Author’s Point of View
Hari minggu menghampiri Sam, Kare, Zlo, dan Sitma. Mereka sudah mempersiapkan diri untuk melakukan petualangan bersama di luar misi yang selama ini memenuhi pikiran mereka. Mereka membuat kesepakatan untuk bertemu di cafétaria pukul 9 pagi.
Kare keluar kamar dengan pakaian kasual, berbeda dengan hari-harinya yang selalu menggunakan baju dan celana hitam berbahan kulit yang cukup ketat dan mengkilat. Rambutnya diikat tinggi keatas, menandakan ia sangat siap untuk perjalanan menarik ini. Sesampainya di cafétaria, belum ada siapapun. Kare menjadi orang pertama yang sampai. Tidak heran, ia memang selalu datang lebih awal untuk mempersiapkan semuanya dengan matang.
Orang kedua yang datang adalah Zlo, berbanding terbalik dengan Kare, Zlo menggunakan suite and tie. Ia merasa jika misi ini cukup penting, dan memainkan peran sebagai agen mata-mata adalah salah satu cita-cita Zlo.
“brrlph..” Kopi dalam mulut Kare keluar seperti peluru pada tembakan segala arah. Kare cukup kaget dengan pakaian Zlo dan itu membuatnya tidak bisa menahan tawa.
Zlo yang melihat tembakan itu tahu persis jika Kare sedang mengejeknya. Padahal selain karna cita-cita, ia juga ingin membuat Kare terkesima dengannya.
“Apa?” Zlo memasang muka kesalnya dan dibalas dengan gelengan Kare.
Beberapa menit kemudian Sitma datang. Jeans sobek dan kaos putih over sized membuat dirinya berada di #teamKare. Mereka sama-sama memilih pakaian yang kasual.
“brrlph..” Isyarat itu keluar lagi, tapi bukan dari orang yang sama. Kali ini Sitma yang tertawa melihat pakaian yang digunakan Zlo. Sitma segera duduk di antara mereka sambil sesekali melihat Zlo dari atas sampai bawah dan tertawa sipu.
“Apa?” Zlo memasang muka kesalnya dan dibalas dengan gelengan Sitma. Ya sama dengan apa yang terjadi pada Kare sebelumnya. Sitma dan Kare sesekali saling menangkap mata untuk menertawakan Zlo bersama.
Tinggal satu orang lagi yang belum datang. Sam. 5 menit sebelum pukul 9 batang hidung Sam belum terlihat. Mereka curiga kalau Sam juga berpikiran seperti Zlo. Menggunakan suite and tie.
“Pasti ia lama karna berpakaian rapih seperti ku.” Zlo mengucapkan dengan senyum tipis di ujung bibirnya.
“Aku sudah berteman dengannya lama, aku tahu persis kita berdua menyukai film mata-mata yang sama dan kita punya referensi yang sa….”
“brrlph..” Suara itu muncul dari belakang tubuh Zlo.
“Kenapa kau menggunakan pakaian seperti itu mm?” Sam menahan tawanya. Ternyata, Sam tidak menggunakan pakaian formal seperti apa yang diprediksikan Zlo.
Semua orang menertawakan Zlo, sampai ia sempat ingin mengganti bajunya sebelum berangkat. Namun karena Kare mengatakan itu cukup bagus, Sam yang meyakinkan Zlo jika baju itu sangat mirip dengan tokoh mata-mata andalan mereka, dan Sitma yang mengingatkan jika mereka tidak punya waktu banyak, Zlo tidak jadi mengganti pakaiannya. Mereka memulai perjalannya dengan membagi tim agar dapat lebih menghemat waktu.
Karena Kare yang duluan datang, selama menunggu ia sempat membuat perencanaan yang katanya belum selesai tapi jika dibaca orang lain itu sudah matang. Isinya adalah beberapa pemakaman di daerah Iflaert. Sebelumnya mereka sudah meminta izin Mr. Ekuador untuk ikut perjalanan pesawat argo yang bertujuan ke Iflaert. Kare membagi mereka berempat menjadi dua tim. Tim pertama adalah dirinya sendiri dan tim kedua sisanya. Karena melihat pembagian yang tidak cukup adil akhirnya Sam mengajukan dirinya untuk ikut dengan Kare di tim pertama. Kare tidak pernah mempermasalahkan kuantitas, baginya, dirinya sendiri sudah cukup untuk menjalankan tugas seperti ini. Justru dengan masuknya Sam di timnya, hal ini cukup menyulitkan bagi Kare.
Mereka memasuki pesawat argo yang hampir tidak ditemukan kursi di dalamnya.
“Syukurlah pesawat ini tidak penuh” Ucap Zlo yang menggunkan jas dan kemeja rapih diantara tumpukan kardus barang.
“Haha Ifralert tidak membutuhkan apa-apa dari Disep Zlo. Nanti saat kembali dari Ifralert kita baru akan merasakan sensasi menggunakan peswat argo” Sam menjawab. Ia benar. Bisa saja saat pulang mereka terbang bersama ratusan ayam potong.
Saat di pesawat, lagi-lagi kedua wanita itu tidak tinggal diam dan hanya menikmati perjalanan seperti halnya Zlo dan Sam. Sitma dan Kare bersama membagi list pemakaman untuk mereka selidiki. Mereka bahkan memikirkan bagaimana cara mengurus jasad Amara jika mereka sudah menemukannya.
Pesawat argo itu akhirnya mendarat. Sam dan Zlo yang tidak terbiasa menaiki pesawat argo terlihat sangat pucat, mereka mabuk udara.
“Aku sudah menyewa dua mobil untuk kita” Sitma memberi tahu.
Wanita berkacamata hitam di depannya menaikkan aksesoris mata itu, disimpan di atas rambut depannya. Kini wajah tirusnya terekspos.
“Jam berapa mobil itu tiba?” Tanya Kare, wanita yang menggunakan kaca mata.
Zlo dan Sam yang masih terlihat pucat tidak berkata apapun selain melihat sekitar untuk menghilangkan pusing dan mualnya. Lagi pula mereka tidak punya tenaga dan sumbangan ide apapun terkait misi ini.
“Sudah ada di area parkir” Kare mengangguk,
“Bisakah kita istirahat sebentar?” Zlo merengek, ia belum sanggup untuk melakukannya langsung.
“Ada sekitar 200 pemakaman, jika kita menundanya ada dua pilihan. Menyelesaikan ini sampai besok pagi atau minggu depan kita melakukan perjalanan seperti ini lagi” Kare memberikan opsi. Zlo dan Sam tidak memilih keduanya. Mereka tidak mau masih di lokasi pemakaman hingga larut malam, juga tidak mau melakukan perjalanan “pesawat argo” untuk kedua kalinya.
“Baiklah ayo kita lakukan sekarang!” Sam menyemangati dirinya sendiri.
Kini mereka berpencar. Sam dengan Kare menyusuri daerah utara Ifralert, sedangkan Zlo dan Sitma kearah sebaliknya.
Tim Zlo dan Sitma masih terhenti di menentukan siapa yang akan menyetir mobilnya. Sitma ingin menyetir karena ia cukup mengetahui dan mengenal daerah selatan Ifralert. Tapi Zlo merasa akan sangat payah jika ia sudah menggunakan baju keren itu tapi tidak melakukan hal yang hebat. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bergantian.
Di tempat lain Sam dan Kare sudah selesai menyusuri satu tempat, mereka tidak memperebutkan posisi kemudi. Kare sudang langsung menempati posisi itu dan menyalakan mesin. Sam tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti apa yang sudah direncanakan Kare.
1,2,5 hingga 19 area pemakaman sudah mereka datangi. Tapi tidak ada makam milik Amara.
“Ada berapa tempat lagi yang belum kita datangi?” Tanya Sam pada Kare. Perempuan itu hanya diam dan terus melanjutkan perjalanan.
“Kare kau tidak boleh terus begini. Manusia saling membutuhkan satu sama lain” Secara tidak sadar Sam memberikan sebuah nasihat yang Kare sendiri tidak pernah dengar. Selama ini ia merasa dengan kemandiriannya itu akan menjadi sesuatu yang salin menguntungkan atau win-win solution. Selama pekerjaannya bagus, ia rasa partnernya juga akan senang karena Kare juga lebih menyukai bekerja secara individu.
Ucapan Sam itu menjadi tamparan kecil bagi Kare, setidaknya sekarang ia berpikir, apa yang ia lakukan selama ini salah? Apa mengandalkan diri sendiri adalah hal yang tidak benar? Sepertinya Kare memang perlu tahu jika hal ini tidak bisa dijadikan sesuatu yang mutlak.
Kare menghentikan mobilnya. Ia keluar tanpa mengatakan apapun. Sam panik, “apakah ucapanku tadi salah? Mau pergi ke mana Kare?” Pikirnya dengan langsung membuka seatbelt dan akan mengikuti kemana Kare akan pergi. Belum semua rencananya diwujudkan, saat membuka pintu mobil Sam dikejutkan dengan kehadiran Kare di depannya.
“Aku lelah, bisakah kita bergantian?” Kare meminta pada Sam. Akhirnya, wanita itu melembut. Sam dengan senyum menerima permintaan itu. Mereka bertukar posisi.
“Selanjutnya kita akan ke area pemakaman di distrik 18, aku sudah mengatur peta digitalnya. Jika kau ingin menanyakan sesuatu aku akan menjawabnya” Kare mengatakan itu semua dengan nada yang cukup canggung. Ini kali pertamanya ia (belajar) mempercayai orang lain.
Setelah beberapa jam, tengkuk Sam mulai terasa pegal dan ia menyesal telah mengatakan itu semua pada Kare. Jika tadi Sam diam, ia tidak perlu merasa lelah.
Beralih pada perjalanan Zlo dan Sitma, mereka sudah di area pemakaman ke 10 di distrik 3.
“Ini akan menjadi yang terakhir” Sitma disamping mobil dengan pandangan lurus melihat area pemakaman. Zlo dengan posisi yang sama persis, membuka kacamatanya.
“Terakhir? Kata kalian ada ratusan area pemakaman?” Tanya Zlo heran.
“haha itu hanya bercandaku dengan Kare, untuk radius yang dekat dengan tempat tinggalku hanya ada 32 area pemakaman. Karna Kare yang membuat detail rencana jadi dia memilih bagian paling banyak, mereka memeriksa 22 area pemakaman dan kita hanya 10” Sitma menjelaskan semua.
Zlo hanya menghembuskan napasnya, karena tidak ada lagi yang dapat ia lakukan selain itu untuk saat ini.
Langkah yang disisipkan permohonan terus melaju dari area parkir ke area pemakaman. Penampilan Zlo sudah berubah dengan melepas jasnya dan hanya memakai kemeja putih dengan beberapa kancing terbuka membuatnya seperti manusia yang sedang dikejar zombie. Mereka memasuki area itu dan membaca satu persatu nama yang tertempel di samping peti mati. Jaman sekarang orang lebih memilih untuk menyimpan jasad di dalam peti mati dan ditumpuk dalam satu gedung yang disebut area pemakaman. Peti-peti disusun sangat rapih dan bersusun untuk menghemat lahan pemakaman.
Keempat orang itu terus mencari, mau tidak mau mereka harus mendapatkan jasad Amara sore ini karena prosesnya belum selesai sampai di situ. Sitma dan Zlo memperhatikan baik-bait tiap peti, mengingat ini adalah area pemakaman terakhir yang harus mereka periksa.
Drrrrrt, drrrrt, drrrt
Telepon Zlo berdering.
“Ya?” Zlo menjawab telepon itu.
“Kami menemukan jasad Amara!” suara Sam terdengar samar-sama di telinga Sitma, sesorang yang tidak dalam sambungan telepon. Mata Sitma berkaca sambil terus memperhatikan percakapan Zlo dan Sam dengan seksama.
“Baiklah kami akan segera menyusul, kirimkan aku alamatnya.”
Zlo dan Sitma menyusul Sam dan Kare.
Di jalan sesekali Zlo memerhatikan Sitma yang terlihat seperti percampuran antara sedih, tegang, dan senang.
“Ini akan cukup menguras air matamu Sitma” Zlo mengatakannya dengan pandangan kedepan, fokus pada jalan yang mereka lalui.
“Aku sudah siap atas segala resiko” Jawab Sitma.
Sesampainya di area pemakaman, mereka langsung bergegas masuk dan menyusul Sam dan Kare. Berlari kecil cukup untuk menambah kecepatan agar tidak ada waktu yang terbuang. Mereka sampai dengan terengah, Sam dan Kare memang sudah menunggu di dalam.
“Di mana?” baru langkah kaki dihentikan Zlo bertanya tanpa basa basi.
“Tenangkan diri kalian, peti itu ada di lantai 2, peti nomor 128.” Jawab Kare.
Kali ini Sitma yang tergesa, ia langsung menaiki tangga menuju lantai 2 untuk menemukan peti Amara. Sitma menemukannya. Ia tak lantas langsung membuka peti itu, tubuhnya membeku, entah kenapa tapi ia tidak melakukan apapu selain menatap peti itu dengan kesedihan sampai akhirnya ketiga rekannya sampai juga di tempat yang sama.
“Biar aku saja yang memeriksanya” Sam mencoba untuk menggantikan tugas yang seharusnya dilakukan oleh Sitma, karena ia sampai duluan pada peti Amara.
“Tidak, aku ingin melihat wajahnya” Penyesalan atas melupakan adiknya itu masih melekat di diri Sitma.
Sitma membuka peti itu, peti yang bertuliskan nama Amara. Air matanya tak kuasa melihat jasad anak kecil di dalam peti. Amara kecil yang malang. Jasad Amara masih utuh dan sempurna karena diawetkan oleh orang tuanya sendiri. Orang tua Sitma sengaja mengawetkan jasad Amara dan lebih memilih pemakaman menggunakan peti. Dulu mereka masih belum bisa menerima trauma yang dialami Sitma, sehingga mereka mencoba mengembalikan ingatan itu dan keberadaan Amara dengan cara mengawetkannya.
Air mata deras jatuh diatas peti itu, sebuah ingatan lama tentang Amara kembali muncul. Sitma akhirnya ingat, orang tuanya sering mengajaknya ke pemakaman ini untuk “melihat adiknya”, tapi karena ia tidak pernah merasa punya adik, lalu Sitma menolaknya.
“Lalu bagaimana selanjutnya?” Zlo bertanya, agar semua ini segera selesai.
“Aku sudah menghubungi temanku dari Bogola untuk proses autopsi” Ini memang sudah direncanakan Kare.
Setelah itu mereka langsung membawa jasad Amara pada kenalan Kare yang merupakan seorang dokter. Mereka sampai di suatu tempat, tempat tu seperti rumah kosong yang tidak terawat.
“Apakah benar ini tempatnya?” Sam bingung dengan penampakan rumah itu. Ia tak henti melihat rumah itu secara menyeluruh.
Kare tidak menjawab apapun dari pertanyaan itu ia hanya meneruskan langkahnya menuju ke dalam. Posisi jasad Amara saat ini masih di dalam mobil.
Tepat di depan pintu Kare memencet bel rumah temannya dan tak lama dari situ keluar seorang dokter perempuan dengan celana pendek dan tanktop yang ditutupi kemeja tanpa kancing yang saling mengikat. Wanita itu memiliki kaki yang jenjang dan tubuh yang lumayan berotot.
“Apakah benar ia dokter dan bukan model?” Tanya Sam pada Zlo berbisik. Zlo tidak menanggapinya dan ikut bersama Kare yang sudah masuk ke dalam rumah itu. Mereka mencari tempat duduk namun yang tersedia hanya 4 kursi, karena Sam tidak mendapat tempat, dokter itu memberikan tempat duduknya untuk Sam dan ia duduk di meja.
“Oh, hai sebelumnya namaku Clara, aku teman sekolah Sitma di Bogola”
“Clara, ini Sam, Sitma, dan Zlo” Kare mengenalkan teman-temannya pada Clara.
Clara hanya mengangguk mencoba untuk mengingat nama mereka satu persatu.
“Lalu mana jasad yang harus ku autopsi?” Tidak jauh berbeda dengan Kare, Clara juga tipekal orang yang tidak menyukai bas abasi.
“Jasad yang akan kau periksa adalah jasad anak perempuan berusia 6 tahun korban dari penyiksaan. Di dalam tubuh anak itu diduga ada senjata kecil yang menancap jadi tolong temukan itu. Hasil autopsi akan kita gunakan untuk menangkap pelaku.” Kare menjelaskanmnya secara singkat, Clara lagi-lagi hanya mengangguk.
“Baiklah, mungkin kedua teman priamu ini bisa membawa jasad itu sekarang, jika kalian butuh aku akan mengambil brankar”
Mereka menolak dan lebih memilih untuk mengangkatnya bersama. Setelah mengambil jasad Amara, mereka memasukkan jasad itu di ruang autopsi milik Clara. Ruangan itu jauh berbeda dengan ruangan lain yang terlihat berantakan dan tidak terawat. Ruang autopsi milik clara ternyata sangat lengkap dan modern, mereka seperti menemukan hidden gem.
“Aku membutuhkan waktu 8 jam untuk ini. Kalian bisa istirahat dulu” Clara berbicara sambil melihat keadaan tubuh bagian luar jasad.
“Kebetulan besok pagi kami harus pulang” Sitma mengingatkan yang lainnya. Waktunya sangat pas, ini belum terlalu malam dan autopsi sudah dimulai. Kemingkinan semua akan selesai sebelum pagi. Ini saatnya untuk mereka beristirahat dan tidur.