Fely masih menikmati ciuman hangatnya, bibir seksi itu membangunkan harsyatnya sebagai wanita dewasa. Decapan demi decapan dan lumatan lembut dari fely, dia merasakan nikmatnya bibir lembut dan manis edwin yang memabukkan.
"Ya tuhan aku sudah gila bisa-bisanya aku tergoda akan bibir bocah ini," batin fely. Dia pun berhenti melumat bibir seksi itu karena pergerakan edwin, lalu dia bangkit melepaskan pangutan bibir mereka berdua.
Fely memperhatikan bocah laki-laki itu yang masih tidur, dia tidak habis pikir apa yang telah dia perbuat terhadap bocah itu beruntungnya dia bocah itu belum bangun entah apa yang terjadi jika dia kepergok sungguh memalukan.
"Ah terasa masih kurang, bibir itu memabukkan dan membuat candu," desis fely.
Fely beranjak ke bathroom, dia masih belum mencapai klimaks hanya merasakan bibir lembut dan manis milik edwin membangkitkan hasratnya ingin bercinta. Fely melenggok-lenggok meremas gunung kembar yang kenyal dan masih padat itu, dia mendesah meraba-raba dengan gerakan lembut dan menggoda pada bagian sensitifnya.
Fely tidak tau bahwa Edwin menikmati ciuman yang fely lakukan, dia sudah bangun saat fely menciumnya karena merasa ada sentuhan hangat di bibirnya. Dia dengan sengaja menggerakkan bibirnya seolah-olah berguman menggoda fely.
Saat mendengar pintu kamar mandi terkunci Edwin perlahan lahan membuka matanya, dia memandang pintu kamar mandi tempat fely berada. Dia meletakkan tangan di dadanya merasakan jantungnya derdetak kencang, edwin menyentuh bibirnya yang bengkak oleh fely tidak bisa dia pungkiri dia menikmati ciuman insten itu.
“Aaaaaaa, aku malu” edwin berguling guling di ranjangnya hampir saja dia jatuh ke lantai wajahnya memerah mengingat kejadian beberapa menit tadi.
“Bibir itu lembut dan manis membuat candu, rasanya aku belum puas, begini ya rasanya berciuman sangat nikmat” ucap edwin tersipu malu.
"Aaaahhh" desah fely dia sudah sampai puncak pelepasan tubuhnya terkulai lemas. Fely berendam di bathub cukup lama aroma bunga mawar menyeruak di kamar mandi itu begitu menyegarkan dan menenangkan.
“Aaah memalukan, tapi candu bibir itu seksi alami lembut dan manis,” guman fely wajahnya memerah malu, dia mengetuk dahinya bisa-bisanya dia masih membayangkan bibir bocah kecil itu.
“Sadar fely sadar dia masih bocah kamu p*****l” ucap fely mengusap wajahnya.
Edwin masih duduk memandang pintu kamar mandi dimana fely berada, sampai gang gang pintu kamar mandi itu bergerak dia cepat-cepat berbaring kembali ke ranjang.
Ceklek pintu kamar mandi terbuka, fely berjalan keluar dari kamar mandi menuju walk in closet menggunakan bathrobe. Langkah kakinya terhenti melihat Edwin yang masih tertidur pulas, pandangannya tertuju ke bibir seksi yang membengkak karena ulahnya dia tersipu malu wajahnya memerah.
“Bibir itu, semakin seksi saja” fely menggeleng kepalanya otaknya mulai berpantasi liar.
“Huh huhh huh untung ga ketahuan” jantungnya berdetak kencang. Edwin bangun lalu membersihkan tempat tidur saat dia menyusun bantal tiba tiba di kagetkan oleh suara fely.
“Kamu sudah bangun ed? tanya fely datang dari belakang menggunakan kaos lengan pendek berwarna hitam polos dipadu dengan celana pendek warna yang sama, begitu cocok dengan warna kulitnya yang putih bersih apa pun yang dia kenakan selalu terlihat cantik dan menarik. Wajahnya yang kelihatan lebih segar setelah mandi, kaki jenjang itu perlahan berjalan mendekati edwin yang sedang membersihkan kasur mereka berdua.
“Eh iya tan” edwin terlonjat kaget menoleh ke belakang.
“hayo kamu lagi mikirin apa sampai kaget gitu liat tante” tanya fely
“Emm ga ada kok tan, saya permisi mau mandi dulu tan” ucap edwin gugup, langsung berlari ke kamar mandi.
“hmm ada apa dengan bocah itu” ucap fely bingung melihat tingkah edwin.
Di kamar mandi napas edwin ngongosan dug dug dug jantungnya berdetak kencang, “Astaga
kenapa tante fely tiba-tiba muncul” edwin menepuk pelan pipinya yang memerah.
Setelah menetralkan perasaan gugupnya edwin bergegas mandi, dia melepaskan bajunya satu persatu hanya tersisa boxer. Dia mandi di bawah air shower, perlahan air mengalir membasahi tubuhnya. Untuk ukuran anak kecil seperti dia tubuhnya lumayan tinggi badannya bagus terawat. Di sela-sela mandi dia memegang bibirnya yang bengkak oleh fely, masih terngiang di benaknya kejadian tadi.
Di luar wanita cantik duduk di depan meja riasnya mengeringkan rambut menggunakan hair dryer, fely mengaktifkan teleponnya begitu banyak chat dan panggilan tak terjawab dari teman-temannya dan asisten pribadinya.
“Ah baru sehari aku tidak ada kabar sudah banyak yang nanya, nanti saja aku balas masih malas” ucap fely. Dia mencari kontak seseorang lalu menelpon tut tut tut tut telponnya bordering tanda terhubung.
Belum sempat fely berbicara langsung kena omel oleh seseorang di seberang sana, “Jovanka Felysia” teriak seorang wanita di seberang sana. Fely langsung menjauhkan telponnya karena teriakan kencang dari wanita itu.
“Kamu kemana saja hah, aku khawatir sama kamu, mana ga ada ngasih kabar, hei tubatu kukira kamu sudah bunuh diri gara-gara sidang perceraian mu. Oh tuhan syukurlah dia tidak apa-apa kalau dia mati bagaiman nasib inces” iya dia adalah alya safira asisten pribadi fely sekaligus sahabatnya.
“tau tidak jantung inces mau copot, gara-gara kamu tidak ada kabar, mana pekerjaan numpuk semua, belum lagi pertanyaan dari wartawan tentang kamu, aduh dari kemaren sampai hari ini kaya orang gila harus sembunyi-sembuyi menghindar dari kejaran wartawan”. cerocos alya mengeluarkan unek-uneknya.
“kenapa diam tubatu”tanya alya karena fely tidak menjawab.
“Sudah ngomelnya bu yang mana dulu yang aku jawab pertanyaan mu banyak bu, mana kamu nyerocos terus ga kasih aku kesempata ngomong” keluh fely.
“maaf aku salah tidak ngabarin kamu, maaf karena sudah membuatmu repot, tapi aku ingin menenangkan diri dulu. ucap fely menghembus napas berat tiba-tiba dadanya sesak.
“Al tolong beliin baju anak laki-laki yang berusia 10 tahun kira kira tingginya sekitaran 149 cm” ucap fely.
“Hei untuk siapa jangan bilang kamu culik anak orang” cecar alya.
“hei enak aja ngomong gitu jangan suuzon mulu, buat apa aku culik anak orang. Pokonya beliin aja jangan banyak tanya anterin ke villa aku, nanti aku jelasin semua, oh iya tolong bilangin bi ana sekalian belanja persedian makanan” perintah fely.
“Oke oke awas nanti kamu ga cerita, nanti aku suruh mang ali anterin ya, kayanya aku ga bisa kesana soalnya pekerjaan ku masih banyak” ucap alya.
“Oke makasih al kamu memang yang terbaik deh makin sayang, oh iya al aku pengen libur dulu tolong kamu handle semua ya” ucap fely
“beres bu bos, tenang aja nanti kalau sudah selesai aku nyusul ya, baik – baik di sana jangan melakukan sesuatu yang membahanyakan kamu, maaf aku tidak ada saat kamu butuh” sesal alya
“tidak ko aku ga mau ganggu kamu, aku disini baik-baik saja jangan khawatir” ucap fely
“iya iya, jaga diri baik-baik ya” ucap alya.
“oke sudah dulu ya aku mau bikin sarapan lapar, dah tubatu” ucap fely
“dah “ jawab alya panggilan berakhir.