Di dalam rumah
Edwin celingak celinguk mencari keberadaan fely, mulai dari kamar, kolam renang dan ruang tamu semua sudah di ceknya tapi tidak menemukan keberadaan fely. Hanya satu yang belum dia kunjungi yaitu taman . Edwin pun berjalan menuju halaman depan matanya memandang di sekitaran halaman itu, matanya berhenti kala melihat sosok wanita cantik duduk di kursi taman dekat pohon. Rambutnya yang di cepol tadi sudah terurai, terlihat rambut panjang bergelombang tertiup oleh angin. Fely begitu menikmati suasana pagi hari ini, dia memejamkan matanya ketika angin berhembus menerpa wajah cantiknya. Dia tersenyum bahagia rambutnya melambai-lambai tertiup angin, di tambah secercah cahara matahari yang menembus dedaunan menerpa wajahnya menambah kecantikannya bagai bidadari seolah seperti tak nyata.
Saking asiknya dia menikmati setiap nikmat yang diberikan sang pencipta, tidak menyadari sosok anak laki-laki yang memandangnya dengan kekaguman senyum lebar terlihat begitu jelas di bibir manisnya.
Tap tap tap suara langkah kaki edwin berjalan mendekati fely. “Ehem, edwin berdehem. Membuyarkan lamunan fely, membuka matanya perlahan dan menoleh ke sumber suara itu tadi.
“Kenapa ed”tanya fely
“Ga ada pa pa tan,” ucap edwin ikut duduk di samping fely.
“Suasananya nyaman ya tan, sejuk dan menyegarkan” ucap edwin memandang ke depan tanaman yang tertata rapi yang indah.
“Iya, sangat nyaman suasana di tengah hutan seperti ini sungguh sejuk dan menenangkan” fely menoleh menatap edwin yang mengangguk angguk.
“Ekhem, fely berdehem menetralkan debaran jantungnya sungguh canggung dia mengatakan ini, dia diam sebentar lalu melanjutkan ucapannya.
“Ed untuk tapi pagi jangan di masukkan ke hati dan jangan di ingat ya, anggap saja tidak ada terjadi apa-apa tadi pagi” ucap fely wajahnya merah menahan malu.
Edwin menoleh menatap fely, mencari sesuatu menelisik masuk menatap kedua bola mata indah itu, “Bagaiman jika edwin tidak ingin melupakkannya tan, malahan bibir ini sudah mulai menjadi candu ku” ucap edwin tangan yang terangkat ke atas dan jari-jari indah dan mungil itu mengusah bibi fely dengan lembut.
“Eh, fely kaget dengan ucapan edwin yang tiba-tiba seperti itu.
“Maaf ed, aku mohon jangan di ingat, anggap saja itu tidak terjadi sebagai angin lalu saja. Seharusnya kita tidak melakukan itu” ucap fely menetralkan perasaannya bersikap biasa.
“Tapi aku tidak bisa tan, itu adalah ciuman pertama ku tante yang sudah merenggutnya. Ucap edwin
“Aku tidak bisa melupakannya, karena aku sudah mulai mencintai mu tan biarkan ini menjadi kenangan yang terindah untuk ku” batin edwin.
“Sesuatu hal yang sudah terjadi tidak bisa kita lupakan tan, aku janji tidak akan mengatakan kepada orang lain. Ucap edwin lalu berdiri menunduk menghadap fely, cup satu kecupan mendarat di bibi merah ceri fely.
“Bibir ini sudah candu ku, ucap edwin lalu dia mencium kembali kali ini tidak dengan kecupan singkat berubah ke b*******h kecupan demi kecupan lumatan dan decapan lembut dari bibir mungil edwin menjelajar bibir seksi fely.
Entah dari mana fely juga menikmatinya dan mengikuti apa yang di lakukan edwin, merasa fely membalas edwin semakin memperdalam ciumannya. Edwin memegang tengkuk fely menahan memperdalam ciuman mereka berdua, tangan edwin tidak diam juga tangan mungil itu turun meremas d**a Fely. Suara decapan bibir mereka berdua beradu dan desahan fely karena edwin meremas bagian sensitifnya.
“Uummm mmm, aaaah ed” desah fely dia berhasil mendorong tubuh edwin kenapa dia begitu mudahnya terbawa suasana.
“Cukup ed aku takut tidak bisa mengontrol diri, baiklah terserah kamu tapi janji tidak akan membocorkan kepada orang lain” tegas fely dia sudah pasrah toh dia piker edwin tidak akan bertemu dengannya nanti lagi setelah ini.
“Oke janji, tapi jika aku menginginkannya jangan ada penolakan tan atau akan aku bongkar” ancam edwin dasar bocah nakal ini bisa saja dia licik seperti daddynya.
“Oke, sebernarnya fely tidak takut dengan ancaman bocah itu mana mungkin orang percaya kepadanya sedangkan dia hanya anak kecil. Tapi fely mengambil keuntungan dia bisa memuaskan nafsunya yang terkadang aneh.
“Yes, kamu tidak akan bisa lolos dari aku tan kamu hanya milikku tidak ada yang boleh mengambil milikku wanita ku” batin edwin tersenyum kemenangan dia sungguh mengkalim fely miliknya. Entah itu cinta atau sebuah obsesi hanya edwin dan tuhan saja yang tahu.
“Karena kamu sudah membuat tante seperti ini, kamu harus tanggung jawab bantu tante pelepasan” ucap fely tanpa rasa malu dasar dia sudah gila.
“Baik lah dengan senang hati tante, dimana” tanya edwin bersemangat
“Ke kamar” Edwin berjalan mengekori fely dari belakang menatap wanita dewasa dan cantik di depannya yang mempunyai tubuh cantik dan seksi.
Ceklek pintu kamar terbuka
Mereka berdua masuk ke kamar, edwin langsung menarik tangan fely dan mendorongnya ke ranjang. Fely terbaring melentang edwin langsung naik menindihi tubuh seksi dan ramping itu. Edwin mencium bibir seksi itu dengan rakus, fely pun menyambutnya decapan demi decapan dan lumatan saling bersahutan.
Fely terbaring lemas di ranjangnya dia sudah mencapai klimaks dengan bantuan edwin. Tangannya menjadi bantal edwin yang berbaring di sampingnya, mereka berdua sama-sama terdiam hanya keheningan yang terjadi di kamar.
“Ed siapa nama orang tua mu?” tanya fely
“Edward Frans Adam dan Clarisa Ariana Billa?” ucap edwin
“what jadi dia anak edward” pekik fely di dalam hati, siapa yang tidak mengenal dengan sepasang suami istri ratu dan rajanya bisnis yang mempunyai banyak perusahaan.
“gawat aku sudah menodai anak mereka, bagaimana ini?” tanya fely dalam hati.
“sepertinya kehidupan ku tidak akan tenang lagi nanti, masalah datang lagi” guman fely menggelengkan kepalanya.
“Ed tolong ambilkan ponsel tante”.
Edwin langsung bangkit mengambilkan ponsel untuk fely lalu memberinya, “Ini tan”.
“Makasih” ucap fely lalu menelpon asistennya.
Tut tut tut suara panggilan berdering
“Halo Al tolong hubungin Tuan Adam dan Nyonya Billa anaknya edwin bersama ku” perintah fely kepada alya.
“Whatt kamu tau tidak berita kehilangan anak semata wayang tuan adam menggemparkan dunia kamu menemukannya, bagaimana bisa dia bersama mu?, atau jangan-jangan baju yang kamu suruh beiin untuk anak laki-laki itu untuk edwin?” cerocos alya.
“Iya buruan jangan banyak tanya, kalau sudah kamu telpon suruh mereka jemput edwin di villa aku”
“oke oke nanti aku hubungin”
“ ingat jangan sampai ada yang tau tempat villa ku suruh mereka jangan bawa bodyguard dan jangan sampai ada yang tau” peringat fely
“oke oke beres”
“oke makasih al “ belum sempat alya menjawab sudah di matikan fely.
“Ed aku sudah menyuruh asisten ku untuk memberi tau kepada kedua orang tua mu mereka akan ke sini nanti menjemputmu” ucap fely memandang edwin yang duduk di samping ranjang yang sedang menatapnya.
“Ah kenapa kau tidak rela harus pulang dan berpisah dengan tante cantik” batin edwin wajahnya tiba-tiba sedih.
“Ed hei kamu kenapa?” fely menatap bingung melihat edwin yang hanya diam dan kelihatan sedih.
“Aku ah tidak apa apa tan” lirih edwin.
“ kamu mau ikut tante jalan-jalan ke kebun buah-buahan?”
“mau tan” edwin menjawab antusias mungkin ini akan menjadi hari terakhirnya bersama fely jadi dia ingin mengukir cerita bersama.
“Lets go ikut tante” ajak fely edwin mengekor dari belakang.
Fely mengambil tas ranselnya mengisi dengan air minum, makanan ringan dan beberapa bumbu, kecap dan cabe untuk di bawa dan piring kecil. Setelah memasukkan semuanya ke dalam tasnya fely dan edwin berjalan menuju kebun buah milik fely.
Mereka berdua tidak menggunakan sepeda listrik melainkan jalan kaki dengan menikmati suasana alam. Pohon-pohon besar dan rindang menutupi celah matahari yang memasuki ke dalam hutan mereka berdua berjalan dengan santai sambil mendengarkan music dari ponsel fely sesekali mereka berdua bernyanyi bersama.