Di sebuah rumah yang terlihat gelap, Sanas mengurung dirinya di dalam kamarnya sendiri dengan wajahnya yang masih syok. Bayangan kecelakaan itu terus berputar di kepalanya seperti film yang sedang di putar. Membuatnya terus menangis sambil memeluk kedua lututnya sendiri. "Kenapa Key?" Sanas menangis meraung-raung didalam kamarnya sendiri, kesunyian kehampaan meliputi hati dan kamar itu. Bayangan saat Keysa dan dirinya masih tertawa bersama. "hikz.......hikzzz........hikzzzz.......... maafin gue.....hikzzzzzzzzz." jerit tangisnya sangatlah memilukan. Selama ini hatinya sudah dikelabuhi oleh rasa iri dan dengki. Hatinya sudah dibutakan oleh kecemburuan. Sekarang yang tersisa hanya penyesalan yang sangat besar. "hikz.....hikzzzzzzz......hikzzzz....." Hatinya terasa amat sangat sakit, seaka

