Lima belas

1070 Kata
Dari arah belakang, Irvan tiba-tiba muncul dan sengaja untuk mengambil kesempatan. Bagaimana dia bisa tidur, jika isi pikirannya sangat penuh dengan Cherly? Mengingat mereka hanya berdua saja di dalam satu atap, tapi berstatus kakak dan adik ipar. Dia tahu bahwa Cheryl juga tidak bisa tidur. Dengan cepat ikut keluar kamar ketika melihat kakak iparnya pergi ke dapur. “Kenapa, Kakak belum tidur?" tanya Irvan berbasa basi. Cheryl menoleh ke samping, posisinya sedang bersisian dengan tubuh jangkung Irvan. “Oh, aku haus. Teko di dalam kamar isinya kosong. Jadi terpaksa turun ke bawah deh." “Hum, begitu ya. Bukannya karena tidak bisa tidur?" “Yah, agak sih. Aku tidak bisa tidur tenang, karena biasanya tidur bersama Leon." “Aku juga tidak bisa tidur, Kak. Entah kenapa …." Irvan mengambil air di galon, hingga membuat Cheryl terpojok di dalam kedua tangan Irvan. Gadis itu mematung tanpa berani bergerak sedikitpun. Nafas mereka saling terasa satu sama lain. Kedua netra keduanya bertemu untuk selang waktu beberapa detik. Sukses membuat Irvan salah tingkah, begitupun dengan Cheryl, namun dia masih berusaha untuk bersikap waras. Bukan pendekatan yang terkesan memaksa dan kurang ajar, Irvan ingin melakukannya dengan perlahan, dan lembut. Membuat kakak iparnya itu jatuh hati pasti akan sulit sekali, namun siapa yang tahu jika dia tidak berhenti untuk mencoba? Cheryl sendiri berusaha untuk menyingkirkan semua pikiran negatifnya. Dia tidak melihat wajah nakal Irvan yang waktu itu, jadi bisa bernafas lega sedikit. “Kak …." “Ya? Kamu butuh sesuatu?' “Bukan. Aku tidak bisa tidur. Kakak juga kan?" “Hah? Iya. Lalu?" “Mau menonton bersama?" tawar Irvan untuk menghilangkan kecanggungan itu. Dia akan bersikap dan berperilaku sebagaimana adik ipar yang baik, meskipun dengan niat tersenyum. Melihat wajah adik iparnya yang penuh harap, Cheryl tidak bisa menolak. “Boleh. Kita menonton di ruang keluarga saya, ya. Agak bagaimana jika di dalam kamar. Mengerti maksudku kan?" Irvan mengangguk mantap, dan tidak bisa lagi mengaburkan rasa bahagia di wajahnya. Cherly ikut senang ketika dia tersenyum lebar. Ada setitik rasa aneh yang berdesir kencang di hati gadis itu. Membuat jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Irvan pergi duluan ke ruang keluarga, dilanjut oleh Cherly yang mengekor dari belakang. Sesampainya disana, keduanya malah saling diam, karena bingung ingin menonton film apa. “Mau menonton film apa? Aku tidak tahu Kakak suka film apa." “Hum, terserah saja sih. Kamu sendiri suka film yang seperti apa?" “Aku? Mungkin, aksi dibalut adegan romantis … sedikit." “Oh, begitu ya. Kalau aku, lebih suka film psikologi dan misteri. Tapi karena sekarang sedang sepi di rumah, ikut saranmu saja deh." “Baiklah." Irvan menyalakan televisinya. Kemudian memilih satu film aksi yang sangat menarik. Cheryl duduk di bawah lantai, namun dilapisi oleh karpet tebal yang berbulu. “Tunggu sebentar ya, aku mau ambil bantal dan selimut. Biasanya suka langsung ketiduran." “Hah? Ketiduran?" Pikiran Irvan langsung melayang entah kemana ketika mendengar kata ‘ketiduran'. Itu artinya, dia akan melihat Cheryl yang sedang terlelap? Bagaimana jika dia tidak tahan untuk melakukan hal buruk pada kakak iparnya itu? Ah tidak, jangan sekarang! Irvan Sudah berjanji akan melakukannya perlahan. Cheryl datang, dia membawakan banyak camilan dan sebelumnya sudah membuat popcorn dadakan. “Ambil saja kalau kamu mau, ya." “Iya." Posisi duduk mereka agak berjarak sekitar beberapa centimeter. Bukan, bukan filmnya yang Irvan perhatikan, tapi kakak iparnya yang sangat dekat itu. “Kak …," ucapnya kemudian. Perkataannya terpotong tatkala melihat sebuah adegan di televisi. Cheryl menelan salivanya susah payah. Kecanggungan antara keduanya kembali hadir, bahkan lebih pekat dari saat-saat sebelumnya. “Anu …," Cheryl pura-pura tidak dengar dan masih fokus menonton, sampai adegan itu selesai. Di akhir film, Irvan melihat pemandangan yang sangat dinanti-nantikan. Yaitu ketika kakak iparnya itu jatuh terlelap. Bulu matanya lentik, dan semakin lentik saat netranya tertutup rapat. Nafasnya tenang dan berirama konstan. Irvan menarik selimutnya sampai sebatas d**a, menutupi tubuh kakak iparnya, yang tampak kedinginan. Daripada melakukan hal jahat seperti yang dipikirkannya tadi, dia ternyata lebih suka melihat Cheryl yang tenang seperti ini. “Aku jadi iri, Leon setiap hari melihat yang seperti itu. Andai saja, kau milikku. Kita bertemu agak terlambat, tapi masih ada kesempatan sepertinya," gumamnya dalam hati. Irvan Ikut merebahkan dirinya di sambil Cherly. Menatap lebih dalam wajah kakak iparnya itu. Tangannya membelai rambut Cheryl, mengusap-usap wajahnya, dan memainkan anak rambut gadis itu. Sisi jahat dalam pikirannya memaksa Irvan untuk melakukan lebih. Irvan memajukan wajahnya, mencium singkat kening Cheryl. Setelah itu, dia kabur ke kamar, berlari-lari untuk sampai ke sana. Wajahnya memerah, ketika merasakan sensasi aneh yang dia rasakan di d**a. Jantungnya seperti akan berpindah dari posisi semula, dia rasakan juga berdetak lebih cepat dari biasanya. “Hah, sialan! Aku tidak tahu kalau rasanya akan seperti ini!" Keringat dingin mulai turun dan perlahan membasahi pelipis Irvan. Kerah bajunya ikutan basah sedikit. Senyuman paling manis dia layangkan. Perasan bahagia itu muncul seperti sengatan listrik, menjalar ke seluruh bagian tubuh Irvan yang terbentuk dari banyaknya partikel-partikel kecil. Tubuhnya dia hempaskan ke kasur. Tertawa gila dan tidak bisa berhenti tersenyum. “Ah, sialan … sialan!" Keesokan paginya, Cherly bangun dari tidurnya yang nyenyak. Dia masih berada di ruang keluarga, karana Irvan sengaja tidak memindahkannya ke ke atas. Hal itu dia lakukan untuk menghindari kesalahpahaman. “Jam berapa sekarang—oh, jam 7 6 pagi. Aduh, aku harus tetap memasak untuk porsi dua orang." Di dapur, ternyata Irvan sedang memasak nasi goreng, yang dipadukan dengan daging sapi premium hasil impor dari Jepang. “Kamu sedang membuat sarapan?" “Iya. Semakin untuk, Kakak juga." “Eh? Terimakasih, kalau begitu." “Hum …." Cherly yang masih mengantuk menunggu di meja makan. Dia menaruh kepalanya di atas kedua tangannya yang dilipat silang. “Leon, aku rasa tidak pernah seperti itu. Aku tidak boleh jatuh cinta hanya karena sikapnya yang seperti itu. Iya kan?" tanyanya pada diri sendiri. Irvan datang, membawa dua piring nasi goreng panas yang masih mengepul. Terlihat lezat dan menggugah selera. “Wah, kelihatannya enak. Aku tidak tahu kalau kamu bisa memasak." “Iya, sekarang sudah tahu kan." “Hahaha. Aku coba dulu deh, siapa tau rasanya tidak seenak penampilannya kan." “Silahkan." Setelah menyendokkan nasi goreng itu ke mulut, rasa lezat langsung menggerogoti lidahnya. “Wah! Ini enak sekali loh. Aku heran kenapa kamu tidak jadi koki saja, sih. Padahal kalau buka restoran, pasti ramai yang akan datang kan!" serunya memuji. Seketika Irvan tersipu malu, pipi itu berubah memerah, seolah pujian itu berubah menjadi kalimat cinta baginya. Mungkinkah hati itu telah terperangkap oleh Cheryl?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN