Pintu kamar diketuk dua kali, disusul suara Allan yang menanyakan keadaanku pada Lisa. Perempuan di depanku ini langsung membantu memakaikan jilbab dengan baik, lalu mengizinkan Allan untuk masuk. Aku masih membeku di tempat atas pemikiran barusan. Bahwa ... Lisa bisa saja menjadi salah satu musuh kami selama ini. "Kamu baik-baik aja, Medina?" tanya Allan, yang aku berikan dengan beberapa anggukan sebagai jawaban. Pandanganku beralih pada Lisa yang sama sekali tidak terpengaruh. Ekspresinya berubah serius seperti biasanya. Aku nyaris tidak pernah mengalihkan pandangan jika seandainya Allan tidak menegur. "Kamu punya informasi terbaru, Dina?" tanya Allan, yang hanya bisa aku jawab dengan gelengan. "Tapi ... Satria punya kebiasaan aneh, Allan." Aku membawa arah pandanganku ke sudut

