Setelah pembicaraan nya dengan Amel ditelpon berakhir, Tiwi pun merebahkan tubuhnya ke kasur dan berniat untuk beristirahat. namun baru saja ingin memejamkan matanya handphonenya kembali berbunyi. rupanya Darwin yang menelpon dirinya segera mengangkat teleponnya.
"Halo,"tiwi lebih dahulu bicara.
"Kau belum tidur?"tanya Darwin.
"Belum,"ucap Tiwi singkat.
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"tanya Darwin khawatir dan cemas, takut jika Ibunya sudah mengganggu Tiwi.
"Ah tidak ada,"ucap Tiwi lagi.
"Hei ada apa Tiwi? ceritalah padaku, jika kau tertutup aku tak bisa membantumu. Apa seseorang datang kerumahmu? Apa itu orang suruhan ibuku? iya?Apa yang dikatakannya?"tanya Darwin.
"Em tak ada. orang itu tak mengucapkan Apapun. kau jangan khawatir aku bisa mengatasinya. Apakah menginginkan kita berpisah sesuai pembicaraan pria itu? "tanya Tiwi penuh selidik.
"Tentu saja tidak. kau bicara apa? aku baru saja menembakmu dan bicara cinta siang tadi kepadamu kenapa malah kau berpikir aku akan berpisah denganmu? Jangan ngawur. Aku akan melakukan apapun agar kita selalu dan bisa bersama. Hei apakah kau akan pergi besok malam? besok malam kan pesta untuk anak-anak kelas 10 Apakah kau akan datang?" tanya Darwin berharap akan pergi.
"ah sepertinya tidak. Amel baru saja bertanya hal yang sama kepada Ku. aku rasanya tidak bisa pergi ke sana. aku tak memiliki pakaian yang bisa kupakai ke sana. Aku juga tidak pernah ke acara pesta seperti itu sebelumnya. Kau bisa pergi. Pergilah bersama teman-teman yang lain. tidak apa. aku akan di rumah saja," tolak Tiwi halus.
"apa hanya karena pakaian kau tidak berani datang ke sana? Aku pun tak pernah pergi ke acara seperti itu sebelumnya. Jadi, kita bisa pergi bersama-sama. aku bisa menjemputmu bahkan aku bisa mengantarmu ke salon lebih dahulu sebelum kita pergi ke sekolah. bagaimana? dan di sana juga menyewakan pakaian. aku bisa memilihkan satu ntukmu," tawar Darwin kepada Tiwi.
"apa yang kau bicarakan Darwin? kau terlihat seperti sedang menawarkan uangmu kepadaku? Aku tidak suka seperti itu Darwin. Sungguh. Aku sama sekali tidak mengejar uang. jadi jangan seperti engkau Tengah memamerkan uangmu kepadaku, "ucap Tiwi sepertinya tersinggung.
" Astaga Maafkan aku. apa Aku berlebihan? Sungguh aku tidak berniat berbicara seperti itu. maksudku supaya kau mau pergi ke pesta bersamaku hanya itu saja. Jadi jika kau tidak ingin pergi Lebih baik aku pun tak usah pergi. Aku takut aku malah kesepian di sana Tak ada kau Tiwi, "ujar Darwin lagi.
"Aku hanya takut jika aku pergi bersamamu dan memakai uangmu untuk salon dan juga gaun malah membuat orang-orang berpikir aku benar-benar mengejar uangmu Darwin. sungguh aku menerima Cintamu Bukan karena uangmu tetapi karena perhatian dan juga kebaikanmu Darwin. Aku hanya takut ibumu makin tak menyukaiku. kita hanya berpacaran Baru beberapa menit tetapi Ibunya sudah tidak menyukaiku. Aku hanya takut ibu mu makin menantang hubungan kita nantinya," ucap Tiwi khawatir.
"tak usah kau cemaskan Ibuku Tiwi. dia pun baru saja pergi ke luar negeri untuk mengurus bisnisnya. Jadi kau tak perlu khawatir dia tidak akan mengganggu kita besok. berharap saja dia akan lama di luar negeri. Ibuku juga banyak hal yang harus diurusnya dan tidak akan terus-terusan mengganggu hubungan kita. kita masih sekolah dan berpacaran saja. tidak akan mengganggu hal yang lainnya toh kita belum akan menikah bukan? tapi jadi kau jangan terlalu khawatir dan berpikiran yang macam-macam seperti itu. kita hanya berpacaran saat SMA aja pun masih lama kita akan lulus dan menikah bukan? Jadi jangan terlalu mengkhawatirkan Ibuku Tiwi,"ucap Darwin mencoba menenangkan.
"Baiklah kalau begitu aku akan pergi ke pesta besok bersamamu. Tetapi aku mohon jangan biarkan mereka memakaikan makeup menor dan berlebih-lebihan. Aku tidak suka seperti itu,"ucap Tiwi, akhirnya setuju.
Keesokan harinya ketika pukul empat sore, mereka sudah bersiap untuk pergi ke salon dan memilih pakaian yang tepat. Tentu saja Tiwi tidak suka dijemput di rumahnya. takut takut jika ibu tirinya akan melihat dirinya pergi bersama Darwin dengan mengendarai mobil mereka. sejak kemarin saat ada orang suruhan Nyonya KeNia datang, ibu Tiwi makin menggebu gebu menyuruh Tiwi agar menerima saja uang dari Nyonya Kenia tersebut. tentu saja Tiei menolaknya dan beralasan dirinya sama sekali tidak ada hubungan apa-apa dengan anak dari Nyonya Kenia tersebut.
Sesampainya di salon yang telah dijanjikan oleh Darwin, Darwin telah menunggu sejak lama. segera saja Tiwi pun di cover oleh tim salon tersebut. sementara Darwin nampak Tengah sibuk memilihkan gaun yang pas untuk Tiwi.
bukan hanya make up tapi Tiwi juga diajak untuk berendam air hangat juga perawatan lainnya. Tubuh Tiwi benar benar dimanajakan. Hingga akhirnya semuanya telah siap. Pukul tujuh tepat Tiwi sudah nampak cantik dan.anggun, dengan balutan gaun berwarna pink peach pilihan Darwin.
Tiwi nampak melihat pantulan cermin yang memantulkan bayangan wajahnya yang nampak berbeda dan anggun dengan balutan gaun mewah tersebut.
"kau nampak sangat cantik sekali Tiwi," Puji Darwin tiba-tiba sudah berada di samping Tiwi.
"Benarkah? kau juga sangat tampan dengan setelan taksido ini Darwin," puji Tiwi melihat kekasihnya sudah tampan dengan setelan taksido hitam yang sangat pas di tubuh Darwin membuat penampilannya nampak sangat tampan.
"Ayo kita segera berangkat. Kita pasti bisa memenangkan kontes raja dan ratu malam ini,"ujar Darwin yakin.
"Hei jangan terlalu yakin, aku saja kesulitan menggunakan heels ini,"gerutu Tiwi.
"Hahaha, kau ini, Ya sudah pakai sendal berhak rendah saja,"ucap Darwin lalu membantu Tiwi mengganti sepatunya dengan hells berhak rendah.
"Sekarang bagaimana?"tanya Darwin.
"Lebih nyaman,"ucap Tiwi tersenyum lebar.
"Baguslah, Ayo berangkat. Kita berangkat zekarang. Kita sudah terlambat,"ucap Darwin melirik arlojinya.
Tiwipun mengangguk dan segera menuju mobil yang membawa mereka ke gedung sekolah yang sudah disulap menjadi ruang pesta malam ini.
Nampak seluruh sekolah sudah didekorasi sedemikian rupa. Lampu dibiarkan menyala dimana mana. Banyak aiswa hilir mudik dengan gaun pesta yang menawan. Tak lupa guru guru pun ikut serta. Memakai pakaian terbaik mereka. Begitu juga dengan kakak kelas sebelas dan dua belas, yang ikut memeriahkan dan mengatur acara pesta penyambutan malam ini. Semua benar benar sempurna.
"selamat datang untuk seluruh siswa siswi kelas sepuluh SMA Bangsa kami ucapkan. Saya sebagai perwakilan kakak kelas mengucapkan selamat untuk semuanya yang sudah berhasil bergabung di SMA Bangsa. Semoga kalian betah sekolah disini, jangan lupa belajar sungguh ya semuanya. Mengukir prestasi untuk mengharumkan nama baik sekolah dikancah nasional maupun Internasional, sekali lagi kakak selaku panitia acara mengucapkan selamat bergabung di SMA Bangsa. Maaf jika masih hal yang kurang dalam acara ini, karena kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk ini semua. Tak lupa saya ingatkan untuk adik adik yang berpasangan mau mendaftarkan diri menjadi raja dan ratu pesta silahkan mendaftar dengan panitia ya, disebelah kanan pintu masuk. Nanti kita akan seleksi juga, jadi stay toin di depan panggung ya yang ikutan, oke itu saja sambutan dari kakak, happy happy ya semuanya,"ucap salah satu pantia untuk membuka acara malam hari itu.
"Hei ayo kita ikutan mendaftar raja dan ratu pesta,"ajak Darwin menggandeng Tiwi.
"Ah tidak tidak, aku malu. Tak usahlah,"ucap Tiwi menolak.
"Mengapa malu? Ayolah belum tentu tahun depan kita bisa ikutan, ayolah Tiwi,"bujuk Darwin.
Tiwi menggeleng.
"Ayolah, tak perlu malu, kan ada aku. Oke? Ayolah untung jadi kenangan kita, meski tak menang, em?"bujuk Darwin lagi.
Tiwi pun diam dan menimbang nimbang.
"Em, baiklah,"ucap Tiwi akhirnya.
"Kau memang bisa membujukku ya,"canda Tiwi. Darwin tertawa. Mereka berdua pun mendaftar diri untuk ikut audisi raja dan ratu pesta dansa.
"Heii pasangan baru jadian ikutan juga,"sapa Amel yang menggandeng tangan Rio erat.
Darwin hanya tersenyum.
"Dan kalian sendiri? Hei hei, apa ini? mengapa gandeng gandengan? Hay Riio, kau diam diam menghanyutkan ya? Tak ku sangka kau mengincar Amel,"goda Darwin menonjok pelan bahu Riio, membuat Rio meringis pelan dalam mode bercanda.
"Aw.. sakit bodoh,"pekik Rio memaki Darwin.
"Jangan konyol,"pekik Amel.
"Sudah tinggalkan saja kekasihmu itu, ayoo kita kesana,"ajak Amel menggandeng Tiwi menjauhi kedua pria itu.
"Em kau berhasil mengajak Tiwii keluar, wae.. dia nampak mempesona kawan,"puji Rio.
"tentu saja, itu pasti,"ucap Darwin percaya diri.
"Dia adalah bunga Kawan, jika dirawat dengan benar dia akan tumbuh undah, cantik dan mempesona,"ucap Darwin menatap Tiwi penuh.cibta meski dari kejauhan.
"Hahaha, kau pandai membual kawan, jadi bagaimana reaksi ibumu?"tanya Rio sambil mengajak Darwin mengambil minuman yang tersedia di meja meja.
"Ah ebtahlah, tentu dia marah. Dan aku rasa seseorang sudah mengancam Tiwi, pasti itu. Ah ibu kadang dia keterlaluan,"maki Darwin kesal.
"Hei jangan begitu, dia juga ibumu. Kau tahu semua untukmu juga,"ucap Rio mengingatkan.
"Entahlah, dia berlebihan bagiku, memang aku sudah mau menikah apa? sampai dia harus bersikap begitu, Tiwi pacar pertamaku, kau tau itu kan Rio?"tanya Darwin.
Rio mengangguk.
"Ah sudahlah, jangan merusak pesta dengan membicarakan ibuku,"ucap Darwin.
"Ya baiklah, tapi jaga jaga saja kawan, aku tak mau kau malah mendapat masalah, itu saja. Em pula kau tak berniat ke Amerika dalam waktu dekat bukan?"canda Rio mengingatkan ancaman ibunya.
"Hei hei Rio, hati hati kau, jangan seperti Nyonya Kenia ya, aku ingatkan kau!"pinta Darwin pura pura marah.
"Kau tahu, paman Philip sangat ketat, rasanya bernafas pun akan sulit jika berhadappan dengannya. Entahlah. Paman terlalu menakutkan. Meski begitu aku menghormati dirinya, makanya aku patuh. Tapi kurasa semua anggota keluarga ini memang menyeramkan, suka mengatur, ah nasibku,"y Darwin pura pura sedih.
"Jangan konyol, semua orang mau jadii dirimu Darwin. Kau membuat orang lain menginginkan posisimu, kau tahu itu?"ucap Riio.
"Apa itu juga kau?"tanya Darwin curiga.
"Jangan gila, secuil pun tak ingin aku seperti mu, kau pria membosankan,"ucap Rio pura pura marah.
Darwin tertawa lebar.
"Hei apa yang kalian lakukan, lombanya sudah akan dimulai, nama kita dari tadi sudah dipanggil,"ucap Amel mengcewer telinga dua pria yang asyik sendiri itu.
"Hei lepaskan,"ucap Riii dan Darwin bersamaaan.
Anel merepaskannya lalu menarik tangan keduanya naik kepanggung.
Lomba pertama adalah lomba dansa, lalu uji kekompakan dankemistri, lalu terakhir lomba pria teromantis.
Tiwi dan Darwin melakukannya dengan baik saat uji kemistri dan kekompakan, Tiwi dan Darwin sama sama tahu kesukaan masing masing, kebiasaan dan semuanya. Padahal mereka baru jadian.
Darwin bahkan kembali mengatakan cinta pada Tiwi didepan semua orang, membuat seluruh wanita patah hati dibuatnya. Karena Darwin dengan jelas menembak Tiwi dan mengumumkan jika mereka berdua resmi pacaran sejak siang kemarin.
Namun, Tiwi gagal di lomba dansa, Tiwi tak terbiasa. Aakibatnya kakinya tersandung gaun dan terjatuh.
Beruntung dengan sigap, Darwin memegang tubuh Tiwi, hingga Tiwi tak benar benar terjatuh. Darwin malah mendapat pujian dan tepuk tangan riuh dari pada penonton acara.
jam sepuluh malam, pengumuman pemenang. Tiwi tak berharap banyak. Begitu juga Darwin.
"Hei jangan tegang apalagi cemas. Kita sudah melakukannya dengan baik. Tak usah khawatir jika tidak menang.kau sudah menjadi pemenang di hatiku Tiwi,"puji Darwin tersenyum sambil mengecup mesra tangan Tiwi.
Tiwi tersenyum.
"Aku kira kau sangat ingin piala kemenangan itu Darwin,"ucap Tiwi.
Darwin menggeleng.
"Aku sudaj memenangkan hatimu sayang, apalagi,"ucap Darwin menggombal.