Pikiran dan sikap Irvan tidak bisa dikendalikan lagi. Semalaman, isi kepalanya hanya Cheryl dan Cherly. Dia bahkan sempat uring-uringan di kasur, ketika mengingat pemandangan indah yang sempat terjadi barusan. Wajah keduanya sangat dekat, bisa merasakan nafas satu sama lain. Jarak antara Irvan dengan Cheryl juga nyaris tidak ada. Ingin sekali rasanya Irvan memeluk wanita itu dengan erat, tanpa takut apapun. Sayangnya, dia masih berusaha untuk mewaraskan diri, tidak mau memancing kesalahpahaman dan keributan antara dirinya dengan Leon.
“Sayang sekali, harusnya aku yang duluan memiliki mu. Aku terlambat, dan kenapa juga kita harus dipertemukan dalam keadaan seperti ini. Tidak boleh! Kamu bukan kakak ipar ku Cheryl. Kamu akan jadi kekasihku," monolognya.
Begitupun dengan Cheryl sendiri. Dia tidak bisa membohongi hatinya, bahwa Irvan memanglah sangat tampan. Badannya tinggi, dan tubuhnya atletis. Kulitnya putih bersih, rahangnya terpahat sempurna. Hidungnya juga mancung, matanya agak sipit dan menawan. Bibir Irvan juga seksi. Leon juga tampan, tapi tentu tidak bisa menyaingi ketampanan adiknya sendiri.
“Ah, bisa gila aku!"
***
Sama seperti pagi biasanya. Cheryl sibuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk Leon. Dari arah belakang, Irvan tiba-tiba mengucapkan sesuatu, yang membuat Cheryl terlonjak kaget.
“Aku juga ingin dibuatkan bekal–"
“Hah! Astaga! Aku kira kamu siapa. Kalau berbicara dengan orang itu kasih aba-aba dong. Jangan tiba-tiba begitu, aku suka kaget!" tampak ada rona merah muda di wajah Cheryl, yang untungnya tidak dilihat oleh Irvan.
“Oh, iya maaf. Aku minta dibuatkan bekal juga. Kalau bisa, porsinya agak banyak. Aku malas mengantri di kantin. Tidak apa-apa kan?" pintanya.
“Iya, tidak apa-apa. Kamu tunggu saja di meja makan. Sarapannya sebentar lagi aku siapkan."
“Iya. Terimakasih, Kak."
Wah, apakah Cheryl tidak salah dengar? Pria itu mengatakan ‘terimakasih'? Untuk ukuran pria dingin sepertinya, bukankah itu adalah hal yang sangat baru? Ah, jantung Cherly tidak tidak aman kali ini.
Di tengah perbincangan itu, Leon datang ke sana. Dia memeluk istrinya dari belakang seperti biasa. Menggoda Cheryl di pagi hari, adalah agenda wajib yang rutin dia lakukan. Leon juga bukannya tidak menangkap sinyal bahaya dari gerak-gerik Irvan. Dia mulai curiga karena masalah yang kemarin, tidak peduli Irvan mau menjelaskan apa.
“Rambut kamu tambah panjang. Apa aku saja yang merasa begitu, Sayang.?" tanya Leon. Tangannya membelai lembut surai panjang, hitam, lebat milik istrinya.
“Mungkin sih. Akhir-akhir ini, aku memang stres karena masalah dari luar. Apa tidak rontok? Kamu malah merasa tambah panjang?"
Sebuah ketukan sayang di puncak kepala Cheryl Leon layangkan.
“Sudah. Jangan pikirkan masalah kemarin. Nanti kamu sendiri yang rugi. Tapi, kalau mereka berani macam-macam lagi, aku akan langsung membuat perhitungan."
Cheryl berbalik arah menghadap Leon. Pria itu segera memojokan istrinya ke tembok. Tidak peduli jika disana ada sepasang mata yang menatap tajam dan kesal.
“Sudah, ayo sarapan. Kamu tidak takut telat?"
“Hahahaha. Tidak kok. Aku dapat jadwal siang untuk memimpin rapat besar. Yah, meskipun persiapannya tidak bisa dadakan sih."
“Ya sudah. Kalau begitu cepat makan dan berangkat sana!" Dia mendorong tubuh Leon dan menyuruhnya duduk di kursi.
“Kenapa diam? Makan," titah Cherly. Karena Leon hanya diam memandangnya.
”Aku sudah pakai baju rapi, dasi juga. Suap. Nanti tanganku berminyak," pintanya manja. Irvan merasa panas melihat hal itu.
“Hah, padahal kan bisa pakai sendok. Kamu cuma alasan saja."
Selesai dengan rutinitas pagi itu, Leon dan Irvan segera pergi bersama ke kantor.
Kejadian menjengkelkan itu membuatnya memiliki mood yang buruk di sepanjang di kantor. Irvan yang sedang jatuh cinta menjadi sensitif terhadap hal apapun. Dia jadi mudah marah seperti wanita yang sedang pms. Bahkan, ketika Medina dengan ramah menyapanya.
“Hai, tampan. Kamu mau kopi? Aku bisa belikan kalau kamu mau–"
“Jangan ganggu aku. Pergi saja dan urus pekerjaanmu sendiri. Merepotkan!" Yang dibalas dengan omelan yang tidak menyenangkan.
“Kamu masih marah gara-gara masalah kemarin ya? Tapi, aku sudah mendapatkan sanksi kok. Jadi, kamu jangan marah lagi," bujuknya manja.
Irvan menatap manik mata Medina yang penuh harap …, “Aku bilang pergi, sebelum berkas-berkas berat ini menghantam kepalamu yang keras itu (keras kepala). Huh, dasar."
Semua staf karyawan yang ada disana menatap heran. Saling berbisik dan bergosip, mengenai perubahan drastis yang dimiliki oleh Irvan. Pria dingin yang biasanya hanya diam itu, kini sedang mengoceh panjang pada Medina.
“Aku baru akan puas kalau melihat kamu dihukum secara langsung, dihadapan semua staf lain. Kalau seperti itu, siapa kira-kira yang akan percaya, kalau bos sudah memberikan sanksi?"
Ucapan menohoknya membuat hati Medina terasa seperti teriris sembilu. Dia melengos pergi begitu saja. Bisik-bisik kecil, dibarengi oleh tawa para gadis yang mengejeknya tidak dia hiraukan.
“Awas kamu Irvan. Aku akan membuat kamu menjadi milikku, bagaimanapun caranya. Kamu akan tunduk padaku suatu saat nanti!" tekadnya.
***
Tibalah saatnya untuk makan siang. Kantin kembali sibuk dan penuh dengan antrian. Irvan sendiri hanya membeli air mineral dan memakan bekal dari Cheryl, bergabung bersama staf pria lain di ruang makan.
“Wah, sepertinya enak. Siapa yang membuatkanmu sarapan?" temannya itu mengambil satu buah sosis goreng dari Irvan, dan dibahas dengan amarah.
“Loh, kenapa tiba-tiba kamu ambil sih? Aku sudah kasih izin? Kalau mau tanya, ya tanya saja. Jangan main comot begitu." Dia merebut kembali sosisnya, walaupun sudah dimakan setengah.
“Menyebalkan!" gumamnya, seraya berpindah posisi ke tempat lain dan menyendiri.
“Eh, apa-apaan sih? Dia kenapa yah? Tumben bersikap seperti itu."
“Kalian ini, tidak tahu ya kenapa seorang pria pendiam dan tampan bisa tiba-tiba begitu?" sahut staf pria yang lain.
“Tidak. Memangnya kenapa dia? Apa jangan-jangan, pria juga punya masa-masa pms nya sendiri?"
Ucapannya itu sukses mengundang pukulan kecil di kepalanya.
“Ngawur sekali kamu! Sudah tentu bukan bodoh!"
“Lantas karena apa? Dari tadi tidak serius," ucapnya. Seolah-olah, bukan dirinya yang sejak tadi bercanda.
“Kasmaran …"
“Eh, yang benar? Kenapa kamu bisa tahu?" Mulailah pria-pria itu melakukan gosip mereka.
“Iya, bukannya harusnya dia senang karena sedang jatuh cinta begitu? Ini kok malah marah-marah sih?"
“Heh, kan tidak semuanya jatuh cinta berjalan dengan normal loh. Mungkin saja, perasaannya sedang tidak enak, karena wanita yang dia cintai, sedang bersama pria lain atau apa. Bisa jadi kan?"
“Oh, iya juga sih. Kenapa aku tidak kepikiran yah? Hahahaha."
Irvan melihat gerombolan itu langsung mendekat dan ikut mendengarkan.
“Sepertinya seru, sedang membicarakan apa kalian?"
Semuanya langsung bubar, dan hanya menyisakan lima orang disana.
“Eh, kenapa bubar? Dasar aneh. Kalian tidak sedang membicarakan aku kan?"
Untung saja bel kantor berdering. Menandakan jam istirahat sudah selesai. Pertanyaan Irvan tidak terjawab, karena hal itu. Teman-temannya yang lain menarik nafas lega.
Salah satu teman Irvan berkata, “Medina menyuruhmu untuk pergi ke ruangan pribadi bos." Disaat Irvan bahkan belum duduk di tempatnya.
“Memangnya ada hal penting apa yang harus dibicarakan?"
“Tidak tahu. Medina tidak memberitahukan detailnya padaku. Kamu pergi saja kesana untuk memastikannya sendiri," ujarnya. Dia kembali ke tempatnya dan langsung mengetik berkas-berkas di komputer.
“Apa lagi sekarang? Dia masih belum sadar juga atau bagaimana? Kalau aku ini sudah muak dengan sifatnya yang egois dan pengadu."
Ruang pribadi bos ada di lantai lima. Butuh menggunakan lift untuk sampai kesana. Untuk karyawan dengan jabatan tinggi, bos sudah menyediakan lift khusus, sayangnya tidak bisa digunakan oleh Irvan karena dia hanya pegawai biasa.
Setelah menyusuri lorong yang panjang, Irvan akhirnya sampai ke ruang pribadi bos. Segera dia mengetuk dengan sopan dan meminta izin untuk masuk.
Bos langsung menyambutnya, dan menyuruh Irvan untuk duduk di sofa, telat berhadapan dengan sang bos.
“Maaf sebelumnya, kenapa anda meminta saya untuk datang kesini secara mendadak?"
“Oh, begitu. Aku ingin memberikan kamu sebuah tugas penting."
“Apa itu."
Medina ikut duduk bersama mereka dan masuk ke dalam perbincangan itu.
Bos kemudian menjelaskan suatu pekerjaan yang akan dia tugaskan pada Irvan. Namun, pekerjaan ini harus dilakukannya bersama dengan Medina. Wanita itu sudah mengatur semuanya agar sang bos setuju dengan usulannya, dia jadi punya banyak kesempatan untuk menggoda Irvan.
“Tapi, Bos. Kenapa anda mempercayakan tugas ini kepada saya? Dibandingkan yang lain, saya masih baru dan belum memiliki pengalaman apapun," jawab Irvan.
Bos tertawa sarkas. “Tidak apa-apa. Aku ingin melihat, sampai mana bagusnya kinerja karyawan ulet dan tekun sepertimu. Kemarin, aku juga kagum karena kamu berani menjawab keputusanku. Sikapmu itu, aku suka," ungkapnya asal-asalan. Irvan sendiri tahu, bahwa ini hanyalah akal-akalan Medina saja.
“Baiklah Bos. Saya akan melakukannya dengan sangat baik!"
Dia lalu keluar dari ruangan pribadi bos. Perasaannya tidak karuan. Rasa senang dan gugup bercampur menjadi satu. Ini adalah kali pertama dia dipercaya oleh sang bos untuk menangani pekerjaan yang biasanya di handle oleh Leon dan sekelasnya.
“Yah, meskipun bukan sepenuhnya karena kerja kerasku, melainkan karena wanita itu. Setidaknya, dia masih berguna juga untuk hal seperti ini. Kalau aku berhasil, nanti pasti akan mendapatkan promosi untuk naik jabatan."
Kakinya melangkah ke rooftop kantor, yang ada di lantai teratas. Memikirkan kecantikan Cheryl, yang entah bagaimana bisa membuatnya tertarik.
“Kamu satu-satunya wanita yang bisa membuat aku gila seperti ini."
“Mana ucapan terima kasihnya?"
Sebuah suara manis yang dibuat-buat terdengar. Itu adalah Medina.
“Aku belum mendapatkannya tuh. Kamu bisa mendapatkan kepercayaan bos karena aku juga kan? Jadi, jangan lupa untuk berterimakasih."
“Ya, terserah. Tapi, lebih baik jangan menjilat seseorang untuk naik ke atas. Menjijikan sekali."
“Hahaha. Kamu naif atau bagaimana, Irvan? Begitulah caranya bertahan hidup di ranah perkantoran seperti ini. Yah, harus bisa mengalahkan semua karyawan lain yang ingin naik ke atas juga."
Irvan terdiam. Medina, meskipun tukang mengadu dan suka menjilat bos, pikirannya jauh ke depan. Dia adalah tipe wanita licik yang berusaha mendapatkan apapun keinginannya meskipun dengan cara yang kotor.
“Yang penting, kamu juga senang kan sudah mendapatkan kepercayaan bos?"
“Mungkin. Tapi, aku punya satu pertanyaan padamu. Jawab dengan jujur dan jelas."
“Apa itu?" Memasang pendengarannya baik-baik.
“Kenapa kamu tidak berhenti mengejar-ngejar aku? Maksudku, apa alasanmu mencintaiku?" tanya Irvan serius.
“Itu dua pertanyaan, bukan satu. Jadi, tidak akan aku jawab." Medina meninggalkan Irvan sendirian dengan tanda tanyanya.
“Yah, apapun itu. Pasti jawabannya tidak jauh-jauh dari tampan, atau apalah itu."
Sementara itu di ruangan Leon, seseorang masuk ke dalam sana.
“Bos menyuruh Anda untuk menemuinya di ruangannya."
“Kenapa? Apa ingin membahas rapat tadi siang?"
“Bukan. Tapi untuk lebih jelasnya, anda pergi sana."
“Baiklah. Terimakasih untuk informasinya."
“Sama-sama, Pak."
Bos sudah menunggu Leon, bersama dengan kopi panasnya yang masih mengepul.
“Bos, apa anda memanggil saya?"
“Iya, duduklah. Minum dulu kopinya agar kamu tenang sedikit."
Leon menurut dan ikut menyeruput kopi panas itu.
“Jadi, begini. Aku punya kolega bisnis yang berada di Bali. Nah, dia terlalu sibuk untuk datang kemari. Setelah melewati banyak musyawarah, aku memutuskan untuk mengirimkan utusan saja ke sana."
“Ah, saya mengerti, Bos. Anda ingin saya untuk melakukan pekerjaan bisnis ke Bali?"
“Iya. Kau bisa bertemu dengan utusan kolega bisnisku disana."
“Baiklah, Bos. Kapan saya harus pergi ke sana?"
“Mungkin sekitar 3 hari lagi. Persiapkan saja semuanya. Aku tidak ingin ada kesalahan apapun. Kamu mengerti?"
“Saya mengerti bos!" Menundukan wajah sopan.
Leon kembali ke ruangannya dengan perasaan puas. Ada seseorang yang sebenarnya ingin dia temui di Bali. Namun karena padatnya jadwal pekerjaan, dia jadi tidak punya waktu sama sekali.
Sebuah pesan teks dia kirimkan ke kontak, dengan foto profil gadis cantik, yang memakai baju sebatas lutut, memakai topi pantai dan tersenyum manis. Kulitnya eksotis seperti atlet.
“Kita bisa bertemu sebentar lagi. Kamu jangan khawatir."
Tidak lama kemudian, ada pesan balasan yang muncul.
“Eh, yang benar? Kapan? Aku sudah tidak sabar nih!" Ada emoticon love yang sangat banyak pada pesan balasan. Hati Leon berdegup kencang. Jantungnya seperti akan berpindah ke bagian lain.
“Sekitar tiga hari lagi kalau tidak ada kendala. Kamu tunggu saja. Aku pasti akan kesana."
“Kalau begitu, aku boleh minta oleh-oleh tidak?"
“Tentu sangat boleh."
Tanpa dia sadari, Irvan melihat semua itu dari sela-sela pintu yang terbuka sedikit.
“Apakah dia sedang melihat video lucu atau apa? Tapi kok, malah lebih terlihat seperti sedang bertukar pesan dengan seorang kekasih?" pikir Irvan.
Malam hari sudah tiba. Leon melangkah tergesa-gesa ke dalam kamarnya. Irvan mengintip dari celah pintu kamar.
“Aku akan melakukan perlahan bisnis tiga hari lagi. Bisa bantu aku untuk mengemas pakaian?"
“Loh, kan masih lama. Benar mau secepat ini?" tanya Cheryl.
“Iya. Takutnya, nanti ada yang tertinggal dan ribet waktu hari H."
“Oh. Ya sudah. Aku memasukan baju-baju kamu ke dalam koper ya."
“Iya, terimakasih banyak, Sayang."
Irvan pergi ke kamarnya sendiri. Disana, sibuk berpikir tentang semua keanehan ini. Namun tiba-tiba, “Ya ampun! Kenapa aku baru ingat. Kalau Leon pergi dari sini, berarti di rumah hanya ada aku dan …"
Menarik nafas bahagia panjang-panjang. “... Cheryl?"
Kembali dia melompat-lompat gembira. “Kakak ipar, kali ini, tunggu saja aksiku. Kamu tidak akan bisa kemana-mana lagi!"