Sam’s Point of View
Mereka semua mengikuti, berjalan ke arah ruanganku. Sejujurnya aku sangat gugup, aku takut mereka menyadari kalau aku hanya ingin pamer dengan kamarku yang luar biasanya ini. Sebelum mereka melihat bagian dalam, aku akan memulainya dengan pertunjukan hologram Hobit. Zlo dan Kare memang sudah pernah melihatnya, aku melakukan ini untuk Sitma.
“Hobit buka pintunya” Aku sangat percaya diri dengan teknologi buatanku. Robot virtual ini bisa mengenali suara, aku tidak perlu memasukkan pin atau menempelkan barcode untuk membuka pintu.
5 detik menunggu jawaban, Hobit tidak meresponku. Aku melihat kearah belakang, tiga orang berbeda memiliki respon yang berbeda juga dengan kejadian memalukan ini. Zlo dan Kare, mereka hanya melipat tangan dengan menundukkan kepalanya, mereka berempati atas rasa malu yang ku hadapi. Sedangkan Sitma hanya tersenyum menertawakanku.
Aku mencobanya sekali kali, namun, masih tidak bisa dan berakhir pada aku membuka pintu secara manual.
“Apa kau menggunakan semacam stimulus untuk “Hobit”?” Kare bertanya tepat saat aku membuka pintu. Sial, aku lupa, sistem Hobit aku buat sama persis dengan Hobit yang asli. Ia akan bisa digunakan jika aku sudah beri “makan”, sedangkan tadi pagi aku tidak sempat melakukan itu dan langsung menemui Sitma.
Masalah Hobit yang error ku anggap selesai. Mereka masuk dan langsung duduk di sofaku. Berbeda dengan yang lainnya, Sitma sedikit lebih detail dalam menangkap semua sisi kamarku dengan matanya. Ini kali pertama Sitma bertamu ke sini. Kita semua duduk dan sebenarnya aku menunggu ada yang mengomentari keindahan ruangan ini.
“Kamarmu baru dibersihkan Sam?” Tanya Zlo, sahabatku ini memang sangat menegerti. Baru aku ingin menjawab kegiatanku pagi ini…
“Kenapa service room baru datang? Kamarku sudah dari kemarin dan sepertinya mereka tidak membersihkan kamarmu dengan baik” APA? Aku mati kutu.
“haha iya” aku hanya membalas singkat.
Setelah kejadian yang sangat canggung, bagiku. Akhirnya Zlo membuka percakapan sesungguhnya, mengenai apa yang akan mereka lakukan pada Mr. Anaro. Ini tidak akan menjadi hal yang mudah mengingat posisi anaro ada di atas awan. Seorang presiden bumi bagian satu, pemegang penuh kontrol kemiliteran dan alutsista.
“Mungkin ini saatnya, selama ini Anaro adalah orang yang paling menentang misi ini, ia juga sering menganggu kita dengan memata-matai. Jika Anaro tertangkap, semua akan menjadi lebih mudah” Zlo menjelaskan kembali mengapa Mr. Anaro layak untuk dipenjara.
“Kenapa tidak dari dulu saja!” Aku menanyakan (lebih kepada membentak) karena aku heran, kenapa mereka tidak melakukannya dari awal.
“Apa yang sedang kita lakukan di sini?”
Kenapa Kare malah bertanya seperti itu? Jawabannya sudah sangat jelas,
“Menjalankan misi besar menyatukan bagian bumi, secara rahasia” Volume suaruku membuat kurva menurun, maaf aku lupa kalau ini rahasia.
Mereka melanjutkan obrolannya, melupakan kebodohanku dengan cepat. Syukurlah.
Semua sedang berpikir, bagaimana cara menjebak Mr. Anaro tanpa membuatnya menyadari hal itu. Jika hanya menggunakan Sitma sebagai saksi, Mr. Anaro akan sangat mudah memenangkan pengadilan dengan memutar balikkan fakta.
“Kita harus menemukan bukti.” Aku tahu persis bagaimana mengetahui suatu hal itu benar, nyata, dan fakta. Bukti. Apapun yang kau ucapkan jika kau memiliki bukti, semua orang akan percaya. Bukti adalah alat pelindung dan penyerang terbaik. Misalnya saat kau mengatakan bahwa kau memiliki kekuatan super, tidak aka nada yang percaya sampai kau dapat membelah sebuah besi besar dengan tanganmu. Padahal bisa saja besi itu sudah tua dan berkorosi sehingga siapapun dengan sangat mudah memotongnya.
Contoh yang lebih sederhana, kau bisa mengatakan pada orang tuamu kalau kau telah belajar semalaman karena bukumu terbuka dan lampu kamarmu menyala tadi malam. Padahal semalam kau bermain game dan hanya membuka bukumu saja. (ini bukan trik dari ku)
“Sam benar. Apa ada barang yang bisa dijadikan bukti dalam kejadian itu?” Kare bertanya pada Sitma yang dari tadi belum mengeluarkan satu patah kata dari mulutnya.
“Sebentar, aku harus mengingatnya kembali.”
“Kau tak apa?” Aku khawatir, ini hal yang sulit untuknya.
Sitma hanya mengangguk dan berusaha mendapat sesuatu dalam ingatannya. Keringat seukuran kacang polong bermunculan dari dahi dan pelipisnya. Dahinya juga membentuk kerutan, gigi serinya menggigit bibir bagian bawah. Wanita ini berusaha dengan keras.
Ketegangan itu tidak hanya dirasakan Sitma, tapi juga aku, Zlo, dan Kare terus memberinya semangat dengan tidak mengganggu. Kami belum melepaskan pandangan kami dari wajah Sitma.
“Amara,… Apa kalian tahu di mana amara jasad Amara saat ini? ” Suasana hening terpecah, Sitma mengeluarkan kalimatnya.
“Amara? Kenapa? Zlo bertanya, ekspresinya menunjukkan kebingungan sama sepertiku dan Kare.
“Dalam ingatanku aku melihat kejadian itu, Amara yang meronta kesakitan dengan memar seluruh badan. Saat itu Amara sangat kuat, ia masih hidup dengan kondisi seperti itu. Mr. Anaro yang kesal dengan rasa ingin hidup Amara yang besar, akhirnya melemparkan Shuriken miliknya. Benda itu masuk ke dalam tubuh Amara hingga ia benar-benar tewas. Ku rasa benda itu masih ada di dalam tubuhnya.” Sitma menjelaskannya dengan detail. Ceritanya membuatku sesak.
“Shuriken? Mr. Anaro memang terkenal ahli dalam menggunakannya. Ia bahkan memproduksi shurikennya sendiri. Itu bisa jadi barang bukti yang sempurna. Tapi artinya kita harus melakukan otopsi pada jasad Amara. Apa kau tidak masalah dengan itu?” Kare, ternyata memiliki sisi kelembutan.
Sitma mengangguk, diikuti oleh anggukan yang lain.
“Lalu bagaimana kita menemukan jasad Amara?” Zlo membuka pertanyaan baru.
Jawabannya adalah
“Kita harus keluar dari camp dan mencarinya.”
“Sebelum itu, apa kau mengingat sesuatu mengenai jasad adikmu?” Zlo bertanya, setidaknya jika Sitma mengetahui sesuatu itu akan mempermudah dalam pencarian ini.
“Maaf Zlo, yang aku ingat, aku tidak pernah menganggap Amara ada. Aku sangat ingat saat orang tuaku akan memakamkannya, tapi aku menolak untuk ikut karena aku tidak tahu siapa Amara itu. Bahkan aku tidak tahu saat mereka mengatakan pemakaman, apakah ada jasad Amara atau itu hanya upaca simbolis” Kini emosi Sitma sudah lebih stabil. Aku juga kurang tahu apa yang membuat Sitma pada akhirnya menjadi kuat seperti ini.
“Karna ini akhir minggu, jika kalian sudah menyelesaikan seluruh pekerjaan kalian minggu ini, kita punya 1 hari untuk membantu Sitma” Kare memberi tahu.
“Kalian? Bagaimana denganmu?” Tanya Zlo
“Hmm aku selalu menyelesaikan semuanya di hari ke 5” HAH berarti ia setiap minggu mempunyai waktu libur 2 hari. Wanita pekerja keras.
“Kalau begitu sampai bertemu besok” Zlo mengakhiri ini dengan baik.
Zlo, Kare, satu persatu keluar meninggalkanku. Hingga tersisa satu, Sitma.
“Sam” ia memanggilku, dengan nada yang cukup rendah.
“Aku tidak tau harus mulai dari mana, tapi terima kasih sudah mempercayaiku”
“Ah, itu, santai saja kita memang harus saling….” Belum selesai.
Wajahnya mendekati wajahku. Hatiku bergetar sangat kencang. Apa ia akan menciumku? Semakin dekat wajahnya, semakin bingung reaksi apa yang harus aku lakukan. Apa aku harus memajukan bibirku? Memberikan pipiku yang sudah mulus setelah bercukur? Atau bahkan menghindar? Akhirnya aku memilih untuk tetap diam mematung.
“Sampai bertemu besok bshbshbsh” ternyata ia hanya berbisik. Bisikan yang membuatku merinding, karna aku tidak dapat menerjemahkan kata terakhirnya.
Kini semuanya sudah beranjak dari kamar ini. Kecuali aku. Oh iya kenapa aku juga tidak menyelesaikan tugasku. Akhirnya aku mengambil tab di meja dan segera pergi ke tempat pembuatan pesawatku. E-7 terlihat semakin mendekati rampungnya.
“Joy!” Aku berteriak dari posisiku saat ini.
“Ha?” Si anak tidak sopan itu malah menjawab seperti itu. Joy memang sangat pintar, tapi ia juga keras kepala dan kadang seenaknya.
“Apa kau sudah cek tekanannya?” Aku harus tetap menanyakannya.
“Kau tidak perlu menanyakannya” Sudahlah, aku sudah percaya padanya. Walaupun seperti itu, ia tetap anak yang baik. Mungkin saja ia begitu karena masih belum cukup dewasa.
Mengecek tekanan sudah, sebenarnya aku dapat memeriksanya melalui data yang akan mereka kirimkan, tapi aku tetap harus memeriksa keadaan lapangan. Apa lagi ya yang harus aku lakukan?
Author’s Point of View
Di sisi lain dari Sam yang bingung harus mengerjakan apa, Kare yang katanya sudah menyelesaikan tugasnya masih sibuk memeriksa semua pekerjaan di dalam camp itu. Hal itu bukan berarti ia berbohong jika ia sudah mengerjakan semuanya, tapi memang begini kebiasaannya. Kare akan menyelesaikan pekerjaannya dengan waktu sesingkat mungkin dan memeriksanya di waktu senggangnya. Ia tidak terlalu suka bermalas-malasan.
Berbeda dengan Kare dan Sam, Zlo mempunyai jadwal sendiri. Karena ia juga memiliki jabatan yang tinggi di luar misi ini (di XIX Company), kesibukannya dua kali lipat dari Sam, tapi kecepatan bekerjanya tidak lebih cepat dari Kare. Itu yang membuatnya terlihat sibuk setiap saat. Ia orang sibuk sesungguhnya.
Terakhir Sitma, ia tidak memiliki kesibukan apapun selain membantu petugas kebersihan secara suka rela.
Hari ini adalah hari yang panjang dan bersejarah. Ini adalah hari dimana Sitma merasakan kepercayaan dari orang lain. Khususnya Sam. Sitma merasa bahwa yang seharusnya minta maaf itu dirinya, karna ia telah membohongi Sam dan memata-matainya. Sam juga orang yang telah menyelamatkannya saat di ifralert. Tapi ia tetap bersyukur akan itu. Ia tidak pernah menyangka jika semuanya akan baik-baik saja, setidaknya sampai saat ini. Senyuman Sitma mengisi penuh kamarnya.
Secara tidak sengaja Kare dan Zlo bertemu di laboratorium penelitian Lapsoina.
“Kare..Kare” Zlo memanggil Kare berbisik. Kare dengan kacamata kerjanya sedang sangat fokus memperhatikan benda angkasa itu.
“Kare, kau mendengarkanku kan?” Tanya Zlo lagi sambil ikut memperhatikan benda di dalam etalase itu. Kare menengok kea rah Zlo dan pria itu tersenyum.
“Kare, kan kau mengatakan kalau pekerjaanmu sudah selesai, sedangkan aku masih ada yang harus ku urus mengenai investasi di XIX Company. Agar besok kita semua bisa membantu Sitma, mau kah kau menyelesaikan tugasku hari ini? hehe” Zlo membujuk.
Kare masih belum bicara apapun. Ia menyimpan tabnya di meja dan merogoh sesuatu dalam kantung bajunya. Karet rambut. Kare mengumpulkan rambut panjangnya dan menariknya keatas, memamerkan leher indahnya. Ia mengikat rambutnya dengan cukup kencang dan mengulurkan tangannya.
“Terima kasih Kare! Kau memang yang terbaik!” Zlo sangat tahu kalau Kare sudah mengikat rambutnya, berarti ia akan mengerjakan sesuatu yang berat dengan serius. Zlo sumringah, entah karena pekerjaannya dibantu Kare, atau karena melihat kecantikan Kare saat mengikat rambutnya.