#R – Cerita yang Masih Berliku

1865 Kata
Ada banyak hal yang Ulma sembunyikan dan berusaha dia simpan rapat – rapat sendirian hanya karena sebuah alasan sederhana yaitu takut membebani orang lain, karena sejak kecil Ulma sudah terbiasa menanggung sekit, sedih, dan lukanya sendirian tanpa pernah dia bagi dengan siapapun. Namun, Ulma tidak pernah tahu apa yang takdir rencanakan ketika keluarga Rifqo bisa tiba – tiba begitu akrab bahkan menerima kehadiran dirinya dengan sangat baik sebaik guru sekolah taman kanak – kanak Hasan, sekaligus teman baik Risa meskipun yang memperkenalkan Ulma adalah Rifqo. Tadi pagi, setelah selesai meminum obat, dan Risa pamit tanpa sengaja Ulma ketiduran. Namun, tidak tahu setelah berapa lama dia tidur, Ulma merasakan sebuah usapan lembut yang mengenai pipinya, hal itu berhasil membuat mata Ulma secara perlahan mulai terbuka. Senyuman manis yang meneduhkan adalah hal pertama yang Ulma lihat dari sosok Lina yang tidak lain ibu kandung Rifqo. “Maaf Mamah bangunin kamu sayang, tapi ini udah hampir Dzuhur, kamu harus bangun buat shalat dan minum obat” ujarnya, tanpa menghilangkan senyuman yang terlukis dari wajahnya. Sejanak Ulma tersenyum dengan sisa kantuk yang masih dia rasakan, kemudian dia menganggukkan kepala dan menyalami tangan perempuan yang selalu memperlakukan dirinya dengan sangat baik itu. “Kapan Tante datang ? maaf ya tadi habis Kak Risa pamit aku malah ketiduran” ujar Ulma, sambil tersenyum merasa tidak enak. “Enggak papa sayang, kamu memang butuh banyak istirahat” jawab Lina, sambil membelai kepala Ulma penuh kasih sayang. “Risa bilang kamu menolak pengobatan yang mau Rifqo kasih sama kamu, kamu lebih memilih berobat jalan, kenapa ? itu akan jauh lebih lama pengobatannya sayang” lanjut Lina, sambil menatap Ulma dengan sorot kelembutan yang selalu terpancar dari matanya. Sejenak Ulma terdiam sambil menatap langit – langit ruang perawatannya, kemudian dia menatap kearah Lina dengan senyuman yang terlukis dari wajahnya. “Aku gak mau merepotkan Rifqo dan keluarganya lebih banyak lagi” ujar Ulma, sambil tersenyum. Mendengar jawaban Ulma, Lina terdiam menatap wajah gadis itu. Meskipun tidak banyak tahu, tapi mendengar cerita alasan kenapa Ulma bisa masuk rumah sakit sudah cukup membuat Lina yakin jika selama ini Ulma menjalani perjalanan hidup yang tidak mudah. “Sore ini, kamu diizinkan untuk pulang, tapi Mamah tidak mengizinkan kamu langsung pulang ke rumah, Mamah mau kamu tinggal di rumah kami sampai kamu benar – benar pulih” ujar Lina, sambil menggenggam jemari Ulma dan tatapan matanya yang terlihat menatap lurus pada mata Ulma. “Jangan menolak sayang, biarkan Mamah merasa tenang dengan melihat perkembangan kesehatan mu setiap hari, tinggalah di rumah kami” lanjut Lina, ketika dia melihat Ulma sudah hendak bicara dan dia sudah bisa menebak apa yang akan gadis itu katakan. Mendengar apa yang Lina katakan, tidak tahu kepana tiba – tiba Ulma merasa matanya terasa memanas hingga air mata tidak mampu dia tahan lagi untuk keluar, tangannya langsung terbuka meminta perempuan berusia setengah baya itu untuk memeluknya. “Terima kasih Tante sudah sangat baik sama aku, terima kasih atas segala yang sudah Tante berikan sama aku, aku enggak tahu harus dengan cara apa membalas semua kebaikan Tante dan seluruh keluarga Tante” ujar Ulma, dalam pelukan Lina. “Kamu itu putri kami, sudah sepantasnya orang tua menjaga putrinya dari hal berbahaya, jadi mulai sekarang panggil kami Mamah dan Bapak, jangan ngeyel terus sayang” ujar Lina, sambil mencubit hidung Ulma ketika dia merenggangkan pelukan mereka. Baik Ulma maupun Lina keduanya sama – sama terkekeh, kemudian mereka kembali berpelukan layaknya seorang ibu dan anak yang terlihat begitu rukun. “Tuhan, jika saja aku diberikan kesempatan untuk merasakan indahnya kehangatan keluarga yang ku temukan dari keluarga Rifqo walau itu hanya dalam waktu singkat, mungkin aku akan mengenangnya seumur hidup sebagai memon paling membahagiakan dalam hidup ku” batin Ulma, dengan air mata yang sudah kembali menetes dari pelupuk matanya. Nyatanya, selama dia hidup, Ulma hanya punya kenangan menyakitkan yang setiap detik selalu berhasil membuatnya merasa ketakutan. Setiap kali dia mengenang hanya rasa sakit yang saat itu hadir menyapanya, karena kenangan – kenangan yang muncul dalam benaknya hanya kenangan pedih dan menyakitkan layaknya sebuah mimpi buruk yang Ulma harap akan berlalu dari kehidupannya. *** Rifqo datang dengan wajahnya yang terlihat murung, melihat kemunculan anaknya Mamah Lina tentu saja langsung menyapanya, tapi saat itu yang Rifqo lakukan hanya tersenyum, mencium tangan ibunya kemudian duduk. “Siapa ? siapa laki – laki yang dipersiapkan ayah mu untuk di jodohkan dengan Alma ? kenapa ayah mu sangat ingin menjodohkan dia dengan kakak mu yang jelas – jelas sudah punya aku sebagai pasangannya ? kenapa tidak kamu saja yang di jodohkan dengan dia ?” tanya Rifqo, sambil mendongak menatap kearah Ulma yang masih berbaring diatas ranjangnya sementara Rifqo sedang duduk di sofa rumah sakit. “Mas Abyan, dia anak seorang pengusaha sukses, yang aku tahu karena kecerdasannya dia sudah dipercaya ayahnya untuk memimpin perusahaan sejak masih duduk di bangku perkuliahan, tidak hanya itu dia juga mempunyai bisnis pribadi di luar bisnis keluarganya yaitu design interior dan berlian” ujar Ulma, menjelaskan kepada Rifqo. “Kenapa Papah sangat ingin menjodohkannya dengan Kak Alma ? karena Papah sangat mencintai Kak Alma, karena hal itu dengan semua harta dan kemampuan yang Mas Abyan punya Papah menganggap bahwa Mas Abyan akan bisa membahagiakan Kak Alma, sementara aku bukan siapa – siapa yang kebahagiaannya enggak harus dipikirkan sampai sejauh itu” ujar Ulma, sambil tersenyum kearah Rifqo, tapi di balik senyum itu lagi – lagi ada luka yang dia sembunyikan. “Lagi pula, aku tidak pantas di jodohkan dengan pria seperti Mas Abyan, dia dengan segala kelebihannya dan aku dengan segala kekurangannya tentu saja sangat tidak sepadan” lanjut Ulma, tanpa menghilangkan senyuman dari bibirnya. “Lalu, kamu anggap Alma cocok dengan Abyan dan tidak cocok bersanding dengan ku itu maksud mu ?” tanya Rifqo, dengan suaranya yang terdengar tenang tapi jelas dalam suaranya terdengar ada kemarahan yang sedang coba dia tahan. “Aku mencintai Alma sejak pertemuan pertama kami di kampus, aku selalu berusaha menjadi yang terbaik dengan harapan suatu hari bisa di terima baik juga, tapi nyatanya aku kembali menerima penolakan dari ayah mu karena aku bukan orang kaya” lanjut Rifqo, sambil tersenyum kecut diakhir kalimatnya. “Sekarang, dia sudah benar – benar akan di jodohkan dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tidak bisakah kamu katakan pada ayah mu kalau kamu saja yang di jodohkan dengan Abyan dan biarkan Alma hidup bahagia dengan ku ?” tanya Rifqo, sambil bangkit dari posisi duduknya dan berjalan mendekati Ulma. Melalui sorot matanya, Ulma bisa melihat ada keputusasaan yang begitu besar terpancar dari mata Rifqo, dia yakin laki – laki itu sedang merasakan patah hati yang sering kali Ulma rasakan juga, dan melihat hal itu membuat Ulma benar – benar merasa tidak tega. “Kamu mau aku melakukan itu ?” tanya Ulma, sambil menatap Rifqo tepat di bagian matanya, dan mendapat pertanyaan itu Rifqo menganggukkan kepalanya. Melihat dan mendengar apa yang dibicarakan putra bungsunya bersama Ulma, Lina langsung berjalan menghampiri Rifqo, mengelus punggungnya hingga membuat perhatian laki – laki itu berfokus padanya. “Apa yang kamu katakan, kenapa kamu meminta Ulma melakukan hal seperti itu” ujar Mamah Lina, dengan penuh kelembutan tapi syarat akan ketidaksetujuan dengan keinginan putra bungsunya itu. “Enggak papa Tante, siapa tahu itu berhasil, jika memang Papah mengizinkan aku ikhlas menggantikan Kak Alma, tidak papa” ujar Ulma, lagi – lagi dengan senyuman yang terlukis dari bibirnya. Saat itu, Ulma menggigit bibirnya sendiri, berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh, karena kenyataan dia mencintai Rifqo tapi laki – laki itu mencintai Alma selalu membuat Ulma sadar bahwa dia tidak akan pernah bisa bersama Rifqo. Namun, mendengar secara langsung Rifqo meminta Ulma menggantikan Alma untuk menikah bersama laki – laki pilihan ayahnya agar dia bisa menikah bersama Alma berhasil membuat hati Ulma sedikit tercubit. “Tapi aku enggak bawa hp, kamu punya nomor Papahkan, boleh aku telepon Papah dari handphone kamu ?” tanya Ulma, sambil menatap kearah Rifqo lagi. Dengan cepat Rifqo langsung menyodorkan ponselnya, melihat hal itu Ulma hanya bisa tersenyum. Kemudian, dia langsung mencoba menghubungi nomor ayahnya, setelah mencoba tiga kali barulah panggilannya diangkat. “Hallo …” “Hallo…” “Ini siapa ? jangan menghubungi ku jika hanya iseng saja !” Ulma, terdiam mendengar suara ayahnya di sebrang telepon, nyatanya seakan ada kerinduan yang terbayar ketika dia mendengar suara ayahnya. Jika saja panggilan tidak akan di akhir jika dia terus diam, Ulma akan memilih diam agar bisa mendengar suara ayahnya bicara tenang kepadanya. Karen, ketika dia bersuara ayahnya akan kembali mengeluarkan nada marahnya. “Papah …” panggil Ulma dengan suara yang terdengar pelan tapi masih cukup terdengar, lembut, dan syarat akan kerinduan. “Aku rindu” lanjut batin Ulma, bersamaan dengan satu tetes air mata yang lolos dari pelupuk matanya. “Ada sesuatu yang harus aku bicarakan” lanjut Ulma, dan di sebrang telepon ayahnya masih memilih diam. “Aku dengar Kak Alma akan di pertemukan dengan calon jodohnya besok, tidak bisakah Papah menghentikan hal itu, atau Papah gantikan saja Kak Alma dengan ku, biarkan Kak Alma menikah dengan laki – laki pilihannya yang dia cintai, dan biarkan aku yang menggantikan posisi Kak Alma Papah” ujar Ulma, tapi saat itu ayahnya masih diam. “Kasihan Kak Alma, dia sering cerita tentang keinginan besarnya menikah dengan kekasihnya, dan keluhan tentang calon suami pilihan Papah, jadi …” “DIAM SIALAN !” bentakan Firman, berhasil membuat tubuh Ulma sempat terhenyak kaget dan terdiam seketika. “Calon yang ku pilih terlalu sempurna untuk anak pembawa sial dan cacat seperti mu, kau tidak pantas menikah dengan orang seperti dia” lanjut Firman, dengan suaranya yang terdengar pelan tapi penuh penekanan. “Cukup lakukan apa yang aku perintahkan kemudian JANGAN IKUT CAMPUR !!!” teriakan Firman diakhir kalimatnya berhasil membuat Ulma kembali terhenyak kaget. Setelah itu, panggilanpun diakhiri secara sepihak oleh Firman, dan saat itu Ulma masih tetap diam dalam posisi menelpon meresapi sensasi keget sekaligus sakit yang bahkan dia rasakan hanya dari kata – kata yang terucap dari mulut ayahnya. “Papah” ujar Ulma, sambil menghela nafas panjang terlebih dahulu kemudian menoleh kearah Rifqo dan Lina yang sedang berdiri di samping ranjangnya. “Enggak bisa mengubah keputusannya, karena dia sudah menyiapkan jodoh untuk masing – masing anaknya, dan Mas Abyan benar – benar harus di jodohkan dengan Kak Alma” jelas Ulma, berhasil membuat Rifqo semakin terlihat lesu. “Qo, ketika kamu mencintai Kak Alma dan kamu sudah menyerahkan seluruh cinta kamu sama dia, perjuangkanlah sampai semua tidak dapat diperjuangkan lagi, lebih baik kamu terluka setelah berjuang sampai berdarah – darah di bandingkan kamu terluka karena tidak pernah memulai perjuangan” ujar Ulma, sambil berusaha memperlihatkan senyuman tulusnya. “Sampai hari pernikahan mereka terjadi, kamu masih punya cukup banyak waktu untuk memperjuangkan kebersamaan kalian, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian” ujar Ulma, tanpa menghilangkan garis senyuman dari bibirnya. Terluka tanpa memulai perjuangan, itulah Ulma. Dia memilih untuk patah hati tanpa mau mencoba berjuang mendapatkan hati Rifqo. Semua itu Ulma lakukan karena dia tidak ingin mengecewakan perasaan kakaknya, selain itu Ulma sering merasa bahwa dia hidup tidak pantas untuk di cintai oleh siapapun termasuk dirinya sendiri, karena hadirnya di dunia hanya beban dan sumber kesialan bagi orang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN