bab 217

1541 Kata

“Muka kamu kenapa ditekuk gitu sih, Mbak Kia? Kurang sajen tah?” Kiana berdecak pelan mendengar pertanyaan itu. Dia mengempaskan b****g di atas kursi dan menyandarkan tubuhnya di sana. “Apa sih, kok ke sajen-sajen? Kamu kira aku apaan deh, Sar.” Wanita itu memutar bola matanya ke arah kiri ketika mendapati Sarah cekikikan di sampingnya. Suasana hati Kiana jadi memburuk selepas dia membapesan elektronik—email—itu dari ponselnya beberapa menit yang lalu. Pengerjaan coffee shopnya harus tertunda karena arsitek yang menangani project tersebut meninggal dunia. Kiana tahu kematian adalah rahasia ilahi, tetapi dia tetap tak bisa membohongi diri jika dia memang kesal dan sedikit kecewa karena projectnya harus diundur. “Ya abisnya mbak Kia tuh dari abis take video tadi dilihat-lihat kok suasan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN