Sulit untuk keluar dari kerumunan para hadirin yang datang, berdesak-desakan, dan terasa sumpek sekali. Beruntung keduanya bisa segera cepat keluar dari sana. Irvan segera menarik tangan Alea untuk masuk ke dalam mobil. Awalnya, gadis itu masih ingin mengomel, namun tidak jadi ketika Irvan memakaikannya sabuk pengaman. Nafasnya terhenti sejejak, pipinya merona dan jantungnya tidak bisa berdetak dengan normal lagi. Di perjalanan, Alea mengajak Irvan berbicara karena bosan. “Kamu kenapa sih buru-buru seperti itu? Kan aku belum puas ikut acaranya." Sembari menggoda, dengan suara manja. “Berapa kali aku harus bilang? Kalau lambungku sedang kambuh, kamu mau aku mati?" “Cuma masalah lambung memangnya bisa mati ya?" tanya Alea sok polos. Dia memang sengaja membuat Irvan membalas perkataan

