Part 1

1749 Kata
Hening. Tak ada suara apapun di kamar Maita saat ini. Gadis cantik itu, mengigit bibir bawahnya dengan cemas. Gadis yang baru saja menerima ijazah SMA itu, mendadak menjadi lunglai setelah mengetahui hasil, dari benda pipih yang tengah dipegangnya. Ya, dua garis biru dari benda kecil yang akan menentukan nasibnya kedepan. Tak seharusnya, Maita melakukan hal yang tak pantas bersama jackson kekasihnya dua bulan lalu, menuruti nafsu dan bujuk rayu sang kekasih. Walaupun, Jackson berjanji akan bertanggung jawab dengan risiko yang akan terjadi. Namun, hati Maita mengatakan tidak kali ini. Rasa percaya dalam diri gadis itu, mulai memudar. “Hamil,” gadis itu hanya tersenyum kecut saat menyadari dirinya tengah berbadan dua. Maita mulai tersadar, betaba bodoh dan naif dirinya kala itu. Hingga begitu percaya dengan perkataan Jackson dan dibutakan oleh cinta. Lelaki blasteran jepang indonesia itu telah merusak hidup Maita. Ketika Maita menaruh harapan besar kepada lelaki itu, tanpa ada angin ataupun hujan, dia pergi begitu saja tanpa ada kabar. Sudah satu bulan Jackson menghilang bak ditelan bumi. Bahkan ponselnya saja tidak dapat dihubungi. Berbagai macam cara Maita lakukan untuk mengetahui di mana keberadaan kekasihnya itu. Bukan hanya dirinya. Namun, teman-teman dekat Jackson juga tidak mengetahui keberadaan sang kekasih. Nasi telah menjadi bubur. Penyesalan tak akan mengubah nasib gadis malang itu. Jalan satu-satunya dengan cara menghadapinya, bukannya lari. “Bodoh kamu Mai, seharusnya kamu tidak mempercayai ucapan Jackson hiks ...,” butiran bening lolos dari pelupuk mata gadis itu. Dengan cepat dia menghapus menggunakan jemarinya. Embusan napas berat dan panjang membuat dadanya naik turun semakin terasa sesak. Maita begitu takut jika sang ayah mengetahui kenyataan tentang dirinya. Dia bahkan sudah tahu konsekuensi apa yang akan dia terima. Dari perbuatan yang dia lakukan bersama kekasihnya itu. Tanpa berpikir panjang, Maita keluar dari kamar mandi. Kaki jenjangnya, membawa langkah gadis itu menuju kediaman Jackson. ** Hanya dalam hitungan menit, Maita sudah berada di hadapan Sofia ibunda Jackson. Dengan ragu Maita mengatakan apa tujuan dia datang menemui ibunda Jackson. Kecewa. Kesal. Marah. Hanya itu yang bisa menggambarkan perasaan Maita saat ini, setelah mengetahui Jackson telah pergi meninggalkan dirinya dengan beban yang harus dia tanggung sendirian tentunya. “Hamil?” Wanita yang duduk dengan anggun itu, terperanjat saat mengetahui putra semata wayangnya, telah membuat gadis muda di hadapannya saat ini berbadan dua. Sofia memijit pelipisnya. Kepalanya mendadak seperti berputar. Napasnya semakin tak teratur. Namum, kesadaran wanita paruh baya itu tetap terjaga. “Tante ... bolehkah saya tahu dimana Jackson saat ini?” Lirih Maita. Perasaan ragu menyeruak di dalam benaknya saat ini. Sofia melirik Maita dengan ekor matanya. “Bukankah ...,” Sofia menarik napas berat, “Kamu seharusnya tahu keberadaan Jackson, jika kalian memang menjalin hubungan. Atau ... jangan-jangan itu bukan anak Jackson?” Deg Ucapan Sofia, kali ini seperti tamparan keras untuk Maita. Bahkan jika tahu Jackson meninggalkan dirinya seperti ini. Dirinya tak akan mau melakukan hal itu dengannya. Maita kemudian menatap Sofia lalu berkata, “saya bukan wanita semurah itu Tante, bahkan jika saya tahu Jackson akan meninggalkan saya seperti ini, saya tak akan sudi mengandung anak ini,” Maita berusaha bersabar ketika berhadapan dengan ibu kekasihnya itu. Ini kali pertama Maita bertemu. Bahkan dalam pertemuan pertamanya dia telah menorehkan kesan yang buruk. Maita tak sepenuhnya menyalahkan sikap Sofia, di sini, dialah yang bersalah. Tak seharusnya dia memohon belas kasih untuk anak yang dikandungnya. Sedetik kemudian Sofia berkata, “begini saja, saya ada penawaran menarik. Kalian kan masih sangat muda ya 'kan, apalagi baru saja lulus. Bagaimana jika kamu gugurkan saja anak itu, biar kalian bisa melanjutkan kuliah kalian. Kamu tahu 'kan risiko seorang ibu ketika melahirkan diusia yang masih muda?” Maita menggeleng pelan, mendengar perkataan Sofia butiran-butiran air bening. Mengalir dengan derasnya. Terasa nyeri dan sesak di dalam d**a Maita. Napasnya mendadak seperti tercekat. “Ibu mana, yang tega membunuh darah dagingnya sendiri, trimakasih atas saran dari anda. Walaupun saya harus berjuang melahirkan anak ini, dengan adanya atau tanpa Jackson 'pun saya akan memperjuangkannya. Permisi, jaga kesehatan anda,” Maita meninggalkan Sofia begitu saja. “Dasar gadis naif,” Sofia menyunggingkan senyum sinisnya. Tanpa disadari, sepasang mata elang telah mengawasi percakapan antara Maita dan Sofia sedari tadi. *** Maita memasuki rumah perlahan dengan lemas menuju kamarnya. Harapannya, mendapatkan jawaban di mana kekasihnya malah berakhir dengan kekecewaan. Yang lebih mengejutkan lagi, ibu Jackson dengan entengnya menyuruhnya untuk mengugurkan anaknya. Walaupun kedepannya akan mengalami kesulitan, Maita bertekad untuk mempertahankan anak yang dikandungnya saat ini. “Maita! Jelaskan, apa ini?” suara bariton sang ayah membuat gadis yang tengah melamun di balkon kamarnya itu tersentak. Maita, menoleh ke arah suara itu. Wajahnya semakin memucat. Ketika, matanya menangkap apa yang ada di tangan sang ayah. Bagaimana tidak, test pack yang seharusnya berakhir di tong sampah malah jatuh ke tangan sang ayah. “Siapa Mai? Katakan!” Kata Danar. Lelaki paruh baya itu tampak berapi-api ketika berkata kepada putrinya. Danar selalu memperingatkan Maita, agar tidak menjalin hubungan kepada lawan jenis. “Jackson ... yah,” Maita menundukkan kepalanya dalam. “Gugurkan anak itu!” kata Danar, dengan lantang. Maita mendongak lalu berkata, “tidak Ayah! Ini anakku!” Maita menatap Danar dengan tatapan nanar. “Kemasi barang-barangmu sekarang juga dan tinggalkan rumah ini! Aku tak akan sudi menganggap anak, untuk orang yang hanya bisa membuat malu keluarga Kamil.” Deg Mendengar ucapan sang ayah, mata Maitapun membola. Maita bersimpuh dan memohon agar diberikan kesempatan. “Ayah, maafkan Mai. Mai janji, akan merawat bayi ini sampai lahir dan tidak akan menyusahkan kalian,” kata Maita kemudian. “Gugurkan atau pergi dari sini sekarang juga!” Bentak Danar. “Mas, tolong jangan lakukan ini. Bagaimanapun, Mai anak kita dan bayi itu adalah cucu kita mas,” kata Yasmin, ibunda Maita. Bahkan Yasmin juga ikut bersimpuh di hadapan Danar. “Aku tak butuh cucu, dari seorang hasil hubungan haram. Siapapun yang membuat malu keluarga, maka dia harus keluar dari rumah ini! Ingat, siapapun yang membantunya akan mendapatkan hukuman yang lebih berat,” Danar pergi meninggalkan ibu dan anak yang masih berpelukan itu. Maita memeluk sang ibu dan menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Yasmin. Begitupun dengan Yasmin, orang tua mana yang tega mengusir anaknya karena keegoisan, selain suaminya. Danar memang orang yang lebih mementingkan harga diri dibandingkan dengan perasaan keluarganya. “Tidak apa-apa Bunda, Mai akan memperjuangkan anak ini. Demi apapun,” Maita beranjak mengemasi barang-barangnya. “Bunda mohon, jangan tinggalkan kami Mai,” Yasmin mulai gelisah melihat putrinya yang hendak pergi meninggalkannya. Maita meraih tangan ibunya lalu menciumi keduanya. “Bunda, jangan risau dan takut. Mai memang melakukan kesalahan. Ini mungkin, adalah hukuman yang pantas untuk Mai. Bunda selalu berkata bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan umatnya yang kesusahan 'kan?” Yasmin segera memeluk putrinya seakah tak ingin melepaskannya pergi. “Kamukan ... tidak ada tujuan dan tempat tinggal sayang,” Yasmin terus memeluk Maita dengan erat. Perlahan Maita melepaskan pelukan sang Bunda. Tapi, Yasmin enggan untuk melepaskan pelukan putrinya. Pelan Maita berkata, “Bunda, biarkan Mai pergi dengan tenang. Mai akan merawat bayi ini walaupun harus mempertaruhkan nyawa Mai,” Maita mengusap punggung ibunya sembari menghapus air matanya yang membasahi pipinya. Yasmin melepaskan pelukannya lalu memegang kedua pundak maita sembari berkata, “Mai, apakah kamu sudah memberitahu Jackson?” “Dia ... sudah pergi Bunda,” kali ini Maita menunduk lesu. Mendengar perkataan putrinya, Yasmin merasa hancur dan kasihan kepada nasib putri satu-satunya itu. “Berjanjilah kepada Bunda, kamu akan terus hidup dan menjaga kesehatan,” Yasmin memohon kepada Maita kali ini. Maita menganggukkan kepalanya lalu memeluk ibunya untuk terakhir kalinya. “Jangan ada uang atau barang berharga apapun yang kamu ambil, dari rumah ini!” Kata Danar dengan lantang, pria itu tiba-tiba saja muncul dari balik pintu. Maita beranjak lalu meraih tas yang berisi ‘kan baju miliknya. “Mai tak akan membawa apapun selain baju ayah,” Maita melayangkan tatapan tajam kepada ayahnya. Lelaki itu hanya bergeming. “Bunda, Mai pergi. Jaga kesehatan!” Maita melewati Danar, bahkan pria itu tak mengatakan sepatah katapun kepada putrinya yang akan pergi entah kemana. Sementara Yasmin sendiri, tak kuasa menatap kepergian putrinya dengan air mata yang berlinang. Perasaan benci Yasmin terhadap Danar semakin besar. Ketika sudah sampai di luar gerbang rumahnya, seorang anak remaja berlari menghampiri Maita dengan tergopoh-gopoh. “Kak Mai ... tunggu!” Suara Melvin menghentikan langkah Maita. Maita bergeming, menyadari sang adik memanggilnya. Maita berusaha menahan air matanya agar tak keluar. Melvin memegang pundak sang kakak dengan napas yang masih terengah-engah. “Jangan pergi kak!” Melvin menangis sembari merain tangan Maita, namun Maita masih bergeming. “Kamu tak akan tahu rasanya selalu dibedakan, kamu tak akan tahu rasanya dibenci oleh ayah. Karena kamu adalah anak kesayangannya!” Maita berbalik lalu menatap adiknya yang masih memegang tangannya. Melihat wajah Maita, remaja itu sontak membulatkan matanya sembari menunduk. Tangan nya meremas celananya dengan erat. “Maafkan aku kak, aku hanyalah lelaki lemah yang tak berani mengutarakan pendapat. Tak berani hanya sekadar membela kakak di hadapan ayah,” Melvin terduduk di hadapan Maita sembari terisak memeluk kedua lututnya. Maita merasa iba melihat sang adik saat ini. “Aku sudah memaafkanmu, aku tak membenci siapapun. Yang aku benci di dunia ini hanyalah ketidak adilan saja. Berjanjilah kamu akan melindungi bunda,” Maita berjongkok memeluk Melvin lalu beranjak meninggalkan remaja itu. *** Maita melangkahkan kakinya perlahan tanpa tahu kemana arah dan tujuan dirinya pergi. Langkah kakinya terhenti tepat di jembatan yang berada di atas sungai. Maita meletakkan tasnya di samping dia berdiri saat ini. Pandangannya lurus ke arah depan. Embusan angin menyapu rambutnya, yang menampakkan wajah cantinya yang sembab karena terlalu banyak menangis. “Jackson, maafkan aku. Aku sudah tak memiliki siapapun. Bahkan kamu yang berjanji untuk tak meninggalkanku ‘pun. Menghilang entah kemana. Aku sudah tak bisa bertahan lagi. Tanpamu ... Aku bukan siapa-siapa. Tak ada yang mau menerimaku dan juga anak kita,” lirih Maita sembari mengelus perutnya yang masih terlihat rata. “Maafkan Mama sayang, ini memang dosa. Tapi ... tak ada yang mengharapkan kita lagi di dunia ini,” Maita melangkahkan kakinya menuju pinggir jembatan. Suasana di jembatan itu memang terbilang lengang. Tak banyak orang yang melintas. Saat ini Maita ingin mengakhiri hidupnya dengan cara terjun ke dalam sungai Mahakam, sungai yang sangat dalam dan arus yang cukup deras. Seperti hatinya saat ini, bahkan air sungai itu terlihat sangat keruh. Dia berfikir pasti jika terjun sekalipun tak akan ada yang mencarinya dan mayatnya pasti akan sulit untuk ditemukan. Maita memejamkan matanya lalu menghirup napas dalam-dalam sembari berkata, “selamat tinggal semua.” Saat ia hendak melompat, tiba-tiba tangan Maita ditarik oleh seseorang. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN