Darah Seorang Gadis

1177 Kata
Darah segar membanjir dari lubang perut ketika sebuah benda tajam menusuknya hingga ujung runcingnya menukik ke dalam. Kemudian, dicabut dengan sangat kuat membuat cairan merah itu memuncrat. "Aaarghhh…!" Teressa memegangi perutnya yang tembus, berusaha menahan cairan tubuhnya agar tidak banyak terkuras. Matanya pedih saat melihat pria di depannya itu tersenyum puas. "K..a..u…." "Kau pikir kau bisa lari dariku?!" Arjun tertawa sadis karena telah berhasil menumpahkan darah gadis itu. "Aku tidak akan membiarkanmu membongkar rahasia kami! Ayah dan ibuku sudah berjuang keras demi meloloskanku di universitas ini bersama pacarku, dan kau … dengan seenaknya kau akan menghancurkan segalanya? How dare you!" Plak!!! Arjun menggampar wajah Teressa menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih menggenggam pisau berlumur darah. "Bagus, Sayang!" Lydia datang bersama Aryo. Mereka tersenyum sadis melihat Teressa yang kesakitan tertusuk pisau. "Kau memang bisa diandalkan!" Lydia mengelus pipi Arjun sembari melirik ke arah Aryo–bermaksud menyindirnya. "Lydia benar. Hanya seorang ayah sepertiku, yang mampu memiliki keturunan sepertimu!" Aryo menepuk bahu Arjun, sedangkan matanya tertuju pada Lydia dengan ekspresi angkuh. "Benarkan putraku, Arjun?" Arjun menyudutkan senyumnya bangga. "Lihatlah betapa malangnya gadis ini!" Lydia beralih melihat Teresaa yang masih mencoba menghentikan pendarahannya. Dia menarik tangannya dengan paksa agar mendekat ke arahnya, kemudian beralih rambutnya. "Rasa sakit yang kau derita ini belum seberapa!" Lydia melempar tubuh Teressa hingga sampai di hadapan Aryo. Aryo tersenyum licik. "Kau benar, Lydia. Dia memang harus menerima hadiah lagi." Aryo meroyok pisau dari tangan Arjun dan menusukkan ke perut Teresaa lagi. Jlep! "Ahhhh!" Teressa melangkahkan satu kakinya mundur, menatap Aryo dengan sayu. Tangannya yang berlumur cairan merah kental itu memegang tangan Aryo yang masih menghujamkan pisau di perutnya. Aryo tersenyum beringas. Ia memutar-mutar ujung runcing benda tersebut di dalam tubuh Teressa, membuat gadis malang itu merasakan sakit yang tak terelakkan lagi. "P-please …!" Suara Teressa terdengar pilu. "Kau mau ambil bagian juga, Lydia?" tanya Aryo dengan sinis, yang dijawab senyum miring Lydia. Kemudian Aryo mencabut pisaunya dari perut Teresaa, lalu mendorong tubuh lemas itu ke arah Lydia. "Habisi dia, Sayang!" ujar Arjun pada Lydia. Begitu tubuh Teressa sampai di hadapan Lydia, Teressa melupakan rasa sakitnya dan malah mencekik leher Lydia kuat-kuat. Darah yang bersimbah di tangannya kini menodai leher mulus tersebut. "A-ah … le-pa-s." Lydia merasa sesak untuk berbicara. Aryo dan Arjun melotot dibuatnya. Tangan Lydia melambai-lambai, bermaksud meminta pisaunya. Aryo melempar pisau, dan dengan sigap Lydia menangkapnya. Saat gadis itu hendak menusukkan ke leher Teressa, Teressa dengan cepat menghentikan tangannya. Kemudian merebut pisau tersebut. Ia beralih posisi, kini tubuhnya berada di belakang Lydia, tangan kirinya memelintir kedua tangan Lydia ke belakang , sedangkan tangan kanannya memegangi pisau dan mengarahkan tepat pada leher Lydia. "Hei! Lepaskan dia!" teriak Arjun marah. Aryo ikut menggertak, "Jangan coba-coba bertindak nekat atau-" "-atau apa? Hah?!" teriak Teressa memotong ucapan Aryo. "Aku akan membunuh gadis ini!" lanjutnya mengancam ke arah mereka. Lydia dibuat ketakutan setengah mati. Mata gadis itu hanya melotot melirik pisau di bawah dagunya yang sebentar lagi akan mencicipi darah kerongkongannya. "Mundur kalian atau aku akan menggorok leher gadis ini!" ancam Teressa membuat bapak dan anak itu terkejut. Tak punya pilihan, Aryo dan Arjun menuruti perintah Teressa. Mereka melangkah mundur menjauhi Teressa dan Lydia. "Lepaskan aku!" pinta Lydia dengan suara beradu gigit. Teressa menyudutkan senyumnya. "Lari saja jika kau bisa! Tapi, saat kau lari, saat itu juga lehermu akan menabrak bidang runcing pisau ini!" gumamnya ketus membuat telinga Lydia terasa tersengat. "Kalian! Jangan coba-coba mendekat atau aku tidak akan segan-segan menghabisi gadis ini!" Teressa beralih berteriak pada Aryo dan Arjun. Lalu, ia mulai membawa gadis itu melangkah maju. Arjun diam-diam bergerak. Mendekati Teresaa dari belakang. Mencari celah agar bisa menyelamatkan pacarnya dari sandera Teressa. Pria itu juga memberi kode pada ayahnya untuk menyibukkan Teressa. "Dengar, Teressa. Baiklah… kami mengaku kalah. Kami tidak akan menyakitimu lagi dan kami janji akan membiarkanmu pergi. Tapi, tolong lepaskan Lydia," pinta Aryo berusaha membujuk Teressa. Teressa menyudutkan senyumnya. "Kau pikir aku bodoh? Aku sudah tahu orang-orang seperti apa kalian itu," kata Teressa tak ingin tertipu. "Kami akan menuruti semua perintahmu!" ujar Aryo lagi menyakinkan. "I-ya, Teressa. Tolong maafkan kami," kata Lydia bernada melas. "Kalau begitu, sekarang ambil ponselmu dan telepon polisi!" ucap Teressa membuat mereka semua melotot. "A-apa? Apa maksudmu?" tanya Aryo pura-pura tak mengerti. "Telepon polisi dan katakan semua kejahatanmu!" perintah Teressa. Gadis itu mendesaknya lagi saat melihat Aryo yang masih tampak bimbang. "Baiklah, kalau kau tidak mau biar aku habisi saja gadis ini!" ancamnya mendekatkan pisau itu lebih dekat dengan leher Lydia lagi. "Baiklah … baiklah!" setuju Aryo kemudian mulai merogoh ponsel di sakunya. "Sial!" gumamnya mengumpat kesal. Aryo kemudian mulai menelpon polisi. "Hei, sini!" teriak Teressa membuat Aryo melirik ke arahnya. "Biarkan aku yang berbicara! Arahkan ponselmu itu padaku!" perintahnya. Aryo tampak ragu, tapi begitu melihat wajah Lydia yang ketakutan ia menyetujuinya. Pria berjas hitam itu mulai mengarahkan ponselnya yang dalam panggilan pada Teressa. Teressa mulai berbicara. "Halo, Pak! Tolong saya, Pak. Ada orang yang ingin membunuh saya!" "Cerita yang bagus!" Arjun memegang tangan Teressa yang membawa pisau dari belakang. Entah bagaimana Teressa bisa kalah cepat dengan Arjun. Aryo menyelamatkan Lydia dan akhirnya berhasil terlepas dari sandera Teressa. Namun perebutan benda tajam terjadi antara Arjun dan Teressa. Arjun berhasil merebut pisaunya, tetapi dengan cepat Teressa menendang kaki Arjun dan juga tangannya. Pisau itu terlempar. Aryo hendak mengambilnya namun dengan cepat Teressa meraihnya terlebih dahulu. Lantas, Teresaa berlari dari sana meninggalkan mereka bertiga. Beberapa langkah kemudian, ia menabrak seseorang. Orang itu membawa ponsel dan berkata, "Polisinya sudah datang!" Teressa terkesiap menyadari ternyata itu adalah seorang wanita. Dan dia adalah Alina. Sekarang ia tahu, kalau yang Aryo telepon tadi bukanlah polisi, melainkan istrinya sendiri, Alina. "Sudah cukup main-mainnya, Sayang!" Alina merebut pisau dari tangan Teressa dan menendang tubuh gadis itu hingga terjatuh ke tanah. Kemudian, wanita itu menghampiri Teressa, menjambak bulu panjang kepalanya lantas menyeretnya. "Sekarang … ikut denganku!" ujarnya sembari menyeret Teressa menuju ke arah mereka bertiga. "Bagus, Ibu!" Arjun tersenyum licik melihat ibunya berhasil menangkap mangsanya kembali. Teressa berusaha melepaskan pegangan tangan Alina dari rambutnya. Namun itu tidaklah mudah. Kemudian ia berpikir untuk memukul wajah Alina dengan tas yang masih disongsongnya di lengannya sedari tadi. Teressa mengambil tasnya dan mengayunkannya pada wajah Alina. Memukulinya namun Alina masih tepat menyeretnya. Tak mau menyerah, lantas gadis itu meraih batu di sampingnya dan langsung melemparkan tepat mengenai sisi mata Alina. "Ahhh! Berengsek!" Alina melepaskan Teressa juga membanting pisaunya. Kini ia memegangi sisi matanya yang terasa sakit akibat terhantam batu. Teressa memanfaatkan hal itu untuk kabur. Ia berdiri dan berlari dari sana. Sedangkan Aryo, Arjun, dan Lydia mendekati Alina dengan panik. Guntur menggelegar di atas langit sana. Awan hitam mulai menggumpal, menciptakan mendung yang begitu gelap. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Bahkan angin juga mulai menyambar hebat. Teressa masih mencoba berlari. Memaksakan kakinya untuk tetap melangkah walau tenaganya tak cukup banyak. Tangannya itu terus memegangi perutnya yang bolong akibat tusukan pisau tadi. Darahnya terus membanjir hingga sampai di kakinya. "Aku harus selamat… kejahatan tidak bisa membunuhku. Aku adalah gadis yang kuat! Aku tidak bisa mati!" katanya di sela-sela angin yang menyambarnya. *** TO BE CONTINUED
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN