Terima atau Tidak

1587 Kata
Kebodohan seorang perempuan adalah lebih suka mengejar seorang laki-laki yang membuatnya menangis, dari pada yang membuatnya tersenyum manis. Sudah hari ke tiga keberadaan Elva di Bali namun belum juga diketahui oleh keluarganya. Gadis itu masih belum siap jika beribu pertanyaan akan diajukan oleh sang Mama keponya itu. Untuk itu, Elva memilih mengulur waktu. Mencari kesibukan lain sebelum dia siap untuk menjelaskan semuanya. Mengapa empat tahun lalu dia tiba-tiba saja pergi tanpa kata. Meninggalkan segala tanya keluarga yang sampai kini belum dijelaskan olehnya. Apalagi bagi seorang Elva yang minim pengalaman tentang cinta, pastinya akan susah menjelaskan semuanya. Tentang cinta pertamanya yang berakhir dengan tangis air mata. "Oh.. Hai.." sapa Dimas yang kaget ketika membuka pintu kamarnya. Begitu pun dengan Elva. Gadis itu bukan fokus ke wajah Dimas, laki-laki yang beberapa hari ini menganggunya, melainkan Elva sibuk memperhatikan pintu yang kalau tidak salah pernah tergantung sesuatu di sana. "Kenapa?" tanya Dimas bingung. Tubuhnya berbalik, melirik apa yang menjadi fokus Elva saat ini. "Lo lihat apa sih?" ulang Dimas bingung. "Lo di kamar itu?" "Iya," "Sejak kapan?" tanya Elva kembali. Wajah Dimas mengingat-ingat kapan dia mulai memesan kamar di sini. Karena seingat dia baru beberapa hari yang lalu. "Bukannya bareng lo yang waktu di lobby," sahut Dimas santai. Kening Elva langsung berkerut dalam. Walau sedikit takut untuk menebak namun Elva yakin kali ini pikirannya benar. Ternyata Dimas sedang honey moon di Bali. Tapi rasanya Elva belum pernah melihat wajah istrinya. Karena yang Elva sadari Dimas selalu tidak ada di kamar. Dia pergi seorang diri tanpa ada yang menemani. "Kok lo aneh sih," tegur Dimas dengan mimik wajah takut. "Mungkin gue yang salah," gumam Elva perlahan. Dia mulai melangkah pergi disusul dengan langkah kaki Dimas di belakangnya. Laki-laki itu terlihat begitu santai dengan sebuah kaca mata bertengger dihidung bangirnya. Sambil bersiul-siul kencang, Dimas melirik Elva yang terus saja menunduk. Membaca semua buku ditangannya. "Buku apa?" tegur Dimas merasa bosan karena pintu lift tak kunjung terbuka. Elva tidak menjawab. Dia hanya memperlihatkan cover depan buku tersebut yang langsung membuat Dimas diam. "Ahh.. Judulnya sesuai dengan jenis lo. Perempuan. Kenapa nggak baca buku laki-laki? Bukannya dalam hidup harus mengerti satu sama lain," ungkap dimas dengan segala keingintahuannya. Laki-laki ini memang tidak bisa diam sedetikpun. Ada saja kata yang keluar dari bibirnya. Yang rasanya membuat Elva ingin mencabut batrei laki-laki itu. "Apa? Kan gue cuma bicara fakta. Kok mau dimengerti tapi nggak mau mengerti orang lain," ucap Dimas kembali. "Oh iya, gue kan hutang rokok sama lo. Gimana kalau hari ini gue ganti sama minum. Mau?" "Gue rasa lo pintar mengerti keadaan. Dimana lo bicara panjang lebar, namun lawan bicara lo diam saja. Itu tandanya dia nggak mau bicara sama lo," balas Elva dengan begitu tepat sasaran. Perempuan itu memilih masuk ke dalam lift yang terbuka. Sedangkan Dimas masih diam saja di tempat dengan wajah penuh pemikiran dalam. "Mau masuk nggak lo?" tanya Elva hingga membuat Dimas sadar dari lamunannya. Di dalam lift, Dimas memilih diam. Memperhatikan wajah Elva dari pantulan pintu lift. Bibirnya sudah gatal ingin mengeluarkan banyak kata. Namun dia kunci rapat-rapat. Perempuan seperti Elva berbahaya baginya. Akan tetapi tepat pintu lift terbuka pada lobby, kini Elva yang diam di tempat. Mimik wajahnya tak terbaca sedikitpun hingga membuat Dimas menebak-nebak. "Gue nggak jadi keluar," ucap Elva pelan. Dimas tidak membalasnya. Hingga pintu lift tertutup kembali kedua orang ini masih sama-sama diam. Elva diam dengan perasaan anehnya. Melihat seseorang yang sejatinya tidak ingin dia lihat. Sedangkan Dimas diam karena mencoba mencari tahu seperti apa sosok Elva yang sebenarnya. "Kok nggak gerak?" gumam Elva tiba-tiba. "Itu karena lo nggak tekan tombol mana pun." balas Dimas. Mimik wajah itu berubah galak. Dia menekan tombol lift kuat-kuat dengan tatapan tajam ke arah Dimas. "Lo kenapa nggak turun?" "Lo sendiri kenapa nggak turun?" "Gue ada yang ketinggalan di kamar!!!" bohongnya. "Gue juga sama kalau gitu," sahut Dimas tak mau kalah. "Baru lo, cowok ngeselin yang gue temui dalam hidup gue. Nggak ada jaim-jaimnya di depan cewek," Dimas tersenyum, saatnya dia mengoceh segala macam pikirannya kembali. Karena baru saja Elva mengeluarkan lebih dari tiga kata dalam satu tarikan napas. "Terima kasih. Gue anggap itu pujian. Tapi gue agak ragu. Emangnya lo cewek ya? Cewek itu banyak omong. Bukan malah diem kayak sapi ompong." kekeh Dimas. Namun anehnya Elva tidak terpancing, Dimas yang sudah yakin Elva akan mengamuk nyatanya tidak. Tepat pintu lift tersebut terbuka pada lantai kamar mereka, Elva memilih pergi meninggalkan Dimas dengan wajah bodohnya. "Percuma lo jadi cewek kalau nggak bikin telinga cowok sakit," gumam Dimas setelah membiarkan Elva kembali ke kamarnya. Laki-laki itu memilih turun kembali ke bawah. Membiarkan Elva dengan keanehannya seorang diri. *** Tarikan napas yang kesekian kalinya terdengar. Memenuhi kamar luas yang kebetulan Elva sewa entah untuk berapa lama. Raut wajahnya sudah tidak begitu bersahabat. Dia tidak menangis. Tetapi dia tahu hatinya tengah menangis. Apalagi baru saja dia melihat laki-laki itu berjalan dengan santainya di lobby. Harusnya Elva tidak kabur dan menghindar dari semuanya. Karena untuk apa dihindari, laki-laki itu saja tidak pernah tahu perasaan yang dirasakan Elva padanya sejak 8 tahun lalu. "Gue kabur ke ujung dunia pun. Kalau Tuhan maunya gue ketemu dia, pasti nggak akan bisa dihindari," gumam Elva. Gadis itu terdiam sejenak. Dia berusaha menenangkan hatinya yang masih saja meneriakan satu nama. Nama yang selalu hangat ditelinganya. Nama yang tidak akan pernah padam walau sudah dimakan oleh waktu. "Kita seperti dua orang bodoh. Kau yang tidak tahu, dan aku yang tidak mau kau ketahui." Gumamnya perlahan sembari mengusap sakit dihatinya. Sakit hati yang kadang tak pernah bisa diterima oleh manusia. Padahal sudah sejak awal kita semua tahu, bila siap untuk jatuh cinta maka harus siap sakit hati. Karena sepelan apapun kau jatuh, pasti akan merasakan sakitnya juga. Dan pastinya akan meninggalkan bekas. Jangankan jatuh karena hati, sebuah permen yang jatuh saja akan meninggalkan jejaknya. Begitulah yang kini Elva rasakan. Kehidupan cintanya saja bahkan tidak pernah dimulai. Namun rasa sakitnya sudah lebih dulu menjalar keseluruh hatinya. Membakar semuanya hingga dia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apa harus bertahan, atau harus rela mengikhlaskan semuanya terbakar. "Kasih tahu gue, apa yang harus gue lakukan?" Gumam Elva pelan. Sesaat setelah dia mendesah kembali, sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselnya. Nomor yang tidak dia kenal bersarang di sana. Membuat sedikit tanda tanya di hatinya. Apalagi kata-kata di dalamnya membuat Elva yakin, ini adalah orang gila yang salah mengirimkan pesan. Masa iya, dia diminta untuk menikah dengan sebuah pesan singkat. Yang bahkan dia tidak kenal siapa. "Perempuan itu akan selalu minta diperhatikan seperti anak kecil. Walau betapapun dia menua. Maka ijinkan aku untuk memperhatikanmu di sepanjang hidupku." Tanpa pikir panjang, Elva langsung menghapusnya. Bagi Elva sesuatu yang tidak penting untuk apa dipikirkan. Pikirannya sudah terlalu penuh untuk urusan keluarga. Sehingga tidak ada waktu untuk sebuah pesan singkat yang menyasar begitu saja. "Tolong jangan diabaikan pesan ini. Jika kau anggap aku penipu, setidaknya aku tidak merengek minta dibelikan pulsa olehmu." "Di sini mungkin aku terlihat konyol memintamu menjadi teman hidupku. Namun asal kau tahu, laki-laki konyol sepertiku memiliki cara tersendiri untuk membuat perempuannya menjadi begitu spesial," "Dari pada kata yang tak sempat terucap ini berubah menjadi air mata. Alangkah baiknya, aku memulainya dengan sebuah tanya. Sudikah dirimu menjadi istriku?" "Jangan balas melalui pesan. Karena aku ingin melihat wajahmu yang datar hingga tak mampu keterjemahkan." "Aku menunggumu di depan. Buka pintu, dan katakan I Do. Maka kau akan menjadi milikku," Banyak sekali pesan dari nomor yang sama dengan tujuan yang sama masuk ke dalam ponsel Elva. Bukannya senang, gadis itu memilih mimik wajah seram. Makin ke sini manusia semakin gila. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba berkata ingin menikahinya. Dia saja yang mencintai dalam diam selama delapan tahun tidak berani mengambil langkah gila. Sedangkan ini? Siapa dia berani meminta Elva menjadi istrinya. Hingga sekian jam berlalu, Elva masih tidak sadar ada seseorang yang setia berdiri di depan pintu kamarnya. Menunggu dengan setia tanpa cacian untuk sang gadis. Entah mengapa dia melakukan ini. Tujuannya satu, dia penasaran dengan Elva. Bagaimana Elva bisa begitu berbeda dengan perempuan lainnya. Perempuan-perempuan yang sudah sekian tahun dia tinggalkan. Perempuan yang sama sekali tidak diliriknya lagi karena satu hal. SAKIT HATI. Namun entah mengapa dengan Elva, dia ingin menjadi sosok yang terdekat. Sosok yang bisa membuatnya menjadi banyak bicara. "Lo...!!!!" Ucap Elva kaget ketika dia membuka pintu kamarnya. Sosok tinggi menjulang itu malah tersenyum bahagia. Melihat wajah Elva yang tidak ada bengkak-bengkaknya. "Kirain nangis," kekeh Dimas geli. "Nangis? Nangis kenapa?" "Nangis karena dilamar sama gue," balas Dimas sesantai mungkin. "Jadi, tadi..." "Terima atau tidak?" Tanya Dimas langsung pada tujuan. Laki-laki itu tidak memberikan Elva jeda untuk berpikir. Karena Dimas tahu, sejak tadi Elva sudah berpikir di dalam kamarnya. "Terima atau tidak?" Ulang Elva. "Iya, masalah lamaran tadi." "Gila," gumam Elva. Keadaan yang minim cahaya buat Elva menebak-nebak apa yang dibawa Dimas di belakang tubuhnya. "Special flower for special women," Setangkai bunga Dimas serahkan pada Elva. Gadis itu diam saja. Menerima dengan raut wajah tak terbaca. "Lo gila kalau mikir gue terima lo setelah ambil bunga ini." "Gue nggak bilang begitu, itu semua lo yang bilang kan," sahut Dimas santai. "Tapi gue serius, lo siapa sih bisa segila ini? Ngajak nikah tiba-tiba hanya karena penasaran sama gue." "Iya emang gue udah gila. Tapi setidaknya gue bukan gila karena nidurin lo, tapi gue gila ngajak lo untuk sesuatu yang baik. Bukan hanya untuk lo... Tapi gue juga.." Ucapnya melemah diakhir. "Maksud lo?" Tanya Elva mulai penasaran. "Lo akan tahu setelah terima semuanya, dan kasih ijin gue jadi bagian hidup lo," balas Dimas kembali. Bibir Elva berdecak kesal. "Sinting," "Lo bilang apa?" "Gue bilang lo sinting!! Pernikahan bukan sebuah permainan. Paham nggak lo?" Ucap Elva penuh penekanan. Ketika dia hampir saja mengembalikan bunga yang tadi Dimas kasih, laki-laki itu bergumam pelan namun mampu menyentil hati Elva yang terdalam. "Kadang kehidupan baru dimulai ketika sesuatu yang gila lo pilih sebagai langkah awalnya," gumam Dimas pelan. Dia tidak pergi. Namun rasanya hati Elva yang ingin berlari. Menghindari sebuah kenyataan yang berada di depan matanya. Bahwa hidup tidak hanya berlaku yang itu-itu saja. Kadang kita perlu lebih berani memilih jalan hidup kita sendiri. ***** Continue.. Jangan lupa taplovenya dan dikomen juga. Biar kalian jadi follow cerita ini Jangan lupa follow jejaring sosialku Wattpad : Shisakatya Instagram : Shisakatya Youtube : Shisakatya Twitter : Shisakatya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN