“Nanti pulang sama siapa, Mas? Mas Ruben yang nyetir atau gimana?” Ning bertanya. Wanita paruh baya itu melipir dari sisi kiri Risa menjadi ke hadapan sang putra. Ning dan mama Risa akhirnya membiarkan perempuan yang habis menjalani proses kuretase itu untuk tertidur. Ketiganya duduk mengumpul di sebuah sofa lingkar di ruangan itu. Suara mereka sengaja dikecilkan agar Risa tak terganggu dan terbangun karenanya. “Sama sopir kok, Bu. Mas Ruben udah pesen ke sopir yang biasa nganter jemput Risa. Jadi, nanti kami pulang sama beliau. Aku enggak sanggup kalau nyetir sendiri, kasian Risa enggak ada yang nemenin,” ujar Ruben. Ning mengangguk pelan. “Syukurlah. Ibu khawatir kamu mau nyetir sendirian tadinya. Enggak tega juga ibu kalau Risa sendirian di mobil, Mas.” Ruben menggeleng. Sungguh

