Kiana turun dari mobil SUV berwarna hitam miliknya seraya memakai kacamata hitam yang bertengger di hidungnya yang runcing. Perempuan single itu melirik jam tangan di pergelangan kirinya dan berdecak pelan ketika pupil matanya belum menemukan sosok Tuan Tanah yang sudah membuat temu janji dengannya melalui Sarah. Ya, setelah terlibat beberapa percakapan dengan asistennya itu, si Tuan Tanah setuju untuk bertemu hari ini guna membicarakan masalah tanah. Kiana memerlukan tempat sesegera mungkin, dan Tuan Tanah itu memerlukan uang. Simbiosis mutualisme yang menguntungkan. “Ck. Dia ada ngabarin kamu enggak, Sar?” tanya Kiana. Sarah yang pada saat itu tengah berdiri tepat di samping Kiana menggeleng pelan. Gawai di tangannya ia buka, tangannya menggulir layar barangkali ada satu pesan dari

