Suasana canggung yang hadir di antara keduanya terasa sangat kuat. Atmosfer ruangan itu entah kenapa terasa menjadi lebih dingin, hingga tak ada satupun dari keduanya yang mengeluarkan sepatah kata. Baik Ruben atau pun Kiana, mereka berdua sama-sama diam dengan pikiran yang berkelana entah ke mana. Hati Ruben merasa jembar. Apa yang dia lakukan sekarang, ya? Kenapa dia bisa tidak menyadari bahwa Kiana yang menjadi kliennya ini adalah Kiana yang sama yang pernah hadir di hidupnya dulu. Dia tidak menyadarinya sebab berpikir bahwa mungkin saja Kiana itu Kiana yang lain. Toh, tak mungkin, ‘kan, jika orang dengan nama Kiana hanya ada satu di dunia ini? “Apa kabar, Ben?” tanya Kiana. Gadis dalam balutan dresss floral selutut itu bertanya duluan. Bermenit-menit yang lalu dia menunggu Ruben

