#R – Menetap Dalam Sepi

1663 Kata
Setelah mengantarkan Alma ke rumahnya lebih dulu, Rifqo langsung bergegas pergi karena dia tidak ingin kedatangannya yang hanya mengantarkan Alma pulang di ketahui oleh Firman sehingga akan mengundang pertengkaran, selain itu Rifqo juga harus segera bergegas pergi untuk mencari Ulma. Selama perjalanan pulang dari rumah orang tua Alma, Rifqo melirik ke kiri kanan jalan berharap dia bisa menemukan Ulma, tapi hampir setengah jam berlalu sambil melajukan mobilnya dengan pelan, Rifqo tidak menemukan keberadaan Ulma sama sekali. Kemudian, Rifqo bergegas menuju ke rumah Risa, karena dia pikir saat itu Ulma memutuskan untuk pergi ke sana, karena yang Rifqo tahu perempuan itu sangat dekat dengan kakak iparnya. “Semoga kamu benar – benar ada di rumah Kak Risa, Ulma” gumam Rifqo, sambil langsung melajukan mobilnya menuju rumah kakak dan kakak iparnya. Lima belas menit, waktu yang Rifqo butuhkan untuk bisa sampai ke rumah kakak dan kakak iparnya. Saat tiba di rumah mereka, orang yang pertama menyambut kehadirannya adalah Hasan, keponakannya yang baru berusia lima tahun. Saat itu, dia terlihat sangat bahagia berlari dari dalam rumah menghampiri Rifqo yang baru saja turun dari dalam mobil. “Om Rifqo, Om Rifqo …” panggilnya, sambil merentangkan tangan memberikan isyarat jika saat itu dia ingin digendong oleh Rifqo. Dengan senang hati Rifqo langsung membawa tubuh anak itu ke dalam gendongannya. Kemudian, dia langsung melangkahkan kakinya memasuki rumah, dan saat itu sepertinya Angga sedang berada di rumah, terlihat dari mobilnya yang masih terparkir bersih di garasi serta keadaan rumah yang penuh dengan mainan, karena hanya ketika bermain dengan Angga atau Rifqolah Hasan selalu bermain hingga mengeluarkan seluruh mainannya. “Ayah… ayah… Om Rifqo datang” ujar Hasan, dengan suara kecilnya yang terdengar melengking ketika dia masih berada dalam gendongan Rifqo. Melihat tingkat keponakannya, Rifqo hanya bisa tersenyum dan mendaratkan satu buah kecupan di pipi keponakannya karena merasa gemas. Setelah itu, dari arah ruangan yang berbeda, Angga dan Risa datang menghampiri Rifqo. “Mana Ulma ? enggak ikut ?” tanya Risa, berhasil membuat Rifqo sejenak terdiam di tempat selama beberapa saat sambil menatap Risa dengan tatapan yang sulit untuk di definisikan. “Loh, jadi dia gak ke sini juga, terus dia kemana dong kalau gak ada di sini” gumam Rifqo, yang masih berdiri mematung. Pernyataan Rifqo berhasil membuat Risa dan Angga sama – sama mengerutkan dahinya karena bingung. Karena, mereka memang belum mengetahui kabar kepergian Ulma dari rumah, sehingga mereka pasti bingung melihat Rifqo yang datang seperti ingin mencari Ulma di rumah mereka. “Hasan, boleh pergi main dulu di kamar sebentar sayang, ada hal penting yang ingin Bunda dan Ayah bicarakan dengan Om Rifqo” ujar Risa, kepada Hasan yang masih berada dalam gendongan Rifqo. Tanpa menolak, tanpa membantah, dan tanpa bertanya Hasan menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi menuju kamarnya setelah Rifqo menurunkan dia dari pangkuannya. Setelah Hasan benar – benar pergi, Rifqo menjatuhkan tubuhnya diatas sofa dengan helaan nafas berat yang keluar dari mulutnya, karena ketidak adaan Ulma di rumah kakaknya membuat laki – laki itu harus kembali berpikir dimana dia bisa menemukan Ulma, dan kemana di harus bergerak untuk mencarinya. “Ulma lagi sakit, kita berantem, dan dia pergi dari rumah” ujar Rifqo, tanpa menatap kearah kakak dan kakak iparnya karena dia tahu saat itu mereka berdua sedang menunggu penjelasannya. “Akhir – akhir ini pernikahan ku bersama Ulma memang sering terjadi pertengkaran, banyak hal yang menjadi pemicunya terutama karena sikap Ulma yang tidak sesuai dengan kenyataan yang selama ini kita lihat” lanjut Rifqo, sambil menatap kakak dan kakak iparnya. “Saat tadi pagi dia pergi, aku pikir dia akan lari ke sini karena Teh Risa sama dia deket banget, tapi ternyata enggak, tapi kalau dia tidak ada di sini kemana dia lari jika di rumah orang tuanya jelas dia tidak ada” lanjut Rifqo, sambil setengah berpikir. “Istri kamu pergi tapi kamu masih bisa setenang ini” ujar Angga, sambil menatap adiknya dengan tatapan datar. “Meskipun selama ini aku hanya diam, tapi dari sikap yang ditunjukan Ulma, dari perilaku yang terlihat, dari tutur kata dia berbicara aku yakin dia adalah perempuan baik – baik yang berhati lembut” ujar Angga, tanpa mengalihkan sedikitpun tatapan matanya dari Rifqo. “Jangan terbutakan oleh cinta, jika saat ini cinta yang kamu kejar tapi ketulusan yang kamu sia – siakan, maka suatu hari kamu akan mendapatkan penyesalan yang luar biasa” lanjut Angga, dan berhasil membuat Rifqo seketika langsung menoleh kearah Angga. Dalam sejenak, terjadi keheningan diantara mereka. Tidak tahu apa yang saat itu Rifqo pikirkan, tapi yang pasti saat itu Rifqo masih dalam keadaan dimana dia seakan terus menerus menekan dirinya untuk yakin bahwa cinta yang dia miliki untuk Alma adalah cinta tulus yang tidak tergantikan, jadi hidup bersama Ulma tidak akan pernah menjadi kebahagiaan untuknya. “Alma, dia mungkin cinta pertama kamu, dia juga gadis yang baik, dia cantik, dan pintar” ujar Risa, sambil menatap Rifqo. “Tapi, kamu harus ingat kalau sekarang yang sudah menjadi istri mu adalah Ulma, percayalah dia juga gadis yang tidak kalah cantik, dia baik, penuh kasih dan keibuan, kamu tidak salah menikah dengan perempuan seperti dia, jadi saran aku jangan sia – siakan dia hanya karena sebuah cinta yang tidak halal, lebih baik berusaha perbaiki hubungan kalian dan balajar cintai istri mu sebelum kata terlambat itu datang dan memenjara kamu dalam penyesalan” lanjut Risa, dan saat itu Rifqo masih tampak terdiam di tempatnya. “Tanggung jawablah terhadap istri mu, cintai, sayangi, dan kasihi dia, karena nanti dihadapan sang pencipta dia yang akan memberikan kesaksian bukan perempuan lain” ujar Angga, sambil menepuk pundak adiknya. Setelah itu, Rifqo langsung bangkit dan menyalami tangan kedua kakaknya tanpa sepatahkatapun yang keluar dari mulutnya. Melihat kepergian Rifqo yang mereka pikir untuk mencari keberadaan Ulma, mereka hanya bisa berdoa agar Rifqo dan Ulma bisa kembali bersama dan rukun dalam pernikahannya. *** Ulma terbangun dalam kepalanya yang sudah cukup jauh lebih baik setelah mendapatkan kiriman obat dan makanan dari rekan kerjanya, setelah meminum obat dan mengistirahatkan tubuhnya semalam, kepalanya tidak terlalu pusing, tubuhnya juga terasa jauh lebih bugar. Sehingga, pagi itu dia memutuskan untuk mulai mengajar kembali, dan karena saat itu Ulma tidak membawa baju ganti, jadi dia menggunakan pakaian yang kemarin tetapi dia setrika ulang menggunakan setrika yang memang sudah tersedia sebagai salah satu fasilitas rumah dinas. “Ibu Ulma, kenapa sudah masuk bekerja, padahal tunggu saja dulu sampai keadaannya jauh lebih baik, untuk anak – anak kelas Ibu bisa saya dan guru – guru yang lain bergantian untuk mengisi kelas” ujar Ibu Nayra, seorang guru berusia paruh baya yang selalu bersikap sangat baik kepada Ulma, bahkan tidak jarang dia memperlakukan Ulma layaknya putri dia sendiri. Sejenak Ulma tersenyum, tangannya mengelus lengan Ibu Nayra. Karena kebaikan perempuan itu sungguh membuat Ulma merasa tidak tahu harus dengan cara apa membalasnya. Kemarin sore ketika dia sedang dalam keadaan sakit kepala yang tidak tertahankan, tubuhnya lemas dan tidak bisa melakukan apapun, dia yang datang membawa makanan dan obat – obatan mewakili rekan kerja yang lain. “Ibu Nayra, terima kasih atas segala kebaikan Ibu selama saya bekerja di sini, saya sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan Ibu” ujar Ulma, sambil tersenyum dengan matanya yang terlihat berkaca – kaca. “Sama – sama, lagi pula kamu sudah Ibu anggap seperti anak sendiri, setiap melihat kamu Ibu seperti sedang melihat putri Ibu sendiri” jawabnya, sambil tersenyum hangat membuat senyuman terbit semakin lebar dari bibir pucat Ulma. Ulma memang sangat bersyukur karena takdir memberikan dia kesempatan untuk bisa bekerja dan menjadi tenaga kerja di taman kanak – kanak itu, karena di tempat itulah Ulma seperti menemukan keluarga barunya. Sebagai guru yang paling muda diantara yang lain Ulma merasa di sayangi oleh mereka, setidaknya dengan keberadaan mereka Ulma semakin yakin bahwa tuhan itu memang maha kuasa dan maha adil. Ketika dia dihadapkan dengan keluarga yang tidak pernah menerimanya dengan baik, tapi di tempat bekerja dia begitu di sayang dan dicintai. “Ibu Ulma….” teriakan seorang anak kecil yang memanggil nama Ulma berhasil membuat perhatian Ulma dan Ibu Nayra teralih. Bibir Ulma melengkungkan senyum lebar saat dia melihat sosok Hasan yang sudah cukup lama tidak dia temui. Perempuan itu, langsung berjongkok untuk menyambut pelukan Hasan yang sudah berlari sambil merentangkan tangannya. “Ibu Ulma kemana aja, Hasan tiap hari nyariin tapi kata Bunda belum masuk kerja karena sakit yang waktu itu belum sembuh” ujarnya, dengan ekspresi yang terlihat menujukan keseriusan. “Sekarang punggung Ibu udah sembuhkan ? Ibu udah enggak sakit lagikan ?” tanyanya, sambil menatap Risa tepat dibagian matanya. Ulma menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, bibirnya menyunggingkan senyuman saat dia merasakan hatinya tiba – tiba menghangat setelah pertemuannya bersama Hasan. Terakhir kali mereka bertemu mungkin beberapa minggu lalu saat anak itu berkunjung ke rumah neneknya dan Ulma masih tinggal di sana bersama Rifqo, dan Ulma merasa senang karena sekarang mereka bertemu kembali. “Hasan, sudah ya sayang Ibu Ulmanya jangan ditanyain terus, lebih baik sekarang Hasan ke kelas, persiapkan alat untuk menggambarnya, bukannya Hasan bilang hari ini jadwalnya kelas menggambar” ujar Risa, yang saat itu sudah berjongkok menyamakan posisinya dengan Hasan. Hasan menganggukkan kepalanya. “Hasan ke kelas duluan ya, nanti kita bertemu di dalam kelas, dan nanti kita berbicara lagi, Hasan masih kangen sama Ibu soalnya” celotes ria Hasan berhasil membuat Ibu Nayra, Risa, termasuk Ulma terkekeh, dan saat itu Ulma hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Setelah kepergian Hasan dan hanya tersisa Ulma bersama Risa, tidak ada percakapan yang terjadi diantara keduanya, tapi secara tiba – tiba Risa menarik Ulma ke dalam dekapannya. Tiba – tiba dia juga tidak mampu untuk menahan tangisnya, Risa merasa sangat – sangat kasihan kepada Ulma, karena di usianya yang masih cukup muda dia sudah menerima banyak ke sakitan dan luka dari orang – orang yang di cintainya. “Aku enggak tahu apa yang terjadi antara kamu sama Rifqo, tapi aku percaya sama kamu dan akan selalu menjadi bagian pendukung kamu, jangan lelah dan jangan menyerah, pasti akan ada cahaya setelah gelapnya sebuah perjalanan panjang” ujar Risa, kemudian merenggangkan pelukan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN