalan selangkah demi selangkah, berputar-putar mengitari carpot rumahnya.
"Mbak Kanaya, ini dari ponselnya bunyi terus" mbak Siti berlari ke arah Kanaya dan memberikan ponsel Kanaya.
"Makasi mbak Siti" mengambil ponselnya yang berikan mbak Siti.
Kanaya melihat ternyata ada 4 panggilan dari Wira. Laki-laki ini memang ngak pernah absen telponin Kanaya setiap hari. Kanaya lansung balik menelpon Wira.
KANAYA : "Assalamualaikum"
WIRA : "Walaikumsalam. Kanaya Zhavia Al Biruni dari mana aja sih?"
Wira sedikit kesal karena sejak tadi Kanaya tidak angkat telpon darinya.
KANAYA : "Hehe... aduh bapak Perwira Apta Biantara masih pagi uda ngomel-ngomel ya"
Kanaya tertawa mendenger Wira sedikit kesal denganya.
WIRA : "kok kamu tahu nama panjang aku?"
Wira mala salah fokus saat Kanaya mengetahui nama Panjangnya.
KANAYA : "kan waktu kamu seminar nama kamu tertulis jelas di layar LCD. Ya aku baca"
Kanaya dengan santai menjelaskan pada Wira.
WIRA : "Ooh iya ya. Aku mala lupa. Ok kembali ke topik awal. Kamu dari mana aja"
Menuntut jawaban yang jelas dari Kanaya.
KANAYA : "Aku dari tadi latihan jalan wiraaa"
WIRA : "ah masak, aku video call ya"
Meraka memustakan sambungan telponya dan melanjutkanya dengan video call.
KANAYA : "Nih, aku lagi latihan jalan, ngak percayaan banget jadi orang" sedikit sewot karena Wira seperti tak percaya dengannya.
WIRA : "percaya kok Nay. Kamu sampek keringetan gitu. Capek ngak?"
KANAYA : "ya capek lah. Masak ngak"
Jutek abis pokoknya si Kanaya.
WIRA : "aku kirimin caramel maciato dari cafe star? Mau?"
Membujuk Kanaya.
KANAYA : "Mau"
Senyum lebar terbit di raut wajah Kanaya. Mudah sekali Wira membujuk perempuan itu.
WIRA : "happy?"
KANAYA : "heem, happy. Kamu kenapa baik banget sih sama aku? Anter jemput aku kekampus, ke rumah sakit, suka traktir, kirim makanan segala"
Penasaran saja Kanaya iseng bertanya seperti iti.
WIRA : "karena islam amat memuliakan perempuan. Apalagi perempuan seperti kamu amat sangat harus diperlakukan dengan baik. Cuma laki-laki bodoh aja yang meperlakukan perempuan tidak baik. Lagian aku berbuat baik ngak perlu pakek alasan kali Nay. Selama bisa dan mampu yauda ngak usa pikir-pikir untuk berbuat baik ke siapa saja. Termasuk kamu"
Kanaya terdiam mendengar alasan Wira, sedikit tersanjung sekaligus senang mendengar jawaban Wira.
KANAYA : "eem gtu. Ok ok. Kalo gtu"
Menundukan pandanganya dari layar ponselnya.
WIRA : "Yauda tungguin pesenanya sampek ya. Aku mau pergi dulu mau ngurusin penelitianku"
KANAYA : "iya. Kamu hati-hati"
Kanaya melanjutkan latihan berjalan. Kali ini dia sudah bisa berdiri lebih lama tanpa tongkat. Kakinya sudah semakin kuat sekarang Kanaga berharap bisa segera berjalan dengan normal lagi.
Pesanan yang Wira kirimkan akhirnya sampai juga setelah kurang lebih 1 jam menunggu. Kanaya segera membuka paperbag yang baru saja ia terima. Ada dua minuman dan satu kotak kue. Kanaya mengambil satu minuman.
Tertulis
Caramel Maciato for Kanaya, ini permintaan maaf aku. Maaf bikiN kamu kesel tadi.
From Wira.
Kanaya mengambil satu lagi minuman.
Tertulis
Hezelnut Dolce Latte, for Kanaya. Aku tau kamu manis. Ini infused biar kamu tambah manis.
From Wira
Terakhir Kanaya mengeluarkan kotak kue.
Tertulis
Croffle for Kanaya. Ini temen minum aja biar ngak kesepian.
From Wira
Raut wajah Kanaya berbinar, begitu senang dengan perlakuan Wira ini. Laki-laki yang sebelumnya begitu asing sekarang menjadi begitu dengan dan memberikan kebahagian untuknya. Entahlah, seperti perkataan Wira di telpon tadi. Kanaya benar-benar seperti dimuliakan oleh Wira.
Kanaya iseng memotret kiriman ini beserta kata manis yang Wira tuliskan untuknya. Kanaya dengan sengaja mengunggah hasil potretanya ke sosial media miliknya. Tak lupa dia menulis terima kasi dan ditandai ke sosial media milik Wira.
Sejak putus dengan Ario dia tak pernah lagi mengunggah atau sekedar membuat status. Meskipun setiap hari Kanaya membuka sosial media tetapi yang dia lakukan hanya sekedar melihat update di sosial media. Ini kali pertama dia kembali membagikan foto ke sosial media miliknya.
***
Kanaya terus berlatih selama seminggu ini sesuai anjuran dokter. Dan hari ini Kanaya harus kembali ke rumah sakit untuk mengetahui perkembangan kakinya. Seperti biasa, Wira selalu menemani Kanaya.
"Pelan-pelan Nay, aku takut deh liyatnya" memegang lengan Kanaya.
"Cie khawatir ya, takut ya. Acie" mala meledek Wira.
Wira menjepit hidung Kanaya, gemes aja sama celotehan Kanaya. Mereka mengantri seperti biasa sebelum bertemu dokter.
Kali ini Kanaya langsung diminta berjalan oleh dokter. Dokter melihat Kanaya sudah cukup lancar berjalan saat memasuki ruangan. Kanaya berjalan di depan dokter dan seorang terapis yang biasa menanganinya. Dokter mamperhatikan Kanaya selama berjalan. Kanaya berjalan dua kali megitari ruangan. Dan Kanaya diminta duduk lagi.
Menurut dokter Kanaya sudah bisa sepenuhnya melepas tongkatnya. Tetapi dokter menjelaskan bahwa untuk lebih memastikan kondisinya, Kanaya harus rontgen sekali lagi. Seorang suster langsung mengarahkan Kanaya keruang rontgen. Kanaya melakukan semua arahan dari suster dan seorang petugas radiologi. Lalu Kanaya diminta untuk menunggu hasilnya dan kembali lagi ke dokter untuk membacakan hasil foto rontgennya.
Kanaya dan Wira memilih menunggu di kantin rumah sakit. Kata suster hasil rontgen bisa ditunggu sekitar 45 setelah pemeriksaan. Jadi Kanaya dan Wira memilih membeli minuman sembari menunggu. Ingat adegan nangis-nangis Kanaya karena haus tempo hari? Wira tak mau mengulang itu. Antisipasi sebelum Kanaya bilang haus mending di kasih minum duluan.
"Mau minum apa?" tanya Wira pada Kanaya yang sibuk memandang menu.
"Air mineral dingin aja deh" membalikan tubuhnya menghadap Wira.
"Itu aja?"
"Heem" Kanaya mengangguk penuh keyakinan
"Tumben"
Dan Wira segera bergegas membeli sebotol air mineral dingin.
"Lah kamu ngak pesen minum?" tanya Kanaya bingung karena Wira hanya membeli sato botol minuman.
"Aku minta air kamu aja ya" sambil membuka tutup botol.
Kanaya tertawa.
"Iya boleh. Lagian yang beli kamu ini"
Mereka kembali ke ruang radiologi setelah 45 menit berlalu. Seorang suster rupanya sudah menanti mereka. Dan memberikan hasil rontgen tadi. Kanaya kembali diarahkan ke ruang dokternya untuk membacakan sekaligus menjelaskan foto rontgennya.
Dokter membuka hasil rontgen Kanaya. Kata dokter hasilnya bagus, kondisi kakinya baik-baik saja. Kanaya tidak perlu lagi kontrol dan terapi lagi. Yang pasti tidak perlu berjalan dengan tongkat lagi. Tetapi tetap harus sering berjalan agar bisa berjalan normal seperti semula. Dan Kanaya belum boleh berolaharaga terlalu berat. Karena di khawatirkan akan cedera lagi.
Kanaya mengucap syukur kepada Allah SWT, dia masih diberikan kesempatan untuk berjalan dengan normal lagi. Mengucapkan terima kasih kepada dokter. Kanaya amat senang dengan kabar bahagia ini. Dia segera memberikan kabar bahagia ini pada orang tuanya melalui sambungan telepon.
KANAYA : "Assalamualaikum. Mama kata dokter aku uda ngak perlu pakek tongkat. Aku uda boleh jalan seperti biasa. Aku sembuh mama"
Lalu dia menceritakan semua yang dokter katakan pada mamanya.
MAMA : "Alhamdulillah Nay. Mama lega kamu uda sembuh. Lain kali hati-hati"
Seperti biasa mama Kanaya akan menasehati putri satu-satunya itu seperti sedang ceramah. Tak lupa mama Kanaya juga meminta Kanaya untuk syukur kepada Allah atas kesembuhannya.
Saking hebohnya teleponan dengan mamanya Kanaya sampai lupa bahwa ada laki-laki yang dia cuekin. Memang sejak keluar dari ruangan dokter Kanaya langsung menghubungi mamanya untuk memberikan kabar bahagia ini. Wira yang mengikuti Kanaya, hanya bisa memperhatikan dan menunggu Kanaya sampai selesai berbicara dengan mamanya.
"Uda?" netra coklatnya menatap Kanaya.
"Iya uda" membalas tatapan Wira kepadanya.
Mereka saling menatap satu sama lain. Tanpa mengucapkan satu katapun. Tanpa aba-aba Wira meraih lengan Kanaya dan menariknya ke dalam pelukannya. Mata Kanaya membola, tubuhnya membatu. Amat terkejut dengan perlakuan Wira padanya.
"Aku lega banget kamu uda sembuh. Ikut seneng bisa liyat kamu sehat lagi. Jujur aku sedih banget tahu kaki kamu cedera dan harus pakek tongkat. Aku ngak pernah tega harus liyat kamu kesakitan tiap kali terapi"
Kanaya menyimak dengan seksama semua ungkapan perasaan Wira, apa yang dirasakan laki-laki itu selama ini.
"Makasi. Kamu selalu ada buat aku. Nemenin aku terapi, anter jemput aku. Ini semua berkat kamu juga"
Kanaya merenggangkan pelukannya, netra coklatnya menatap Wira dengan senyum bahagia yang terpancar diwajahnya.
Mereka berdua berjalan menuju mobil di parkiran rumah sakit.
"Mau jalan-jalan ngak? Khan kakinya uda sembuh" tanya Wira pada Kanaya.
"Mau. Aku pengen travelling ke Jogja" netra coklatanya menatap Wira sambil tersenyum. Kanaya amat exited membahas soal travelling.
"Boleh sih. Tapi kalo kesana harus nunggu libur agak lama. Kan kamu kuliahnya masih padet tuh"
"Iya sih" sedikit kecewa, tapi emang benar yang diucapkan Wira.
"Ke batu aja gimana weekend besok?" ajak Wira.
"Boleh boleh. Aku ajak Cia" Kanaya tampak exited sekali.
Wira bergumam sendiri.
"Kenapa jadi ngajak Cia. Kan aku maunya berdua aja Nay. Hadugh si Kanaya ngak peka nih"
"Wira, wira" panggil Kanaya yang membuyarkan lamuman Wira.
"Emm iya Nay" kembali fokus pada Kanaya.
"Boleh ngak ajak Cia" menunjukkan raut wajah segera diberikan jawaban.
"Oh...iya boleh. Boleh koq" dengan wajah datar sedikit kecewa.
"Asyik" nampak senang, exited.
Wira mengantar Kanaya pulang seperti biasa setelah dari rumah sakit.
(Bersambung)
Terima kasih telah membaca episode ini.???
Mohon berikan komentar/saran membangun untuk judul ini.???
Follow me?
IG Maylafaisha.rl