"Pria itu enggak baik."
"Gue tahu."
Brian menoleh ke arah spion. "Cewek aneh."
Ara terkekeh. Gadis itu menatap langit yang sudah berhiasi bintang-bintang. Motoran malam-malam seperti ini ternyata menyenangkan juga. Dia mulai memejamkan mata menikmati momen langka ini. Mencoba melupakan kejadian tadi saat Brian menjadi bodyguard dadakan. Sayang sekali, dia tidak bisa bermesraan dengan Roland apalagi meminum jatahnya.
Sebenarnya pria itu hanya diam di pojokan tanpa melihatnya, tapi entah kenapa rasanya Ara terintimidasi dibuatnya.
Roland? Jelas, kentara sekali dia tidak suka. Namun, Ara tahu pria itu sangat berusaha sekali untuk menutupinya. Dia jadi berpikir, bagaimana nantinya jika kekasihnya itu tahu kenyataan tentang Brian yang bukan benar-benar adiknya?
Ara mengamati sosok Brian dari belakang. Sungguh aneh, tubuh pria itu seolah dipasangi magnet yang membuatnya terus-menerus tertarik untuk menyentuhnya. Rasanya ingin sekali saat ini pipi Ara menempel pada bahu Brian, bolehkah? Gadis itu kemudian menepuk-tepuk pipinya yang mulai memanas.
"Kenapa suka sama Roland?"
Ara menyatukan kedua alisnya. "Kenapa? Mulai penasaran sama gue?"
"Hmmm, bisa jadi." Brian tidak memungkirinya. Mau tidak mau, mereka berdua saudara sekarang. "Jadi?"
Ara mengendikkan bahu. "Enggak tahu. Asyik aja kayaknya, anaknya."
"Kamu kan tahu kalau dia enggak baik?"
"Bri, tahu enggak? Enggak seru tahu pacaran sama anak baik-baik." Sunyi. Ara mengedipkan mata ke arah spion. Ia tahu pemilik motor diam-diam memperhatikannya. "Gue kasih tahu rahasia, ya?" Gadis itu berdehem. "Pacaran sama cowok kayak Roland itu bikin jantung gue berdebar. Pokoknya bawaannya tuh selalu deg-degan. Kayak adrenalin kita semakin tertantang gitu. Seru aja. Lebih kayak tiap hari itu gue selalu dibuat penasaran, perihal akan ada hal baru apa lagi ya yang dikenalkan sama gue, nanti?"
"Emang kalau enggak sama dia, jantungmu nggak berfungsi?" Brian menatap Ara dari kaca spion. "Kalau pengen berdebar sih pulang pagi aja atau ngatain papa, misalnya."
Ara mendengus. "Itu sih cari mati namanya."
"Kamu gak mikirin efeknya, nanti?"
"Efek apa?"
"Kamu pasti tahu sendiri. Tadi dia liatin—“
"Rok gue terus?" Ara terkekeh. Ternyata Brian memperhatikannya sampai sana. Dia tahu, pikiran Roland tidak jauh dari itu. Yah, bukannya pikiran pria semua sama?
"Ya itu kan emang tujuan gue pakai rok pendek, Bri. Biar diliatin." Ara tidak mungkin bilang sebenarnya ia juga merasa risih ditatap seperti tadi. Namun, itu pilihannya. Berpacaran dengan Roland adalah pilihannya. Bilang dia tidak nyaman sama saja membuat asumsi orang benar dan dan dia tidak suka. Orang tuanya pasti bertepuk tangan bahagia saat tahu jika omongan mereka tentang Roland benar semua.
"Sinting!"
"Gue juga bukan cewek baik-baik, Bri. Jadi santai aja. Menurut lo gimana?"
"Apanya?"
"Gue. Menurut lo, gue cewek kayak gimana?"
"Enggak tahu, sih."
Ara tersenyum menyadari, jika ini adalah percakapan terpanjang mereka tanpa adanya api yang menyertai amarahnya. Tidak buruk juga, batinnya. "Gue. Menurut lo ... gue baik atau gimana?"
"Aku bukan Tuhan."
Ara langsung terdiam.
"Aku juga enggak sesuci itu buat menghakimi orang lain atau menilai seseorang baik atau enggak. Baik dan enggaknya juga bukun urusan gue juga."
Ara kehabisan kata-kata. Apa yang dikatakan Brian sama persis dengan apa yang baru saja ia pikirkan. Gadis itu memejamkan mata. Jangan sampai hati murahannya ini benar-benar tergoda dengan brondong asli Surabaya.
"Cuma saran aku sebagai cowok, sih tetep hati-hati aja. Jangan terlalu naif."
"Maksudnya?"
"Roland tetap saja laki-laki. Kalau tahu jalan pikiran dia seperti apa seharusnya kamu bisa lebih menjaga diri. Atau sebenarnya, kamu yang ingin nyerahin diri?"
"Apa tujuan lo bilang kayak gitu. Apa sekarang lo sedang menjalankan misi menjadi seorang adik yang berbudi pekerti?" Ara merasa tidak nyaman mendengar Brian berkata demikian terhadapnya. Ia tertohok. Dia tidak suka kata-kata pria itu benar semua.
"Mungkin. Kalau terjadi apa-apa sama kamu mama papa pasti sedih. Dan, aku enggak mau liat itu."
"Jadi gara-gara mereka. Bukan karena lo memang khawatir sama gue?" Kenapa rasanya sakit? Ara tahu, jika dia bukan siapa-siapa. Tapi, tetap saja.
"Ngomong-ngomong, lo tadi bikin alasan apa sama, papa?" Ara mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Gadis itu juga teringat, jika siang tadi ia sengaja mematikan ponsel miliknya demi menghindari telepon dari papanya.
"Aku bilang motornya mogok dan perlu diperbaiki di bengkel."
"Papa percaya?" Itu alasan standar sekali menurutnya. "Gitu aja? Nggak adil banget!" Kalau saja yang mengatakan itu adalah dirinya, papanya tidak akan percaya begitu saja dan mungkin malah langsung mengirim orang untuk memastikannya atau bahkan papanya sendiri yang akan menemuinya.
Brian hanya mengendikkan bahu acuh.
"Eeh ... eh ... eh! Kenapa!" seru Ara panik begitu motor yang ditumpanginya mendadak berhenti. Ini, jalanan gelap sekali. Bukannya dia tidak percaya Brian, tapi memang pada kenyataannya pria itu tetap saja orang asing. Gadis itu tidak tahu, asli Brian itu seperti apa. Mungkin saja sebenarnya dia menunggu kesempatan seperti ini untuk melakukan hal jahat kepadanya. Bisa jadi, kan? Siapa tahu?
Oke, sebut saja Ara plin-plan dengan pikirannya barusan yang mengatakan, jika dia tidak pantas menilai seseorang. Tetapi, please, ini genting sekali. Dia tidak mungkin menang jika melawan Titan.
"Kamu enggak mau turun?"
Ara bergeming. Brian membuang napas sambil memindai sekitar. Jalanan cukup sepi. Tidak ada tanda-tanda bengkel di sekitaran sini. Ini sepertinya karma instan membohongi papanya. Dan sekarang motornya benar-benar butuh di bawa ke bengkel.
"Ra, beneran enggak mau turun?"
"Kenapa harus turun! Ogah!"
Brian membuang napas. Apa memang sesulit ini berhadapan dengan jalan pikiran, perempuan?
"Lo telepon, siapa?" tanya Ara curiga. Gadis itu takut, jika Brian akan menghubungi komplotannya yang lain. Menghadapi satu Brian saja dirinya tidak sanggup, apalagi ada teman-temannya.
Brian enggan menjawab pertanyaan Ara dan tetap melanjutkan niatnya. Setelah selesai dengan panggilannya, Brian menaikkan satu alisnya saat melihat Ara yang sudah berancang-ancang hendak memukulnya dengan sebatang kayu.
Tunggu ... darimana gadis itu mendapatkan sebatang kayu?
"Lo sebenarnya, siapa?" tanya Ara penuh drama. "Lo ada niat jahat, ya?"
"Kamu ngapain, sih?"
"Cepet, jawab!" Ara mengacungkan batang kayunya. Gadis itu terperanjat saat batang kayu tadi ditarik dengan mudah oleh Brian lalu dibuang ke sembarang arah. Dia menganga.
Brian tersenyum mendekatkan tubuhnya. "Ternyata ketahuan juga...," lirihnya.
Ara melotot lututnya bergetar hebat. "Lo ... Lo mau ngapain? Awas jangan macam-macam. Gue, teriak lo ini!"
"Teriak aja."
"Tol—"
Brian buru-buru mendekap mulut Ara. "Kamu ini mikir apa, sih Ra sebenarnya? Ada-ada aja, sih! Masak harus kenalan lagi? Lupa lagi aku siapa?"
Ara mengerjap. Bulu kudu Ara semakin meremang saat sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. Sial! Apakah, ini akhir hidupnya?
Tapi tunggu....
"Sudah lama?" tanya seorang pria.
"Kenapa kamu pakai baju itu?" Kemeja dan celana pria itu jelas terlihat bukan seperti seorang penjahat.
Si pria tadi mengernyit sambil mengamati seragam yang ia kenakan. "Ada yang salah, Mbak?"
"Nggak ada yang salah kok, Bang. Gak usa didengerin," terang Brian malas-malasan.
Pria itu pun berlalu berjongkok dan memeriksa ban motor Brian. "Apa kalian mau pulang duluan? Pakai mobil ini aja," katanya.
"Enggak Bang, kita tunggu aja di sini sampai selesai," jawab Brian.
"Kekenapa?"
"Ban motorku bocor. Kenapa, apanya? Kamu mikir apa sih, sebenarnya? Emang nggak ngenalin Bang Dika? Dia kan kerja di bengkel langganan papa, katanya."
"Iya, masak mbaknya lupa sama saya."
"Dia kayaknya memang gampang gitu, deh Bang. Sama saya saja juga gampang lupa, kok."
Ara sudah tidak benar-benar fokus mendengar apa yang kedua pria itu bicarakan. Mendadak, pandangannya mulai kabur dan dalam hitungan detik saja sudah gelap gulita. Hanya terdengar sayup-sayup Brian memanggil namanya, tapi sebatas itu. Karena, detik berikutnya dia sudah hilang, tidak ingat apa-apa.