“Nggak!” jawab Mentari dengan ketus. Arion menarik napas dalam-dalam, dia menggelengkan kepalanya pelan. “Kamu lagi marah, ya? Tadi Olivia datang kesini?” “Hemm.” Mentari masih tidak mau menoleh sedikitpun pada Arion. “Aku sama sekali nggak tahu kalau dia mau kesini, dia nggak bilang apa-apa sama aku.” “Terus, memangnya kamu berharap dia bilang apa sama kamu? Pengen banget ya ngobrol sama dia?” “Bukan begitu maksudku, Mentari. Cuma yaa … kalau dia bilang kan, aku akan jawab nggak usah dikasih oleh-oleh itu, lagipula kemarin kan sudah aku tolak. Atau kalau dia memaksa bisa dikirim paket saja, ke kantor saja bila perlu.” “Kalian sudah sangat dekat, kan? Sampai-sampai dia tahu alamat rumah mama, alamat rumah ini, alamat kantor. Atau jangan-jangan ….” Mentari membalik badannya dan menata

