Risa menunggu dengan harap-harap pasti. Jantungnya berdebar dua kali lipat lebih cepat saat dia merasa bahwa waktunya sudah akan datang. Beberapa menit yang lalu, dia memutuskan untuk segera melakukan pengecekan dengan alat tes kehamilan. Alat tes kehamilan itu ia beli kemarin sore di apotek dekat dengan rumahnya setelah selesai bekerja. Rasanya masih begitu segar dalam ingatan Risa, kala Nara, sahabatnya itu, berkata bahwa tidak ada salahnya apabila Risa ingin melakukan pengecekan di rumah. Apalagi tanda-tanda yang disebut oleh Risa sudah cukup banyak, jika pun ia memang tak hamil, maka tak apa-apa. Rasa kecewanya bisa ia handle seorang diri. Berangkat dari percakapannya dengan Nara lah Risa akhirnya memutuskan untuk demikian. Dia belum memberi tahukan apa pun pada Ruben. Pada dasarnya

