Chapter One: My Best’boy’friend

1293 Kata
Chapter One: My Best’boy’friend   'Tangannya begitu kecil saat dia meraih telapak tanganku dengan penuh keyakinan. Begitu kecil dan lembut, tapi sangat pas ditanganku juga, seperti memang diciptakan hanya untukku.” - Nathan -   __ MARIENNE   "Mary, turunlah sekarang!!"   Aku mendengar Nathan berteriak padaku di bawah sana. Dia itu pengecut, aku sudah memberitahunya untuk ikut memanjat pohon ini bersamaku, tapi di sanalah Nathan, berdiri di bawah pohon mendongak ke atas sembari berteriak padaku. Memintaku untuk turun, sudah ke sepuluh kali jika aku tidak salah hitung.   "Natty,ayolah, naiklah kemari!" Aku memintanya naik, mungkin sudah ke sekian kali aku memintanya dan dia masih menolakku.   Lihatlah dia mendengus kesal, memutar bola matanya. Wajahnya terlihat lucu jika dia kesal begitu, bibirnya mencebik dan tangannya diletakkan di pinggang. Oke, sekarang dia mirip dengan Kakek Fabius saat sedang memarahiku.   "Aku tidak akan naik, besok adalah pertandingan basket, aku tidak mau jatuh dan mematahkan kakiku, sekarang turunlah!" Dia mengomel seperti nenek Lidya yang tinggal tepat di sebelah rumahku. Omelannya hampir sama setiap harinya, mengeluhkan tentang eksperimen rotinya yang gagal, atau resepnya yang gagal, hampir semua urusan dapur selalu menjadi topik omelan Nenek Lidya.   "Pengecut,” ejekku, tapi pada akhirnya aku menuruti Nathan. Perlahan-lahan turun dari pohon ini. aku tak sepenuhnya menyalahhkan pria pengecut yang telah menjadi sahabatku sejak kami lahir ini.   Nathan memiliki semacam trauma jika aku benar. Terakhir kali, aku memanjat pohon saat kami masih sekolah dasar, aku memaksanya untuk naik denganku. Karena dia merasa bahwa aku adalah satu-satunya sahabat yang dia miliki, maka Nathan menuruti segala ucapanku saat itu. Termasuk dengan hari itu, dia memanjat setelahku, sampai di atas, Nathan juga merasa kagum dengan pemandangan yang dia lihat dari atas bersamaku. Dari sini, kami bisa melihat area sekitar perumahan kami. Itu bukan hal yang istimewa kurasa, hanya saja aku merasa matahari menjadi lebih dekat dan lebih hangat.   Sayang sekali, saat senja tiba dan Nyonya Wycliff, Ibu Nathan berteriak mencarinya membuat Nathan terburu-buru untuk turun dan akhirnya Nathan terjatuh karena ia salah menginjak ranting yang kecil. Nathan mengalami patah tulang tangan kanan, dan selama 1 bulan dia harus menggunakan penyangga. Selama itu juga aku harus menjadi pengasuh Nathan di sekolah, saat makan siang aku harus menyuapinya makanan, membawakan bukunya dan yang lainnya. Masa itu sungguh merepotkan, tapi karena Nathan selalu menuruti perkataanku, maka aku tidak keberatan jika harus membantunya sesekali.   "Aaaaaarrghh!!" teriakan lolos dari mulutku saat kakiku tergelincir ketika aku menuruni pohon ini. Tidak biasanya, aku tidak pernah jatuh sebelumnya.   Aku terjatuh, semua benda di sekitarku bergerak dengan sangat cepat, spontan aku memejamkan mataku, tapi … rasanya aneh saat aku mendarat. Tanahnya tidak terasa keras. Aku malah merasa hangat dan sangat nyaman sekali.   "Errgh." Suara lain mengerang tepat di atas kepalaku, saat aku mulai sadar aku mendongak dan Nathan sedang meringis kesakitan. Astaga! Rupanya rasa nyaman dan hangat itu berasal dari tubuhnya, dan aku terjatuh menindih Nathan. Pantas saja.   "Oh Nat, aku.. Aku, apa kau-" ucapanku terpotong saat Nathan mendekap tubuh dan kepalaku, sekarang aku berbaring di atas tubuhnya. Aku bisa mendengar detak jantung Nathan yang tak beraturan dan nafasnya yang terengah-engah. Merasakan gerakan dadanya yang naik dan turun.   "Apa kau baik-baik saja?" bisiknya. Dia memang sangat bodoh, mengkhawatirkan orang lain dan melupakan dirinya sendiri yang mungkin terluka.   "Nathan, aku baik-baik saja," balasku, aku ingin mendongak tapi dia menahan kepalaku dengan erat. "Apa kau terluka?" tanyaku khawatir dengan suara yang mirip dengan hembusan angin, entah Nathan mendengarnya atau tidak. Tapi, aku sungguh khawatir dia akan terluka karena pertandingannya besok. Apalagi saat mendengar irama jantungnya yang berdegup sangat keras, kurasa dia sangat tidak baik-baik saja sekarang.   "Ergh." Dia mengerang, kali ini dia menggeser tubuhku ke samping dengan perlahan, kepalaku masih bersandar di lengannya. "Aku rasa punggungku patah," katanyas sembari meringis menampilkan deretan gigi rapinya.   "Benarkah? Oh, Ya Tuhan! Kita harus membawamu ke rumah sakit sekarang juga!" Aku bangkit segera, sangat panik, namun, Nathan malah menatapku dengan senyum mengembang di wajahnya. Dia berbohong!! Dia hanya pura-pura kesakitan.   "Kau berbohong??" pekikku. Sungguh tak percaya dengan apa yang aku lihat. Di saat aku memrasa bersalah dia malah membohongiku dengan prank konyolnya itu. menggelikan sekali.   "Sungguh, kau sangat berat Mary, apa saja yang kau makan akhir-akhir ini?" godanya sambil menyeringai, mengalihkan topik. Tak butuh waktu lama rasa kesalku mereda, aku menghela nafas lega, setidaknya dia baik-baik saja. Jika sesuatu terjadi padanya aku tidak bisa membayangkan diriku akan menjadi pengasuhnya lagi.   "Aku akan makan lebih banyak, jadi kau akan benar-benar patah tulang saat aku terjatuh dan mencoba menangkapku seperti tadi." Ancamku dengan sungguh-sungguh.   Berusaha bangkit, lalu membersihkan jeansku dan Nathan melakukan hal yang sama. Dia sangat tinggi sekarang, mungkin sekitar 6 kaki? Entahlah, mungkin lebih dari itu, tinggiku saja tak lebih dari dagunya sekarang. Dia benar-benar jadi raksasa saat ini. Padahal ketika kami masih kecil, aku lebih tinggi darinya beberapa inchi.   "Jangan coba-coba untuk jatuh lagi!!" ujarnya tegas lalu sesaat kemudian bibirnya tersungging sambil mengacak rambutku.   "Tergantung," balasku asal   "Aku serius Marie Poppins, jika kau jatuh lagi aku tidak akan menangkapmu!" aku hanya mengangkat bahu sembari berlalu, berjalan mendahuluinya.   Aku berjalan masuk ke dalam rumah karena pohon ini terletak tepat di depan rumahku, dan rumah Nathan terletak di seberang jalan. Nathan mengikutiku masuk ke dalam rumah, aku langsung ke dapur mengambil air dan mengambilkan Nathan minuman isotonik.   "Jadi, Jam berapa pertandingannya?" tanyaku setelah menenggak habis minumanku.   "Sekitar Jam 9, kau akan datang kan?"   Sejenak aku berfikir, pertandingannya saat kelasku periode ke pertama. Pelajaran literatur, entah aku bisa datang tepat waktu atau tidak ke pertandingannya. Selama ini aku tidak pernah melewatkan pertandingannya sama sekali. Aku telah menjadi pemandu sorak abadinya, dan aku senang melakukannya.   "Entahlah, kau tau aku membutuhkan lebih banyak penugasan dari Professor Calahan." jawabku jujur karena nilai literaturku cukup kacau karena aku beberapa kali melewatkan kelas Professor Calahan.   "Kau tau aku akan sangat gugup jika kau tidak datang," dia tampak serius dengan ucapannya.   "Kecuali aku menyelesaikan tugasku dengan baik," jawabku sambil mengangkat bahu.   Senyum mengembang di wajah Nathan, mata birunya bersinar dengan cerah. Membuatnya senang memang sangat mudah.   "Kau tahu, jika aku bisa menang pertandingan ini, ada peluang aku akan jadi kapten tim basket di semester berikutnya," ungkapnya, Nathan tidak pernah menyembunyikan apapun dariku. Apapun. Bahkan aku tahu, bahwa kencan pertamanya dengan salah seorang gadis dari jurusan musik tidak berjalan lancar karena Nathan tak mau mencium gadis itu. Dasar Nathan bodoh. Mengapa dia tidak mau mencium teman kencannya?   "Bagus, kalau begitu aku akan datang dan pastikan kau menang Wycliff!"   Nathan mengangguk, kemudian menghabiskan satu botol minuman yang tadi kulempar padanya. Kemudian ia pulang kerumahnya. Sebelum keluar ia melambaikan tangannya padaku dengan senyumnya yang mirip dengan seringaian itu. Dia benar-benar konyol.   Aku pergi ke kamarku setelah membersihkan seluruh ruang tamu dan dapur. Di rumah ini aku hidup sendiri, orang tuaku bercerai dan meninggalkanku di rumah ini. Setidaknya mereka masih membayar semua kebutuhan rumah ini, dan uang kuliahku. Jadi aku hanya perlu bekerja part-time di Chuck's Lit untuk kebutuhanku sendiri.   Cahaya lampu dari seberang menarik perhatianku. Aku berjalan ke arah jendelaku kemudian membuka tirai tipis kamarku. Lampu itu berasal dari kamar Nathan, dia sedang berada di kamarnya dan duduk di kusen jendelanya tanpa menggunakan baju! Sial! Nathan terlihat sangat, sangat, sangat seksi! Dia menjadi pria idaman para gadis tentunya, dan aku tumbuh bersamanya tanpa menyadari betapa seksinya dia. Aku menelan ludahku yang sudah membanjiri seluruh mulutku.   Dia sahabatmu, Mary!!   Alam bawah sadarku mengetuk fikiranku. Kututup tirai tipisku, lalu berbalik. Berusaha mengendalikan pikiranku yang mulai liar ini. Bukankah tidak baik berpikir seperti itu tentang sahabatmu sendiri?   "Sadarkan dirimu, Mary." Gerutuku sembari memegagi dadaku yang terasa nyeri karena debaran jantungku yang tidak karuan.   Daripada memikirkan tubuh Nathan yang baru kusadari bahwa dia sangat seksi, aku membenamkan tubuhku ke ranjang yang super empuk ini. Menatap kipasku yang berputar di langit-langit, dan tubuh Nathan terbayang di hadapanku.   Sial Sial Sial   Ada apa denganku sebenarnya?   To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN