Bab 9 - Hargaku Tak Semahal Jam Tangan

1193 Kata
"Apa, sih? Gue mau tidur. Udah tengah malam juga." Aku berusaha melepaskan cengkraman tangannya, tapi Galaksi tak melepaskanku. "Sorry, gue kebawa suasana. Maklum habis patah hati," katanya dengan enteng. Jadi dia menciumku hanya karena terbawa suasana? Aku dijadikan pelampiasan? Begitu maksudnya? "Udah lupain aja. Anggap nggak pernah terjadi apa-apa." Aku melepaskan cengkraman tangannya dengan lembut, lantas kembali berjalan menjauhinya dengan hati berkecamuk. "Tapi lo bales ciuman gue. Mau dilanjut nggak?" Dan aku hanya berlalu tanpa membalas celotehannya. Saat ini mood bercandaku telah hilang terbawa angin malam. Kututup pintu kamar dengan kasar, lantas pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Mulai besok, aku harus berangkat kerja lebih awal untuk menghindari Galaksi. *** "Kamu ada uang, nggak? Seratus ribu aja buat beli kuota. Besok masa aktifnya habis, deh, kayaknya," kata Andra. Sepulang dari toko, aku memilih untuk pergi jalan-jalan ke mall bersama Andra. Semua kulakukan untuk menghindari Galaksi. "Ada," jawabku dengan malas. Daripada mengatakan nggak punya uang, dan rencanaku berakhir sia-sia, kan? Kuambil dompet, dan memberikan selembar uang seratus ribu secara cuma-cuma padanya. Andra nyengir, lantas mengecup pelipisku sebagai tanda terimakasih, sementara aku hanya terdiam dengan wajah datar. “Setelah aku kerja nanti, aku janji akan ngelamar kamu dan beliin kamu perhiasan mewah," katanya. Udah, lah, iyain aja. "Sekarang maaf, ya, aku minta uang ke kamu terus. Nanti aku ganti kalau udah kerja. Aku janji, Sayang." "Nggak usah diganti, aku ikhlas, kok," jawabku. Andra hanya tersenyum sambil menautkan jemari kami. Dan kami naik ke lantai empat, mencari bioskop untuk menonton. Saat sedang mengantri tiket, kulihat seorang gadis tengah bergandengan tangan dengan seorang pria paruh baya. Sepertinya dia Raya, mantan pacar Galaksi. Dan laki-laki yang kini bersamanya nggak mungkin bapaknya, kan? Mana mungkin cara gandengannya seintim itu? Setelah mendapat dua tiket, aku dan Andra langsung duduk di ruang tunggu. Mataku masih memperhatikan sosok Raya yang sedang tertawa lepas dengan pria paruh baya di sampingnya. Batinku menebak-nebak, apa mungkin Raya selingkuh dengan pria tua itu? Kalau iya, kasihan sekali Galaksi. Tak berselang lama, seorang cowok datang, kemudian menendang kecil meja di hadapan Raya. Dia terlihat murka, tapi masih tetap stay cool dengan memasukan kedua tangannya ke saku celana. Saat ketelisik sosoknya lamat-lamat, aku baru menyadari bahwa cowok itu ternyata Galaksi. "Pindah meja, yuk!" ajakku ke Andra. Andra menautkan kedua alisnya, tapi di detik selanjutnya kutarik tangannya secara paksa hingga kami berjalan beriringan menuju meja nomor 7, berdekatan dengan tempat Galaksi berdiri, karena sejujurnya aku kepo dengan keributan mereka. "Kok pindah meja?" "Nggak apa-apa, pengen aja," jawabku. Sepertinya Andra tak menyadari sosok Galaksi. Dan Andra hanya mengangguk patuh sambil sibuk kembali dengan ponselnya. Kulirik Galaksi yang masih stay cool dalam posisinya. Dia berdiri sambil tersenyum miring memandang kedua mahluk di hadapannya. Raya tampak gelagapan, sementara om-om di sampingnya hanya menghela napas tak mengerti. Pemandangan ini membuatku melebarkan telinga saking tak ingin ketinggalan informasi. "Berapa duit yang dia tawarkan?" tanya Galaksi sambil memandang Raya, sementara tangannya menunjuk ke muka om-om gendut di sampingnya. "Apa, sih, Gala!" "Gue tanya berapa duit yang dia tawarkan?" Intonasinya naik satu oktaf. Mampus, lu, Raya, makanya jangan main api. Udah untung pacaran sama Galaksi yang ganteng dan tajir, bisa-bisanya dia selingkuh sama toren air. Eh, kok aku malah membela Galaksi, sih? "Kita pindah, yuk, Sayang." Raya berdiri, menarik tangan om-om di sampingnya. Dengan sigap, Galaksi mendorong Raya agar kembali duduk. Dia mengambil dompetnya dari saku, mengeluarkan semua uang di dalamnya lalu melemparkannya ke Raya. Uang seratus ribuan berceceran di lantai, dan secara otomatis, semua perhatian pengunjung berpusat ke mereka. "Duit, kan, yang lo mau?" tanya Galaksi ke Raya. Raya hanya bergeming tanpa berani mengeluarkan suara. "Gue tajir, lebih dari yang lo tahu. Lebih dari cowok di samping lo!" Galaksi menunjuk muka om-om gendut itu dengan jari telunjuknya. "Jaga omongan kamu, ya. Nggak sopan sama orangtua!" Si tua bangka ikut-ikutan nimbrung. Mendengarnya, Galaksi langsung terbahak. "Lo tahu siapa gue?" tanya Galaksi. "Gue anggota dewan, lo mau apa?" tantang si Tua Bangka. "Bocah ingusan kayak gitu aja udah banyak tingkah." Galaksi tersenyum asimetris, dia mengeluarkan ponselnya, terlihat mengetikan sesuatu, sebelum aku menyadari bahwa pemuda itu sedang menelpon seseorang. Video call lebih tepatnya. "Hai, Umi Meghan! Inget Galaksi? Pewaris tunggal Prakasa Grup, masa lupa," ucapnya narsis. Si Tua Bangka tampak membulatkan mulutnya sambil memandang Galaksi. "Aku ketemu sama Abi Hamzah, nih, di mall. Dia lagi sama pacar saya, nggak tahu lagi ngapain," lanjut Galaksi. "Halo, Galaksi. Apa kabar?" "Baik, Umi." "Abi di mall?" tanya seseorang dari seberang sana. Dan Galaksi langsung merapatkan tubuh ke tengah-tengah Raya dan om-om di sampingnya, posisi Galaksi berada di tengah-tengah. "Kamu Abi Hamzah, kan? Ini aku, Galaksi, yang waktu kecil suka nempel-nempel ke Umi Meghan." Galaksi tampak mencolek dagu Abi Hamzah dengan usil. "Abi! Lagi ngapain di mall? Katanya ada rapat," tanya seseorang dari seberang telepon, aku rasa dia istri sah Abi Hamzah. Permainan semakin seru, Galaksi benar-benar bocah freak. Dan ponsel langsung direbut oleh Abi Hamzah, panggilan diputus begitu saja. Galaksi tampak tertawa-tawa tanpa dosa sambil memandang wajah panik Abi Hamzah dan Raya secara bergantian. "Saya minta maaf," ucap Abi Hamzah sambil mengembalikan kembali ponsel Galaksi. "Jangan sampai kejadian ini ketahuan oleh Umi dan Papa kamu, ya." "Sudah kenal siapa aku?" tanya Galaksi. Si om-om tampak diam dan menunduk, membuat Galaksi tersenyum puas, begitu pun aku. Tanpa mengucapkan apa pun lagi, Galaksi mencium pipi Raya yang menunduk secara usil, lalu pergi meninggalkan keduanya dan menghampiriku. Menghampiri aku? Astaga. Segera aku balik badan lalu menundukan wajah. Di depanku ada buku menu, langsung saja aku menggunakan buku menu tersebut untuk menutupi wajahku. Sekarang Galaksi sudah berdiri di sampingku, dan secara serampangan dia menarik buku menu tersebut hingga wajahku terpampang nyata. "Pulang, yuk!" katanya sambil melirik Andra sekilas. Galaksi menyimpan buku menunya kembali ke meja dan duduk di sampingku. Kini Galaksi memandang Andra sambil bersendang dagu. "Boleh gue izin bawa pacarnya pulang?" tanya Galaksi ke Andra. Sumpah, bocah ini terlalu santai untuk dikatakan sebagai seseorang patah hati, membuatku geleng-geleng kepala mengingat semua tingkahnya. "Nggak boleh, lah. Filmnya aja belum diputer,” jawab Andra tak terima. Galaksi mencopot jam tangan rolexnya, lalu menyodorkannya ke telapak tangan Andra sambil menyeringai. "Buat lo, deh." Andra tampak tercengang, dia diam selama beberapa saat, lalu menatap layar ponsel. "Oh, iya, aku lupa kalau tadi ada urusan. Aku pulang dulu, nggak apa-apa, kan, ya?" tanya Andra padaku. Seketika aku tertawa hambar. Ternyata harga diriku tak lebih mahal dari jam tangan milik Galaksi. “Nggak bisa dong, Ndra,” jawabku dengan wajah memelas. Aku di sini untuk menghindari Galaksi, kan? Kenapa justru rencanaku gagal dan malah berakhir seperti ini? “Maaf, Sayang. Ini bener-bener nggak bisa ditinggalin.” “T-tapi—” “Aku pergi dulu, ya. Dah, Sayang.” Setelah mengacak pelan rambutku, Andra berlalu dari hadapanku dan hilang ditelan pintu lift. Menyisakan Galaksi dan aku yang diam dilanda patah hati. Sama-sama patah hati. “Lo ngapain ngasih jam tangan lo ke Andra? Buat ngebuktiin kalau duit lo di atas segalanya?” tanyaku sinis. Galaksi hanya mengendikan bahu dengan wajah lempengnya. “Enggak. Gue cuma kurang suka aja sama pacar lo. Mukanya kayak cowok b******k tahu, nggak?” Bersambung... Gimana, seru nggak? Di real life, kalian punya temen se-aneh Galaksi nggak, sih? Baca ceritaku yang lain, yuk; 1.Sesha 2.Perfect Scandal
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN