Melepas rindu?

2042 Kata
Viona pikir, Galih hanya akan menghilang dalam waktu tiga hari. Namun, ternyata gadis itu salah. Bahkan, tepat hari ini satu minggu yang lalu dimana laki laki itu mengantarkannya pulang Galih tak kunjung ada kabar. Yang Viona lakukan akhir akhir ini hanya bisa menunggu kabar dari kekasihnya, ingin pergi ke rumahnya tapi pasti Viona akan di usir. Bu Sarah sudah mengetahui jika Viona berhenti bekerja sejak beberapa hari yang lalu, alasan yang Viona berikan mampu membuatnya percaya. Semua itu karena Galih, Galih yang menjadi alasan sang anak untuk resign dari pekerjaannya. "Vi, kamu udah makan?" tanya Bu Sarah, akhir akhir ini anak gadisnya lebih sering melamun. Penyebabnya sudah pasti Galih, memang siapa lagi? Viona mengangguk, walaupun hanya sedikit tapi gadis itu selalu di ingatkan makan oleh sang ibu. "Udah kok Bu," jawab Viona. Bu Sarah hanya mampu tersenyum tipis, sangat tahu kecemasan Viona saat ini. Membiarkan anak gadisnya larut dalam kesedihan bukanlah hal yang tepat, takut jika akan berpengaruh pada kesehatan Viona. "Hari ini, ibu mau buat kue. Kamu mau bantuin ibu?" Walaupun tidak ada niat sama sekali, tapi Viona memilih mengangguk. Mungkin, dengan membantu sang ibu membuat kue bisa mengalihkan pikirannya dari Galih walaupun tidak sepenuhnya. "Ayo Bu." Lagi lagi, Bu Sarah kembali tersenyum. Apapun keadaannya, Viona tetap akan selalu ada untuk orang yang ada di sekitarnya. Dua perempuan beda generasi itu berjalan menuju dapur, meskipun Viona tidak pandai membuat kue tapi jika ada sang ibu semuanya akan baik-baik saja. "Ibu tahu, akhir akhir ini kamu pasti kepikiran Galih. Makanya, ibu ajak buat kue. Besok kalau ketemu Galih suruh dia cobain kue buatan kamu ya." "Mas Galih pasti suka banget Bu," "Makanya, semangat ya. Enggak boleh ngelamun terus. Anak ibu kan kuat, cantik lagi." Viona mengangguk, jika Galih tahu dirinya seperti ini pasti laki laki itu tidak akan suka. "Ayo Bu, kita mulai buat kue nya." -- Sudah satu minggu, Galih di kurung oleh orang tuanya sendiri. Berada di dalam rumah selama satu minggu tanpa ponsel, ternyata membuatnya bosan. Selain itu, tentu saja Galih juga merindukan gadisnya. Sudah berapa hari Viona mengganggur? Galih sudah mengingkari janjinya. Tapi hari ini, apapun yang akan terjadi dirinya harus bertemu dengan Viona apapun resikonya. Di dalam maupun di luar rumah, orang tuanya menyewa beberapa bodyguard untuknya. Dengan alasan, Galih tidak boleh kemana mana sampai kesehatannya benar benar pulih. Ini juga sebagai hukuman, karena Galih berani mabuk! Untuk hukuman karena mabuk, mungkin Galih bisa menerimanya. Namun, sepertinya ada tujuan lain di balik ini semua. Apalagi kalau bukan menjauhkannya dari Viona. Suara ketukan pintu kamar terdengar, Tanpa menunggu izin darinya seorang perempuan masuk kedalam kamarnya. Ini karena sang ibu, yang mengizinkan Fika untuk masuk kedalam kamarnya. Padahal, sudah beberapa kali Galih peringatkan tidak ada yang boleh masuk kedalam kamarnya selain orang terdekat dan keluarganya saja. Selama Galih di kurung, Fika yang selalu membawakan makanan untuknya. Gadis itu seperti gadis pada umumnya, bersikap baik. Tapi niat seseorang tidak ada yang tahu, Galih harus berhati-hati. "Tuan, ini makanannya. Tadi, sebelum nyonya berangkat. Nyonya menitipkan pesan, kalau tuan Galih nanti malam akan di ajak bertemu keluarga Nona Felly." Sial! Benarkan dugaan Galih. Orang tuanya masih saja melanjutkan rencana pertunangannya dengan Felly, harus dengan cara seperti apa agar mereka mau mengerti dirinya? "Kamu boleh keluar." Fika mengangguk, itu adalah kalimat yang Galih ucapkan selama satu minggu ini. Entah apa yang di pikirkan anak majikannya itu, hidupnya seperti benar benar tertekan. Tidak mau berlama-lama di kamar Galih, akhirnya Fika pamit untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya. "Saya permisi tuan, kalau perlu sesuatu tuan bisa panggil saya." Ucap Fika dengan sopan. "Saya bisa sendiri, kamu tahu kan saya tidak lumpuh? Berhenti memperlakukan saya seolah saya tidak bisa apa-apa." Deg Niat gadis itu baik, hanya menjalankan perintah majikannya. Tapi tanggapan Galih sungguh luar biasa, luar biasa menyakitkan. Jika bukan karena uang, Fika tidak mau mengurus orang yang bersikap sombong seperti Galih. Tidak akan! Mencoba bersabar, akhirnya Fika kembali tersenyum. Senyuman itu hanya ada depan Galih saja, jika sudah kembali ke dapur Fika akan memaki Galih dengan semua sikap sombongnya. "Baik tuan, saya permisi." Pamit Fika, sementara Galih tidak berniat untuk melihat gadis itu walau hanya sedetikpun. Galih kembali merebahkan tubuhnya, laki laki itu sangat merindukan Viona. Apa gadis itu juga merindukannya? Padahal, Galih sudah berjanji akan mengantarkan Viona ke tempat bekerja yang baru. "Vi, malam ini kita harus ketemu. Mas enggak mau kamu salah paham karena mas udah lama menghilang, sabar ya. Pasti mas bakalan temuin kamu," Untuk acara yang akan di adakan oleh orang tuanya, Galih sangat tidak peduli. Biarkan saja, atau mungkin jika nantinya Galih akan di hapus dari daftar pewaris tunggal laki laki itu itu juga tidak akan peduli. Galih akan pergi menemui Viona, tapi bagaimana caranya? Di depan pintu ada dua bodyguard yang selalu menjaganya, di bawah kamar Galih ada dua bodyguard yang juga berjaga. Mungkin, orang tuanya sudah menduga jika Galih bisa kabur lewat jendela. Cukup sulit, tapi bukan berarti tidak ada cara lain. Apa perlu, Galih menggunakan Fika untuk membantunya keluar dari rumahnya? Sepertinya itu ide yang buruk, karena pasti pekerjaan gadis itu akan terancam jika orang tuanya tahu bahwa Galih mendapatkan bantuan dari Fika. Dan pastinya, Fika akan menjadi beban baginya suatu saat nanti karena akan memintanya untuk membalas budi untuk kebaikannya. Teringat jika dirinya belum makan sejak pagi, akhirnya Galih memilih untuk makan yang di bawakan oleh Fika. Galih makan bukan karena ingin merasakan masakan Fika, tapi karena teringat Viona. Gadisnya selalu menelvonnya saat jam makan siang, seperti sekarang. Sayang sekali, ponselnya belum di kembalikan oleh orang tuanya. Tidak apa, menahan diri untuk kabur sedikit lagi tidak masalah sepertinya. Masakan Fika lumayan, tidak terlalu buruk. Ya, kebiasaan Galih memang selalu mengomentari rasa masakan yang ia rasakan. Kecuali masakan Viona, karena sudah pasti apapun yang Viona masak pasti akan Galih terima. Galih menerima apapun yang Viona berikan, karena gadis itu alasan kenapa dirinya menjadi seperti sekarang. Jika orang tuanya menganggap perubahan buruk Galih karena Viona itu salah, justru karena Viona Galih lebih bisa menghargai hidupnya dan lebih bisa menghargai orang tuanya. Namun, orang tuanya tidak pernah bisa mengerti keadaan Galih. Apa yang di inginkan Galih bukan semata-mata karena harta, tapi kebebasan. Kebebasan dalam menjalani hidupnya, dan kebebasan untuk memilih pasangan hidupnya. Setelah selesai makan, Galih memilih untuk menyiapkan pakaiannya. Tidak perlu memakai pakaian yang begitu rapi, yang terpenting pakaian itu bisa membantunya kabur malam ini. Sempat kebingungan memilih pakaian yang akan di gunakan, akhirnya Galih berhasil menemukan satu pakaian yang cocok untuknya. Semua persiapan untuk kabur, sudah Galih siapkan. Dirinya tidak mau lagi menjadi orang yang lemah, semuanya harus benar benar di perjuangkan. Dengan cepat, Galih langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak lucu jika nanti bertemu Viona, tapi Galih belum mandi. Membayangkannya saja sudah berhasil membuatnya tersenyum sendiri, gadis itu memang mempunyai pengaruh tersendiri bagi Galih. Viona adalah segalanya bagi Galih. Tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Ini saatnya Galih menjalankan rencananya, seingatnya para bodyguardnya jika akan beristirahat saat sholat Maghrib, perlu Galih apresiasi mereka tetap menjaga sholat walaupun sedang bekerja. Galih akan menjalankan kewajibannya setelah berhasil keluar dari rumahnya, semoga tidak ada yang melihatnya keluar lewat jendela. Masalah orang tua? Mereka akan kembali setelah jam tujuh, sang ibu harus ke salon terlebih dahulu sebelum menghadiri acara penting dan tentu saja sang ayah juga harus setia menunggu ibunya yang sedang berada di salon. Bukankah ini adalah kesempatan baik untuk Galih? Galih menemui Viona tanpa membawa mobil dan ponsel, karena semua fasilitas yang di berikan di sita sementara waktu oleh orang tuanya. Tidak masalah, tanpa sepengetahuan mereka setiap bulan Galih selalu menyimpan uang di rekening pribadinya. Tentu saja mereka tidak tahu, hal ini memang menguntungkan Galih di saat seperti ini. Setelah memastikan apakah keadaan di luar kamarnya sudah sepi, Galih langsung membuka jendela. Dan memang benar dugaannya, bodyguard yang berjaga di luar maupun di dalam rumah sedang sholat Maghrib. Galih bernafas lega, pelan tapi pasti dengan membawa ATM di saku jaketnya bergegas turun dari kamarnya yang berada di lantai dua. Tidak cukup sulit, tapi Galih harus tetap berhati-hati. "Maafin Galih Ma, semua ini terjadi karena Galih mau perjodohan ini gagal." -- Seharian membuat kue, tiba tiba terlintas dalam benak Viona bagaimana jika nantinya akan membuka usaha kue rumahan yang di jual secara online? Atau Viona akan membuat kue jika ada yang memesan saja? Lumayan untuk tambahan pendapatannya, jika usahanya membuat kue berkembang. "Melamun lagi?" Viona menggeleng, idenya kali ini cukup bagus. Namun, siapa yang akan membantunya membuat kue? Sang ibu? Tidak, perempuan yang paling Viona sayang tidak boleh bekerja terlalu lelah. "Enggak kok Bu, aku cuma lagi mikirin gimana kalau seandainya aku buka usaha kue kering terus di jual secara online." Jelas Viona, dirinya harus pintar pintar menggunakan teknologi yang sudah sangat canggih. Bu Sarah duduk di sebelah Viona yang tengah asik menikmati kue yang tadi mereka buat, tidak ada yang salah dengan ide Viona. Hanya saja, darimana mereka akan mendapatkan modal untuk memulai usahanya? "Modal dari mana Vi? Kerja yang ada aja. Nanti kamu capek, kalau waktu kamu terlalu banyak untuk kerja kapan kamu istirahat? Kerja boleh, tapi harus ingat waktu." Pesan Bu Sarah, dirinya tidak ingin Viona menghabiskan waktu mudanya untuk bekerja. Apa yang di katakan sang ibu memang benar, selain keterbatasan modal. Viona juga pasti akan kekurangan waktu untuk istirahat, jika nanti dirinya sakit. Siapa yang akan bekerja? Siapa yang akan mengurus sang ibu? "Masih rencana kok, modalnya bisa di kumpulin dulu. Nanti, kalau udah cukup. Viona bakalan berhenti kerja, dan buka usaha sendiri." "Berhenti kerja lagi? Kamu pikir, cari kerja gampang. Di luaran sana banyak yang berangkat pagi, pulang malam cuma buat cari kerja Vi. Kalau besok kamu udah dapet kerjaan, jangan asal resign lagi. Ibu enggak suka, kamu ambil keputusan karena Galih. Tujuannya emang benar, tapi caranya yang salah." "Ibu kok gitu, mas Galih cuma enggak tega liat aku pulang malam terus Bu." Bela Viona, meskipun apa yang di katakan sang ibu memang benar. Tangan Bu Sarah terulur merapikan rambut anak gadisnya, "cinta boleh Vi, tapi ingat sesuatu yang berlebihan itu enggak baik." Ujar bu Sarah, pernah muda berarti pernah ada di posisi Viona. Oleh karena itu, Bu Sarah harus memberikan pengertian bahwa jika kita mencintai seseorang tidak boleh terlalu berlebihan. Viona paham apa yang ibunya katakan, dirinya tidak boleh mencintai Galih terlalu dalam. "Iya ibu tenang aja, aku selalu ingat pesan ibu." Viona hanya menenangkan hati ibunya, karena nyata dirinya dan Galih sudah tidak bisa lagi di pisahkan. Mereka sudah saling terikat janji untuk tetap bersama apapun yang terjadi. "Kalau gitu, ibu ke kamar dulu ya. Capek juga seharian buat kue, tapi ibu suka punya kesibukan gini." "Ibu istirahat ya, nanti biar Viona yang beresin semuanya." Bu Sarah mengangguk, membiarkan Viona menyelesaikan pekerjaannya. Sekarang saatnya untuk beristirahat, tapi suara ketukan pintu menghentikan langkahnya. Siapa yang datang bertamu malam ini? Apa mungkin itu Galih? Jika benar, setidaknya sang anak tidak lagi mengkhawatirkan laki laki itu. Pelan tapi pasti, Bu Sarah membuka pintu rumahnya. Dan benar saja, Galih berdiri di depan pintu menggunakan jaket berwarna hitam dan celana pendek, apa Galih baru saja kerampokan? Karena baru kali ini kekasih anaknya berpakaian seperti ini saat datang ke rumahnya. "Assalamualaikum Bu." Bu Sarah tersenyum, akhirnya Viona bertemu Galih. "Waalaikumsalam, ayo masuk nak Galih." Ajak Bu Sarah, sebagai tuan rumah rasanya tidak pantas membiarkan tamunya menunggu di luar terlalu lama. Walaupun ada yang mengatakan rumahnya seperti gudang, tapi setidaknya ini rumah mereka sendiri. Galih mengikuti langkah Bu Sarah menuju ruang tamu, mencari cari dimana keberadaan kekasihnya. Viona. "Viona ada di dapur, tadi baru buat kue. Kebetulan banget kamu datang, pasti di senang." Seolah mengetahui apa yang Galih cari, dari tatapan matanya Bu Sarah bisa melihat bahwa Galih juga sama merindukan Viona. "Sebelumnya Galih mau minta maaf, karena sudah menghilang beberapa hari." Galih tidak mau ada kesalahpahaman di antara mereka, lebih baik menjelaskan terlebih dahulu sebelum di berikan pertanyaan kenapa satu minggu ini menghilang? "Nanti saja, kamu jelaskan sama Viona. Ibu enggak berhak mendengar penjelasan kamu, selama kamu enggak ada kabar Viona sering melamun. Dia sayang banget sama kamu nak, mungkin dia takut kamu pergi dari kehidupannya." Bagaimana Galih bisa pergi dari Viona, sementara Viona adalah kehidupan Galih. "Ibu ke belakang sebentar, kamu tunggu dulu ya." Galih mengangguk, sudah tidak sabar ingin bertemu Viona. Mungkin Viona akan marah padanya karena sudah menghilang tanpa pesan apapun, tapi ini bukan kemauan Galih. Ini semua terjadi karena orang tuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN