01 Januari 2018
"Cantik!"
"Aku sangat beruntung memiliki istri sebaik dan secantik dirimu," puji Dave pada Twinkle yang tengah berdandan di depan cermin dengan balutan gaun pengantin putih buatan desainer ternama yang terlihat sangat menawan.
Twinkle menatap ke arah cermin yang memantulkan bayangannya dan Dave. Ia terfokus pada suaminya yang terlihat rapi dengan setelan kemeja putih dan jas pengantin hitam membuatnya berkarisma.
"Kau juga tampan, sejak kapan kau memiliki wajah itu?" canda Twinkle.
Dave melangkah lebih dekat ke arah istrinya, tangannya memegang lembut pinggang Twinkle dari belakang, hingga mereka saling dekat satu sama lain. "Aku punya tiga ucapan spesial hari ini untukmu," bisik Dave lembut di telinga Twinkle.
"Apa?" Twinkle tersenyum.
"Pertama selamat ulang tahun, kedua selamat hari pernikahan, dan ketiga selamat tahun baru," seru Dave.
Twinkle mencium pipi Dave, lalu memeluknya erat. Ia merasa begitu beruntung memiliki suami romantis seperti Dave. Mata Twinkle tertuju pada jendela kamar yang terbuka, ia melihat sebuah pohon sakura yang tertanam indah di kebun. Bukan satu tapi dua pohon sekaligus yang berimpit sehingga tampak seperti satu pohon dua batang.
Twinkle bergerak ke arah jendela. "Dave apa itu pohonnya?" Telunjuknya menunjuk ke arah Pohon sakura yang terpenuhi bunga bermekaran.
Dave pun ikut melihat. "Iya. Apa kau ingin ke sana?"
Twinkle mengangguk semangat.
"Bukan sekarang tuan putri. Tapi nanti setelah pernikahan kita selesai, aku akan membawamu ke sana, kalau perlu akan kubuatkan rumah di bawah pohon itu!" seru Dave.
"Kau ada-ada saja." Twinkle menepuk lengan Dave gemas seraya tertawa kecil.
Di ruang utama, perayaan pengantin sekaligus acara tahun baru telah siap di gelar mewah. Dihadiri para pekerja kantor seluruh perusahaan Ardonio. Kerlap-kerlip lampu dan dekor bunga saling terpasang rapi. Dokter Arvind pun ikut andil dalam pesta pernikahan pasiennya itu. Sahid dan Mira juga telah datang, mereka memaparkan senyum pada semua tamu undangan.
"Kalian sudah datang!" sambut Vivek begitu melihat besannya datang ke rumahnya, Sahid dan Mira.
Dokter Arvind juga menghampiri mereka. "Vivek, apa kau tak mengucapkan selamat datang juga padaku?" ujarnya.
Vivek melihat ke arah teman lamanya itu lalu memeluknya. "Oh kau sudah datang, selamat datang kembali ke rumah ini. Sudah lama kau tak berkunjung kemari," kata Vivek.
"Kau beruntung memiliki putra seperti Dave, percayalah dia pria yang baik. Hatinya itu seperti malaikat!" seru Arvind.
"Aku bahkan telah menyesali semuanya, tapi Tuhan masih baik padaku, menyadarkan ku di saat waktunya," tutup Vivek.
"Di mana pengantinnya?" tanya Sahid pada Vivek.
"Kakek, kami akan panggil mereka berdua," sahut Aditya. Kemudian ia dan Alya berlari menaiki tangga menuju ke arah kamar kedua orang tuanya. Mereka membuka pintu perlahan.
"Ayah! Ibu! Apa kalian akan terus berbincang dan melupakan acara pernikahannya?" ledek Alya.
"Ayolah Ayah! Para tamu sudah menunggu kalian berdua," tambah Aditya.
Dave dan Twinkle tertawa kecil mendengar omelan kedua anaknya. Mereka pun segera turun bersama menuju pelaminan.
Pesta pernikahan telah digelar sempurna, berbagai adat dan tradisi telah dilalui. Kembang api saling bertaburan di luar rumah, ikut memeriahkan pernikahan mereka. Senyum mengembang di setiap bibir.
Aditya dan Alya mengucapkan selamat pada kedua orang tuanya yang menikah kedua kalinya. Dave dan Twinkle memeluknya erat seolah mereka tak akan bertemu lagi. Entah kenapa perasaan mereka menjadi bimbang seketika.
Dave dan Twinkle memeluk semua anggota keluarganya, dari Vivek, Sahid, Mira, dan kedua anaknya, Aditya dan Alya. Suasana keharmonisan penuh dramatis kerap mereka tunjukkan.
Doorrrr!!!
Terdengar suara seperti tembakan memecah suasana pesta. Bukan dari luar tapi dari dalam, dan bukan juga kembang api tapi memang suara pistol yang melepaskan pelurunya. Semua orang panik histeris. Tiba-tiba seorang pria dengan jas hitam dan kaca mata hitam berjalan ke arah Vivek lalu menodong pistol ke arahnya, membuat semua tamu teriak histeris.
"Arnold?!" Vivek tahu pasti siapa orang itu.
Dia adalah teman bisnis Vivek yang gagal mendapatkan tender. Dia iri dengan kejayaan Ardonio company. Dan mungkin akan balas dendam pada Ardonio.
Pria yang bernama Arnold itu memasang wajah emosi yang menggebu dengan terus menodongkan pistol ke arah Vivek.
"Selamat tahun baru Vivek! Dan ini tahun terakhirmu untuk melihat dunia!"
Pria itu hendak melepaskan peluru dari pistolnya, namun tiba-tiba Dave meninjunya hingga tembakan pistol terlontar ke atas membuat para tamu histeris. Pekikkan mereka saling memecah suasana pesta yang tadinya bahagia kini menjadi tegang seketika.
Dave dan Arnold berselisih, mereka saling memukul satu sama lain. Dave berusaha merebut pistol dari tangan Arnold tapi pria itu dengan kuat menahannya. Pria itu mendorong Dave ke atas meja kaca, hingga membuat meja bening itu pecah.
Tirr!! Bunyi meja kaca yang pecah mengagetkan semua orang.
Pecahan kaca-kaca kecil menyentuh kulit Dave, darah segar mulai mengalir dari sayatan kulitnya.
"Dave!!!!" Twinkle histeris.
Vivek memanggil petugas keamanannya, namun mereka tak juga menjawab. Sepertinya semua ini sudah direncanakan dengan matang oleh Arnold, sehingga para penjaganya ikut hilang entah ke mana. Ia segera menelepon polisi untuk segera datang ke kediaman Ardonio.
Dave berdiri, ia mengambil sebongkah besi lalu memukul keras ke arah Arnold. Pertarungan tegang sedang terjadi hebat di sini. Arnold menodongkan pistol ke arah Dave yang mencoba bergerak mendekatinya.
Pistol telah ditembakkan, namun tangan Arnold itu ditandu oleh kaki Dave yang kuat. Peluru melesat ke samping, kini mengenai jendela kaca. Retak sudah jendela itu hingga terbentuk terowongan kecil.
Dave meninju wajah pria itu berkali-kali, hingga darah dari mulutnya. Kaki Arnold menendang Dave, kini Dave terjatuh. Arnold mengambil pistolnya lagi dan menodongkannya tepat di kening Dave.
"Lihat putramu yang payah ini, Vivek! Katakan apa aku harus mengakhiri hidupnya sekarang?!" sinis Arnold.
"Aku mohon lepaskan putraku yang tak bersalah! Kau berurusan denganku, jadi lepaskan dia dan tembak saja aku," pinta Vivek.
Sahid dan Mira yang menyaksikannya ikut tegang. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa, takut jika pria berhati binatang itu melepaskan peluru dari pistolnya hingga mengenai Dave. Aditya dan Alya pun saling memeluk ketakutan melihat ayahnya ditodong pistol.
Brukk!!!
Tiba-tiba Twinkle memukul keras punggung Arnold dengan besi dari belakang, hingga membuat pistolnya terlontar. Twinkle membantu Dave berdiri.
Dave buru-buru mengambil pistolnya, namun Arnold lebih dulu meraihnya. Mereka kini saling bergulat lagi. Beberapa tonjokan telah lepas dari kepalan tangan kekar Dave. Arnold kini berwajah belang, penuh luka lebam akibat pukulan keras Dave.
Pistol masih di tangan Arnold. Jemarinya sudah siap melontarkan peluru dari corong tembaknya. Sedangkan Dave terus memukuli wajahnya, tanpa ampun.
Dave berusaha merebut pistol dari tangan pria itu, namun Arnold tak mau juga mengalah. Ia terus menggenggam senjata hitam itu. Tanpa disadari pistol yang mereka rebutkan itu mengarah pada Aditya dan Alya yang tengah berpelukan ketakutan. Jemari Arnold sudah siap menembakkan ke arahnya. Sedangkan Dave sibuk memukuli wajahnya.
Twinkle yang melihat arah pistol langsung berlari ke arah kedua anaknya itu. Dan ....
Doorrrr!!!!!
Peluru berhasil lepas terlontar dari lubang pistol. Seketika suasana hening. Dave berhenti melakukan pukulannya, ia beralih menatap ke arah Aditya dan Alya.
Dave tersenyum tipis melihat kedua anaknya itu masih selamat dan tak terluka sekalipun. Kemudian matanya beralih ke arah Twinkle, ia melihat senyuman mengambang dari bibir Twinkle. Namun, ketika matanya melirik ke arah tangan Twinkle yang terus memegangi perutnya, ia tersentak. Dari perut istrinya itu keluar cairan merah yang terus menyumbar. Twinkle terus tersenyum ke arah Dave, lalu roboh ke lantai.
"Twinkle....!!!"
Dave memekik histeris, jantungnya tersedat menyadari kalau Twinkle yang terkena tembakan itu. Sebelum Twinkle terjatuh ke tanah, ia lebih dulu menahan tubuhnya hingga ke pangkuannya.